Seul-ha terbangun dengan tubuh menggigil, matanya terpaku pada langit-langit kamar yang gelap. Napasnya memburu, pikirannya penuh dengan kenangan-kenangan mengerikan yang berputar seperti film rusak. Suara-suara, jeritan, dan tragedi masa lalu memenuhi kepalanya—sebuah kecelakaan besar di jalanan Seoul, lalu gambar layaknya video beralih diikuti oleh kejadian kecelakaan yg menyebabkan kematian orang tuanya yang terjadi tepat di depan matanya. Seolah belum cukup, ia kembali mengingat kematian Sung-jin akibat penyakit yg diderita, dan bagaimana Yoona, sahabat nya kehilangan akal sehat akibat pemer***an yg direkam, rekaman yg seulha saksi kan di usia yg cukup beliau saat itu, yoona yg gila mengakhiri hidupnya sendiri di depan mata seulha Kemudian, Kyung-soo, yang tidak sanggup hidup tanpa Yoona, memilih jalan yang sama. Semua itu terjadi di depan matanya, menyisakan luka yang tak pernah sembuh.
“Hentikan… hentikan! Sudah! Aku nggak mau lagi… maaf… maaf…” Seul-ha terduduk di tempat tidur, memeluk lutut sambil menutup telinganya. Tubuhnya gemetar, dan suara kecilnya penuh keputusasaan. Kenangan-kenangan itu terus menghantam dirinya, seperti gelombang yang tak berhenti menerjang. Ia ingin melupakan, namun semakin keras ia mencoba, semakin dalam bayangan itu menguasainya.
Tangan Seul-ha terjulur ke pergelangan tangannya, melepas handband yang selalu ia kenakan. Di sana, bekas sayatan lama terlihat samar, namun cukup jelas untuk mengingatkan dirinya pada kegelapan yang pernah ia hadapi. Handband itu bukan hanya aksesoris, melainkan tameng—pelindung rahasia yang tak ingin ia tunjukkan pada siapa pun, bahkan dirinya sendiri.
Namun, malam ini, semua itu terasa sia-sia. Anxiety dan panic attack yang sudah lama tak muncul kembali menyerang, menyesakkan napasnya. Seul-ha meraba-raba meja di samping tempat tidurnya, mencari-cari botol kecil berisi obat yang dulu menjadi penyelamatnya. Sudah lama ia tak mengkonsumsinya karena lama tak ia alami lagi rasa sakit seperti sekarang yg dulu sering ia alami. Napasnya semakin berat, dadanya seakan ditekan oleh sesuatu yang tak terlihat. Pikiran-pikiran liar mulai bermunculan: Kenapa hanya aku yang selamat? Kenapa mereka harus mati? Apa aku pantas hidup? Untuk apa? Mereka semua mati karena aku. Aku? Siapa diriku ini sebenarnya?
Tangannya gemetar ketika akhirnya menemukan botol kecil berisi pil-pil sertraline yang terselip di laci. Ia membuka tutupnya dengan tergesa-gesa, mencoba menenangkan detak jantungnya yang memburu. Pikirannya terasa seperti jurang tak berdasar, dan tubuhnya seakan melawan setiap gerakannya. Ia menelan satu butir pil, berharap ketegangan yang mencekik perlahan mereda.
Seul-ha duduk bersandar di dinding kamarnya, tubuhnya masih lemah dan terasa kosong. Langsung merebahkan diri begitu efek obat Sertraline nya bekerja, membuat nya merasa perlahan ngantuk mulai menyerang.
=====
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Choi Seul-ha bersandar di motor sport miliknya, matanya tenang namun penuh kewaspadaan.
"Aku melakukan ini bukan untuk membela pelaku, kau, atau Ji-hoo," ucap Seul-ha dengan nada datar, pandangannya lurus ke depan. "Aku hanya ingin meluruskan masalah ini dengan kalian semua duduk, berbicara seperti manusia dewasa dan terdidik."