Setelah memastikan Canny sudah terlelap kembali Asa meletakkan anaknya itu di tempat tidur lalu ia beranjak menghampiri lemari pakaian.
Selesai memakai baju yang tidak terlalu mencolok, Asa kembali menghampiri Canny.
Tak terasa 1 tahun telah berlalu. Asa tersenyum bahagia karena dia telah berhasil membesarkan Canny seorang diri walaupun terkadang Asa kerepotan menghadapi sikap putri nya yang teramat hiperaktif.
"Tidur yang nyenyak ya sayang, Mami akan keluar sebentar baby jangan bangun dulu."
Asa kecup bibir Canny sebelum keluar kamar dan membiarkan pintu nya terbuka lebar. toh Asa hanya akan pergi sebentar ke bawah dan Canny baru saja tidur jadi tidak perlu khawatir anaknya itu akan hilang.
"Ughh! Sampah nya ternyata banyak sekali, tidak heran sih karena kebanyakan bekas popok Canny di dalamnya."dengus Asa melihat begitu banyak tumpukan lima kantong plastik hitam besar berisi sampah miliknya.
Meskipun berat tapi bukan berarti tidak bisa di bawa kan? Sebagai seorang ibu rumah tangga Asa tentunya harus melakukan banyak pekerjaan rumah termasuk membuang sampah dan angkat-angkat barang berat sehingga ia sudah terbiasa melakukan hal seperti ini.
Mengambil dua kantung lebih dulu lalu ia letakkan di depan pintu unit apartemen nya. Kembali masuk ke dalam lalu mengambil tiga kantung plastik tersisa dengan sekali bawa.
"Ughh.. beratnya."Asa letakkan satu kantung di depan karena tidak kuat di bawa sekaligus.
Menarik nafas sebentar lalu Asa angkat kembali dua kantung sampah yang ia bawa tadi. berjalan menuju lift untuk membuang sampah tersebut secara bergilir karena tidak mungkin Asa membawanya sekaligus.
Selain berat kantung plastik itu sendiri, juga sampah itu teramat banyak sampai Asa lupa menutup pintu dan membiarkan pintu nya tetap terbuka.
Asa pov.
Belum 24 jam tapi banyak sekali kejadian hari ini. Dari mulai Canny yang jatuh dari balkon sampai aku bertemu tetangga menyebalkan.
Lalu datang para saudara ku ingin mengajak ku pulang. Di tambah Canny yang membentak ku untuk pertama kalinya.
Cukup sakit hati sebenarnya tapi tak apa, aku harus memaklumi nya karena Canny masih kecil. Kedepannya aku harus lebih tegas pada anak itu agar tidak di biasakan.
Ting
Pintu lift terbuka dan aku keluar tak lupa dengan dua kantung sampah yang ku bawa.
Baru beberapa langkah aku berjalan langkah ku terhenti kembali. Itu di karena kan tak jauh dari ku aku melihatnya. Melihat seseorang yang sangat ku kenali, seseorang yang sudah menyakiti ku. Dan seseorang yang sangat tidak bertanggung jawab.
Asahi, dia disini bersama seorang wanita.
Aku memang tidak melihat wajah wanita itu tapi cukup membuat ku sadar bahwa pria brengsek itu memang tidak pantas untuk di maafkan.
Dan aku doakan wanita itu jadi perawan tua dan semoga wanita itu tidak akan pernah bahagia di sepanjang hidupnya.
"Jadi begini ya sifat asli mu Asahi? Aku begitu bodoh karena tertipu dengan mulut manis mu dulu. Beruntung Tuhan masih berbaik hati padaku dengan menjauhkan ku dari pria brengsek seperti mu."tangan ku terkepal erat namun air mata menetes.
"Tidak! Aku tidak boleh menangis seperti ini. lebih baik aku hampiri dia untuk memberi pelajaran karena bagaimanapun juga dia telah menghancurkan hidup ku."baru selangkah aku berjalan tangan ku di tahan oleh seseorang.
Saat ku tengok rupanya dia tetangga ku yang sok ke'gantengan.
"Lepaskan tangan ku."sentak ku namun ia menggeleng keras.
