43. seulha.. konsultan dadakan

176 25 11
                                        

Ji Hoo menunduk, jarinya mengusap pot bunga di tangannya dengan gerakan yang mekanis, seolah mencari sesuatu untuk dipegang. Tatapannya suram, dan kata-kata yang keluar dari bibirnya terdengar lebih dalam dari yang Seulha duga.

“Kamu tahu bagaimana rasanya menjadi beban bagi orang yang kamu cintai?” Ji Hoo bertanya, suara itu terasa kosong, seperti ada beban berat yang tak bisa dilepaskan. "Cinta dalam konteks apa saja". Ia memperjelas.

Seulha terdiam, tidak menyangka Ji Hoo akan melontarkan pernyataan seperti itu. 'Jihoo...dia benar-benar buntuh bantuan, diasekarat sekarang, tapi dia tidak tau bagaimana caranya'. Ia menatapnya sejenak, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja keluar. Dalam hati, Seulha bisa merasakan ketulusan yang tersembunyi di balik pernyataan Ji Hoo, meskipun ada keputusasaan yang mendalam.

Ji Hoo melanjutkan, suaranya semakin lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri lebih dari pada pada Seulha.
“Aku tak bisa lakukan apa pun selain mencintai wanita karena kebiasaan...” Dia mengucapkan itu dengan nada rendah, terdengar seperti dia mengungkapkan kelemahan terdalamnya.

Seulha merasa sekejap terdiam, ada rasa cemas yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya. Sesuatu dalam suara Ji Hoo membuatnya merasa bahwa pria ini sedang berjuang melawan dirinya sendiri, berjuang melawan perasaan yang mungkin tak bisa dia kendalikan.

Ia mengamati Ji Hoo dalam diam, berpikir keras tentang bagaimana harus merespons, namun tidak ada kata-kata yang cukup kuat untuk menggambarkan apa yang dirasakannya. Dia merasakan, untuk pertama kalinya, bahwa mungkin Ji Hoo, meskipun sering terlihat tenang dan terkendali, juga menyimpan perasaan yang begitu berat di dalam dirinya.

Dengan suara yang lebih lembut, Seulha akhirnya membuka mulut.
“Kamu tidak seharusnya merasa seperti itu, Ji Hoo.” Suaranya lebih empati dari sebelumnya, meskipun tetap terjaga. "Tidak ada yang salah dengan mencintai, bahkan jika itu karena kebiasaan. Tapi, jangan sampai kamu merasa tak ada pilihan lain dalam hidupmu. Terkadang, kita hanya perlu... mengerti diri kita sendiri dulu."

Ji Hoo mengangkat kepalanya, menatap Seulha sejenak dengan mata yang kosong, namun ada sedikit kehangatan yang mulai muncul di balik tatapannya. “Aku... masih mencari apa yang benar-benar aku inginkan.”

Seulha menatapnya dengan empati yang mendalam, seolah bisa merasakan perjuangannya. “Mungkin, jawabannya ada di dalam dirimu sendiri, Ji Hoo. Kamu hanya perlu waktu untuk menemukannya.”

Ji Hoo terdiam sejenak, kata-kata Seulha menggema di pikirannya. Ia menundukkan kepalanya, seolah mencoba mencerna makna di balik ucapan itu. Dalam keheningan yang menggantung, angin sepoi-sepoi membawa aroma musim semi yang menenangkan.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” gumam Ji Hoo akhirnya, suaranya nyaris seperti bisikan. Ada kelelahan dalam nada bicaranya, tapi juga secercah harapan yang baru saja menyala.

Seulha menarik napas dalam-dalam, memutuskan untuk mengambil langkah lebih tegas. Sebagai seseorang yang selalu melihat potensi dan peluang dalam situasi apa pun, dia tidak ingin Ji Hoo terjebak dalam kebimbangan lebih lama.

“Kalau begitu, mulai dari sesuatu yang kecil. Satu langkah kecil saja, Ji Hoo,” ucapnya sambil mencondongkan tubuh sedikit ke depan, sorot matanya tajam namun tidak menghakimi. “Pikirkan apa yang membuatmu merasa hidup. Sesuatu yang membuatmu lupa waktu, yang memberi arti pada hari-harimu.”

Ji Hoo menatapnya kembali, kali ini dengan mata yang lebih hidup, meskipun masih diselimuti keraguan. “Tapi bagaimana kalau aku salah? Bagaimana kalau itu bukan yang aku cari?”

Seulha tersenyum tipis, tidak sepenuhnya lembut, tetapi penuh keyakinan. “Kesalahan itu bagian dari perjalanan. Bahkan kalau itu bukan jalan yang tepat, kau tetap belajar sesuatu. Tidak ada waktu yang benar-benar terbuang jika kau terus mencoba.”

Ji Hoo menghela napas panjang, tapi untuk pertama kalinya, ada sedikit kelegaan yang terasa. Dia menyadari betapa kuatnya semangat Seulha, dan bagaimana energinya seolah mampu menular padanya. “Kau membuat semuanya terdengar begitu sederhana,” katanya dengan nada setengah bercanda, meskipun matanya mulai memancarkan rasa terima kasih.

“Sederhana bukan berarti mudah,” balas Seulha cepat, bahunya sedikit terangkat seolah meremehkan tantangan yang tersirat dalam kalimatnya sendiri. “Tapi aku percaya kau bisa. Karena di balik sikap pendiam dan keraguanmu, aku tahu ada keberanian yang menunggu untuk muncul.”

Kata-kata itu menancap di hati Ji Hoo, meninggalkan kesan yang mendalam. Perlahan, dia merasa keyakinannya mulai tumbuh, meskipun hanya setitik. “Terima kasih, Seulha. Aku rasa... aku akan mencobanya.”

“Bagus,” jawab Seulha singkat, dengan anggukan penuh keyakinan. “Dan ingat, aku di sini kalau kau butuh bantuan.”

Ji Hoo hanya mengangguk, dengan senyum kecil yang nyaris tak terlihat.

"Ini" Seulha mengulurkan tangan kanannya,  jari kelingking ke Jihoo. "Ayo berteman dengan ku,  Aku akan menjadi bunga matahari dan bintang untuk mu, jadi aku tidak akan bisa meninggal mu sendirian,  apalagi saat kau kesusahan. lebih mudah bagiku membantumu."

Ji Hoo menatap tangan Seulha yang terulur dengan jari kelingkingnya. Mata Seulha penuh keyakinan, seolah menegaskan bahwa tawaran itu lebih dari sekadar kata-kata. Ji Hoo terdiam sejenak, merasakan kehangatan yang jarang ia temui dalam hubungan dengan orang lain.

“Bunga matahari dan bintang?” Ji Hoo mengulangi kata-kata itu, suaranya lembut namun penuh rasa ingin tahu. Ia menatap wajah Seulha, mencari makna di balik metafora yang baru saja ia ucapkan.

Seulha mengangguk kecil, senyumnya tulus. “Ya, bunga matahari selalu menghadap ke arah cahaya, memberikan semangat. Dan bintang... meski jauh, selalu ada di langit malam yang gelap, seperti teman yang tidak pernah benar-benar pergi. Aku akan menjadi keduanya untukmu, Ji Hoo.”

Ji Hoo menunduk sejenak, jemarinya melonggar sebelum akhirnya menyambut kelingking Seulha. Sentuhan itu sederhana, namun ada kehangatan yang tak terucap. Mereka saling bertukar senyum tipis, mengesampingkan dunia luar untuk sesaat.

Tanpa mereka sadari, tatapan Geum Jan Di, sang pemeran utama wanita, terus mengamati dari kejauhan. Meski tak mendengar percakapan di antara keduanya, Jan Di tak bisa mengabaikan bagaimana Ji Hoo dan Seulha tampak lebih akrab. Gerak tubuh mereka yang santai, tawa ringan yang sesekali muncul, dan caranya mereka tampak memahami satu sama lain membuat Jan Di diam-diam bertanya-tanya.

====

'Semoga dengan ini, konflik cinta segitiga antara Ji Hoo, Jan Di, dan Jun Pyo seperti di drama aslinya tidak akan terjadi,' pikir Seulha sambil menarik napas lega. Ia berharap perubahan kecil ini bisa memberi jalan cerita baru yang lebih damai untuk semua orang.

Ketika kembang api pertama mulai menghiasi langit malam di atas Caledonian, Seulha bergabung dengan Jan Di, Ga Eul, Jun Pyo, dua anggota F4 lainnya, serta dua gadis bule yang juga hadir di pesta kolam renang eksklusif ini. Seulha tahu pesta ini hanyalah upaya Jun Pyo untuk menarik perhatian Jan Di, membuatnya terkesan dengan kemewahan dan usaha yang berlebihan. Dan sejauh ini, sepertinya itu berhasil. Jan Di terlihat terkagum-kagum—meskipun hanya setengah hati berusaha menyembunyikannya.

Namun, sejak tadi, Seulha merasa ada sesuatu yang mengganggunya. Pandangan diam-diam Jan Di ke arahnya terasa menusuk, meskipun tidak bermusuhan. Ada sesuatu di balik tatapan itu yang tak bisa ia pecahkan. 'Kenapa sih dia terus-terusan memperhatikan aku? Fokus saja sama Jun Pyo, ya! Lagipula, aku cuma tamu di cerita ini,'batin Seulha sambil mengalihkan perhatian ke piring di tangannya.

"Lapar. Nggak sempat makan tadi." Dengan semangat yang lebih besar dari sebelumnya, ia mengambil potongan kue di depannya, memutuskan untuk mengabaikan Jan Di dan menikmati malam ini dengan caranya sendiri.

=====


Halo semua,  gimana menurut kalian dua chapter ini?

Ada kata-kata?

Seul Ha_ [Slow Up]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang