"RORAAA..."Ruka menghampiri Rora yang baru saja di tembak oleh Asahi.
"Ra? Ra kakak mohon bertahan ya? Kakak akan lepasin kamu."Ruka menangis melihat wajah Rora yang kesakitan.
"Kak~ sshh.. aku udah gak kuat, aku gak kuat kak ini sakit banget."Rora meringis menahan sakit bahunya tertembak.
Rora masih beruntung peluru itu mengenai bahu kiri nya karena tadi Genta sempat mengarahkan pistol itu ke arah jantung Rora jika saja Pharita tidak bertindak dengan cepat untuk mengalihkan arah pistol itu ya walaupun hasilnya tetap sama saja Rora tertembak oleh Asahi.
"Kamu bertahan Rora, kakak akan melepaskan mu."
"AKHHHHH!! JANGAN SENTUH AKU GENTA, JANGAN!"tiba-tiba Pharita menjerit dan fokus Ruka teralihkan oleh suara adik pertama nya itu.
"Pharita?"kedua pupil mata Ruka membesar ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri dimana Genta berusaha melecehkan Pharita.
Tau apa yang di pikirkan Ruka, Rora menatap Kakak nya itu. "Kak, selametin Kak Rita dulu aja gak apa-apa aku masih kuat kok."
"Kamu yakin?"Ruka memastikan sekali lagi karena Rora juga butuh bantuan saat ini dan hanya dia yang bisa di andalkan sekarang.
Rora mengangguk pasti. "Iya Kak, aku masih bisa bertahan kok. Kakak tolong Kak Rita saja selamatin Kak Rita Kak, jangan sampai kejadian dulu terulang lagi di keluarga kita."Rora memohon dengan sangat.
Ruka mengangguk mengerti lalu ia mengusap pelan pipi Rora sambil berkata
"Kakak janji akan lepasin kamu setelah ini dan perbaiki semuanya. Kamu harus kuat ya Ra? Kakak tinggal dulu."Rora sekali lagi mengangguk dengan senyum tipis berharap kali ini Ruka benar-benar bisa di andalkan.
"Semoga semuanya selamat."lirih Rora sebelum ia kehilangan kesadaran.
_
_
_
Tak jauh dari posisi Rora, dua kanibal yakni Rose dan Lisa akhirnya datang setelah seribu abad mereka beradu argument.
"Ini semua gara-gara lu jeh, kalo lu gak ngajak gue ribut kita pasti gak bakalan kehilangan Ketua."Lisa menatap sebal kembaran nya.
"Lah! Ini bukan sepenuhnya salah aku ya Lisa, kamu yang salah."sepertinya Rose masih menaruh dendam pada adiknya.
Lisa yang sudah lelah berdebat dengan Rose mulai terpaku saat melihat seorang gadis terikat di pohon.
"Jeh, itu Rora kan? Salah satu orang yang di cari Ketua Canny."Lisa menunjuk ke arah Rora dan Rose ikut terkejut melihat kondisi gadis itu.
"Bener Lis, itu juga si beban ada disini mau nolongin adiknya yang mau di anuin sama cowok burik itu."Rose menunjuk ke arah Pharita dan yang lain.
"Lis, lu bantu si beban biar gue yang selametin gadis panda itu."Lisa mengangguk lalu berlari ke arah Pharita dan membantu Ruka menghajar Asahi.
Melihat Lisa sudah beraksi Rose tak tinggal diam, dia juga ikut beraksi menghampiri Rora dan mulai melepaskan ikatannya.
Bruk
Tubuh lemah Rora terjatuh dalam dekapan Rose dan di baringkan dengan sangat pelan di tanah.
Rose mengamati tubuh Rora dari atas kepala sampai kaki lalu mengangguk mengerti akan apa yang harus ia lakukan.
"Luka nya cukup parah, semoga dia bisa bertahan. Tenang lah gadis manis, aku sudah datang dan akan menyelamatkan mu."gumam Rose membelai lembut pipi Rora yang dingin.
Baru setelah nya ia mengeluarkan beberapa alat medis di tas besar yang selalu ia bawa kemanapun.
_
_
_
"ASAAAAAAAA... CANNY... DIMANA KALIAN?"suara Sana menggema di seluruh hutan membuat Asa mengeratkan dekapannya pada Canny.
"Mami.. apakah kita akan mati?"tanya Canny mendongak menatap ibunya.
Mereka saat ini tengah bersembunyi di balik semak-semak agar tidak ketahuan oleh Sana.
"Baby jangan berisik ya? Mami jamin kita gak akan mati jika kita tidak ketahuan."Canny mengangguk sambil mengeratkan pelukannya pada sang Mami yang terasa lebih hangat dari biasanya.
"Hangat! Canny suka pelukan Mami."batin Canny tersenyum menikmati momen kebersamaan nya dengan sang Mami yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi.
"Kemana mereka pergi? Jika Asahi tau aku pasti akan di marahi olehnya."ucap Sana tepat di sebelah semak-semak tempat persembunyian Chisa.
Mata Canny sudah melotot takut ketahuan, tapi Asa berusaha menenangkan putri semata wayangnya untuk tetap tenang dan tidak bersuara.
Ketika melihat tidak ada kehidupan di sekitarnya Sana pergi berusaha mencari keberadaan Asa dan Canny. Setelah di rasa Sana sudah tidak ada dan tidak terlihat lagi , Asa dan Canny keluar dari tempat persembunyiannya namun siapa sangka sebuah pistol tiba-tiba sudah berada di belakang kepala Asa.
"Ketemu kalian."ucap Sana bersmirk.
"Mami.. itu Tante Sana."lirih Canny ketakutan melihat raut wajah Sana begitu ingin membunuh mereka.
Canny tidak takut mati sebenarnya, tapi melihat secara langsung pistol asli berada di belakang kepala sang Mami membuat Canny takut pada Sana. Takut jika Sana menarik pelatuk nya sekali saja Mami nya bisa mati detik ini juga di hadapannya.
"Kak Sana, aku akan menyerahkan diri tapi aku mohon biarkan Canny pergi dari sini."mohon Asa membuat Sana terbahak-bahak.
"Hahaha kalau itu sih tanpa kau minta juga akan aku lakukan Asa. Asahi sudah berpesan padaku jika kau tiba-tiba datang mengacaukan rencana kami maka aku di perintahkan untuk membunuh mu. Dan tentu saja Canny akan ku biarkan hidup karena dia adalah harta Karun kami."Asa menghela nafas panjang lalu kembali bersuara.
"Aku tidak mengerti mengapa Kak Sana sangat patuh pada Asahi? Si bajingan yang sudah jelas-jelas tidak pantas mendapatkan apapun lagi."
"Ck, bajingan yang kau bilang itu adalah orang yang paling aku cintai Asa! Kau tidak tau saja sebanyak apa pengorbanan ku untuk bisa kembali bersama nya."
"Kak~ aku tidak akan ikut campur jika Kakak ingin kembali pada Asahi. Tapi tolong lepaskan kami."
"Hahaha TIDAK AKAN! sekarang cepet keluar."dengan kasar Sana mendorong Asa untuk keluar dari semak-semak.
Asa yang tidak siap terjatuh bersamaan dengan Canny. Tapi setelah nya ia membantu Canny bangun terlebih dahulu dan tersenyum menatap mata bulat Canny yang berkaca-kaca.
"Mami endak apa-apa?"
"Mami gak apa-apa sayang. Sekarang tutup mata dan telinga baby ya?"
"Untuk apa Mami?"
"Sudah tutup saja."tanpa membantah lagi Canny menutup mata dan telinga nya dan Asa tersenyum haru melihat betapa Canny nurut akan ucapannya.
"Mami senang kamu nurut sama Mami sayang, walaupun.. sedikit terlambat dan dalam kondisi seperti ini."batin Asa senang akhirnya dia bisa membuat Canny patuh.
Sana berdecak sebal melihat drama antar ibu dan anak di hadapannya. Dengan kasar dia menarik Asa untuk bangun dan membiarkan Canny berjongkok disana.
"Ayo bangun!!"Sana menarik Asa lebih jauh dari Canny tapi sebelum benar-benar jauh Asa mendorong Sana hingga wanita itu terjatuh lalu berlari ke arah Canny.
Bruk
"AKHHHHH!"Sana terjatuh dan tidak terima akan perlakuan kasar Asa.
Wanita itu menggeram marah dan mengarah kan pistol nya pada Asa.
DOOORRR
Bersambung
Mari kita hitung mundur 😂
