Asa telah tiba di tempat yang ia tuju lalu pandangan nya mengarah ke mobil Pharita yang terparkir tak jauh dari posisinya.
"Itu mobil Kak Pharita, berarti pesan itu benar adanya, Canny benar-benar dalam bahaya saat ini."batin Asa mengkhawatir kan nasib putri nya.
"Anda yakin ingin turun disini Nona?"tanya Supir Taksi yang Mengantar Asa.
"Iya, saya turun disini Pak. Terimakasih sudah Mengantar saya dan ini uang nya."supir taksi itu menerima uang dari Asa dan membiarkan ibu satu anak itu keluar dari taksi.
Memandangi kemana arah yang di tuju Asa lalu supir taksi itu menghubungi seseorang.
"Lapor Tuan, Nona Asa memasuki Hutan sendirian."
"__"
"Baik, saya akan mengikuti beliau sesuai arahan anda."sang supir taksi memutuskan sambungan telepon nya lalu memasukkan kembali ponsel nya kedalam saku barulah setelah itu ia keluar menyusul Asa.
_
_
_
Ahyeon dan Rami memutuskan untuk menunggu di depan Rumah Sakit saja setelah melihat Asa sudah pergi menggunakan sebuah Taksi.
"Kira-kira Kak Asa mau kemana ya Yeon? Dia kan lagi sakit."lirih Rami sedih tak bisa mengejar sang kakak.
"Kak Asa? Kenapa jadi ngomongin Kak Asa sih? Orang Kak Asa ada di ruangannya Rami, masih tidur. hayuk kembali kesana siapa tau Canny sama Kak Rita sudah datang."Ahyeon masih mencerna apa yang terjadi sama seperti makanan yang baru saja ia makan masih di cerna oleh usus besarnya jadi kapasitas otaknya belum lancar.
Rami memutar bola matanya malas meladeni Ahyeon sama saja seperti melempar kain jala yang bolong. Percuma, hasilnya akan tetap sama yaitu kosong.
"Terserah lu aja dah Yeon, gue mah apa atuh."Rami pasrah saja dari pada situasi ini semakin rumit.
"Mending gue iyain aja dah si Ahyeon, malas bertengkar gue sama modelan Ahyeon yang kapasitas otak nya setengah."batin Rami.
_
_
_
Jauh di dalam Hutan.
Ruka ada disana menyaksikan saudaranya sedang dalam bahaya tapi dia bingung harus bertindak seperti apa untuk menyelamatkan Pharita dan Rora yang jadi sandera Genta saat ini.
Di tambah lagi ada Canny di tengah-tengah mereka, Ruka tidak mau anak itu ikut kena imbas dari perbuatannya ini.
"Genta, aku mohon lepaskan Pharita, Rora juga Canny. A-aku.. aku janji akan membayar semua hutang-hutang ku kalau kau mau melepaskan mereka."
"Hahahaha lelucon mu sangat payah Ruka. Karena apapun yang kau katakan aku tidak akan sudi melepaskan mangsa ku yang sudah jelas-jelas ada di depan mata."Genta tergelak tawa mendengar perkataan Ruka yang menurutnya sangat lucu.
Orang jahat mana yang mau melepaskan tawanan nya? Tidak ada. Kecuali jika mereka adalah sekumpulan orang-orang bodoh di Dunia ini.
"KAK! TOLONG JANGAN DENGARKAN SI BRENGSEK ITU DAN BANTU LEPASKAN KAMI."teriak Rora.
"DIAM!!"Genta berseru marah ke arah Rora lalu kembali menatap Ruka di hadapannya.
"Ruka, pilihan mu cuma 2 antara mau di pihak ku dan hutang-hutang mu lunas atau salah satu orang terkasih mu akan ku buat mati disini."tawar Genta membuat suasana semakin memanas.
"Kak! Kalau sampai Kakak turuti kemauan nya dan berpihak sama bajingan ini jangan harap aku akan memaafkan mu se'umur hidup ku."ancam Pharita menatap nyalang kakaknya.
