Chapter 7

54 49 2
                                        

~Kepastian~

"Tidak ada salahnya untuk memiliki harapan, tetapi penting juga untuk menjaga hati agar tidak terlalu terluka"

°
°
°

Runa melepas infus di tangannya dengan tergesa-gesa,kemudian ia berlari keluar ruangan tanpa memperhatikan ranselnya.

"Ada yang harus aku pastikan"batin Runa.

Runa berdiri di depan halte bus,dan melambaikan tangannya ketika bus datang.

Yovan memandang Runa dari kejauhan,ada rasa khawatir di dalam lubuk hatinya.

"Ingin kemana dia?"batin Yovan.

Ia ingin mendekati Runa,namun teringat akan dirinya yang diusir Runa secara tiba-tiba.

"Bukan urusan gue"putus Yovan.

Akhirnya,Runa sampai di tempat yang ingin ia datangi. Runa turun dari bus,dan tidak lupa membayarnya.

Tubuhnya berputar melihat sekeliling tempat tersebut,dimana tempat yang sering ia datangi bersama Yovan.

Tidak ada perubahan pada tempat itu,sebuah taman bermain dengan ayunan yang sering Runa mainkan,juga terdapat restoran yang sering Runa datangi bersama Yovan.

Runa tersenyum melihat kenangan manisnya,akan tetapi,kejadian itu muncul kembali di ingatannya yang membuat ia trauma.

Runa menghela napas kasar,dan memilih kembali kerumahnya.

Sesampainya di rumah,ia masih ternganga dengan rumah dan seisinya yang masih sama.

Pyar
pyar

"Dan juga,dengan suasana yang sama"batin Runa.

Ceklek

"Runa pulang".

"JIKA KAMU TERUS TERUSAN BERSIKAP SEPERTI ITU,LEBIH BAIK KELUAR SAJA DARI RUMAH INI!"teriak Illiana sambil menangis tersedu sedu.

"BAIK,AKU AKAN KELUAR,NAMUN BERSAMA ANAK-ANAKKU!"sahut Ezra.

Serpihan kaca berserakan dimana mana,Runa tidak sengaja menginjak kaca tersebut dan membuat telapak kakinya terluka hingga berdarah.

"Shh"

Runa mengunci pintu kamarnya,ia mendengarkan lagu dengan earphone. Namun,sekeras apa musik yang  ia dengar,ia masih dapat mendengarkan kedua orang tuanya yang sedang bertengkar.

Runa beranjak dari ranjang,dan menarik lacinya hendak mengambil sebuah gunting.Tetapi,aksi itu ia urungkan,"Aku ingin tahu,mengapa aku harus mengulanginya lagi"gumam Runa.

Runa melihat kearah luar jendela,kemudian ia terpikirkan sebuah rumah kosong yang ia buat markas untuk ia dan teman temannya berkumpul.

Tanpa mengobati luka di kakinya,Runa bergegas keluar dari kamarnya dengan kaki pincang.

Jarak rumah Runa dengan markasnya tidak begitu jauh,ia hanya naik taxi dan sampai dalam beberapa menit.

Sesampainnya disana,senyum Runa kembali terlihat hingga dirinya meneteskan air mata.

"Hiks hiks hiks".

Drttdrtt

Ponsel Runa berbunyi,dengan panggilan seseorang yang tidak ia kenali.

"Aku melakukan ini bukan untuk melihatmu menangis,namun aku ingin kamu merubah takdirmu sendiri".

"Si-siapa?".

Sweet loveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang