Bab 39

444 48 4
                                        

Asa pov.

Aku benar-benar lelah menghadapi Canny yang sikapnya semakin hari semakin tidak terkendali.

Aku bingung harus dengan cara apalagi agar anak itu mau menurut padaku.

Rasanya.. setiap kali dia berulah membuat ku sakit kepala.

Canny, putri ku. Dia adalah satu-satunya permata ku, harapan ku, cahaya ku, dan penyemangat hidup ku.

Aku tau dia berbeda dengan anak pada umumnya. dia spesial, bahkan bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa orang dewasa lakukan.

Aku memang menantang nya tadi, karena aku tau potensi yang Canny miliki. Siapa yang bilang aku tidak tahu bakat Canny? Hanya orang bodoh yang tidak bisa melihatnya.

Dia seperti Tokoh Superhero di mata ku. Sosok yang kuat, cerdas, dan kreatif dengan caranya sendiri.  Namun, dalam satu waktu dia juga bisa runtuh kapan saja tanpa orang tau.

Yang sangat di sayangkan adalah dia terjebak dalam pusaran arus yang membelenggu kesedihan dan trauma ibunya. Dan aku benar-benar mengakui hal itu.

Aku memang ibu yang payah.

Tapi, aku tau Canny adalah obat nya. Obat dari segala rasa sakit dan luka yang ku alami. Luka yang menganga ini hanya bisa di tutup oleh senyum bahagia putri ku, dan aku tidak mau kehilangan itu.

Entah apa yang akan terjadi padaku jika aku kehilangan Canny, mungkin aku akan gila dan menyalahkan semua orang karena membiarkan Canny pergi dariku.

Canny.

Sayang! Andai kamu mengerti apapun yang Mami lakukan selama ini demi kebaikan kamu nak. Mami ingin kamu bersinar di luar sana, tidak seperti Mami yang tenggelam dalam kegelapan.

Mami yakin kamu bisa membuat Mami bangga nak, walaupun dengan cara mu yang tidak biasa.

Mami percaya itu, Mami pasti dukung baby selagi itu hal baik. Apalagi jika itu bisa membuat kamu meningkatkan kemampuan berpikir dan semangat kamu sayang.

Aku sangat percaya Canny bisa melakukan nya. Karena..

Dia putri ku.

Asa pov end.


_

_


_

Malam semakin larut namun Pharita enggan untuk pulang ke rumah. Bagaimana bisa dia pulang jika rasa kesal dalam diri masih ada?

Pharita tidak mau masalahnya dengan sang kakak di ketahui para saudara nya. Cukup dia saja yang menanggung beban ini, walaupun itu tidak nyaman.

"Arrgghh... Mau mati rasanya."

"Jangan dong!"sahut seorang pria menghampiri Pharita.

Pharita terkejut melihat pria itu. "Kau? Bukankah kau pria jelek yang berani menyatakan perasaannya padaku?"

Pria itu terkekeh geli mendengar nya. "Aku tidak seburuk yang ada di pikiran kamu. Aku hanya pria biasa yang jatuh cinta dalam pandangan pertama."

"Bulshit! Di dunia ini tidak ada yang namanya cinta pandangan pertama."Pharita berdecak sebal melihat wajah pria itu semakin membuat ia kesal saja.

Pharita ingin pergi namun pria itu mencekal lengan nya.  "Mau kemana?"

"Apa peduli mu?"ketus Pharita menghentak tangan besar itu hingga terlepas sempurna.

Pharita pergi dengan rasa kesal yang bertambah, namun hal itu semakin membuat pria itu semakin jatuh cinta pada sosok Pharita.

"Aku semakin jatuh cinta pada mu, gadis manis. Jika suatu saat semesta menyatukan kita berdua aku janji akan membahagiakan mu selalu. Aku janji."

_

_

_

Bruk

Tubuh Rora terjatuh di lantai gudang yang kotor dan di penuhi banyak debu, kecoak, tikus dan sarang laba-laba.

"Bajingan! LEPASKAN GUE."Rora memberontak namun usaha percuma saja karena tubuhnya telah terikat dengan sangat kuat.

Asahi berdecak, pria itu menekuk satu lututnya lalu memegang dagu Rora dan berkata

"Aurora, andai kamu tidak mengusik ku aku pasti akan membiarkan mu tetap hidup. Tapi karena kamu berani macam-macam dengan ku aku tidak bisa membiarkan mu tetap hidup. Aku akan membunuhmu."

"GUE GAK TAKUT SANA ANCAMAN LU WALAUPUN HARI INI ADALAH HARI TERAKHIR GUA."teriak Rora membuat Asahi tersenyum senang melihat nya.

Prok prok prok

"Luas biasa, kamu tidak takut padaku meskipun aku sudah mengancam mu. Aku akui kamu adalah gadis pertama yang berani padaku, oleh karena itu aku akan memberikan mu waktu 3 hari untuk hidup di dunia ini, karena dalam 3 hari kedepan kamu akan melihat pernikahan ku dengan Pharita. Tapi tetap saja, jawaban Pharita lah yang akan menentukan apakah kau akan mati atau tidak."

Cuih

"Jangan harap! Kak Pharita tidak akan mungkin mau dengan bajingan seperti lu."Rora benar-benar kesal dengan Asahi, andai saja tangan dan kakinya tidak terikat sudah pasti ia cekik pria itu sampai mati.

"Hahahaha ouh ya? Kita lihat saja Pharita akan mau atau tidak menerima pernikahan itu setelah melihat wajah babak belur adik bungsunya ini. Kira-kira seperti apa reaksinya nanti ya?"ucap Asahi menatap Rora dengan senyum miring  membuat Rora merinding melihat nya.

"A-apa yang mau lu-- ARRGGHH!!"Rora kesakitan saat dengan sengaja Asahi menginjak kakinya sangat kuat.

"LEPASKAN Njing! AAARRGGHHH... itu sangat sakit."Rora terus mengumpat namun Asahi tidak memperdulikan kesakitan nya malah justru membuat Rora semakin sengsara.

"MATI KAU AURORA!"

BUGH

Asahi memukul kepala Rora dengan balok kayu yang ia temukan di sekitar nya membuat gadis panda itu tak sadarkan diri dengan darah yang mulai merembes keluar dari pelipisnya.

                             Bersambung

Nih, dah double up 😂

My Daughter ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang