Genta berhasil di ringkus bahkan saat ini sedang di eksekusi mati oleh Lisa, sementara Rose masih melakukan operasi darurat pada Rora.
Ruka bergidik ngeri melihat betapa ganasnya Lisa memotong-motong tubuh Genta menjadi beberapa bagian.
"JEH!"teriak Lisa menoleh kearah Rose.
"APA?"balas Rose berteriak namun pandangan matanya masih terfokus pada bahu Rora yang sedang ia jahit.
"MAU MATA GAK?"
"BOLEH! SISAIN JUGA PAHA SAMA USUS YA LIS."
"OKEH!!"balas Lisa teriak lalu menyisakan bagian untuk Rose dan Ruka yang sejak tadi memperhatikan kedua kanibal itu secara bergantian merasa mual.
"Huek, gue gak tahan sumpah! Ada ya orang makan orang begitu? Tapi.."batin Ruka menggantung kan kalimat ketika ia melihat kerakusan Lisa makan orang.
"Aku senang, senang karena si bajingan itu sudah tiada sekarang. Beruntung di detik terakhir aku tidak berpihak pada Genta atau nasibku akan bernasib seperti dirinya."Ruka meringis dalam hati melihat nasib Genta yang mati secara tragis.
"Kak.."lirih Pharita berhasil menarik perhatian Ruka.
"Kenapa hm? Riri butuh apa? Bilang sama kakak."tanya Ruka lembut dengan senyuman manis.
Tapi senyuman itu tak bisa membuat hati Pharita tenang ketika dia baru teringat bahwa Canny masih dalam bahaya.
"Kak~ Sana masih mengejar Canny. Kita harus selametin Canny kak, aku gak mau dia kenapa-kenapa."melihat kegelisahan Pharita, senyum Ruka luntur seketika.
Gadis bermata sipit itu menarik nafas dalam-dalam lalu berujar
"Kakak mengerti, tapi kali ini serahkan pada kakak saja ya? Riri disini aja sama mereka. Meskipun kedua orang itu sangat mengerikan tapi Kakak yakin mereka dapat menjaga kamu dengan baik. Soal Canny biar Kakak yang akan mencarinya."walau masih ragu dan tidak percaya seratus persen tapi cuma Ruka harapan satu-satunya yang Pharita miliki.
"Tolong carikan Canny ya kak? Aku.. aku akan menyalakan diri sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada Canny."Ruka mengangguk pasti.
"Kakak janji sama kamu Pharita, kakak gak akan pulang sebelum menemukan Canny! Jadi kamu jangan khawatir ya? Kakak pasti akan membawa Canny kembali bersama kita lagi, pegang janji kakak ini ri."Ruka mengulurkan jari kelingkingnya yang di sambut baik oleh Pharita.
"Aku percaya kakak bisa melakukannya. Karena aku tau kakak tidak seburuk yang kita bayangkan."Ruka tersenyum haru melihat betapa Pharita sangat mempercayai nya.
"Terimakasih, terima kasih sudah mau percaya dan beri kesempatan untuk kakak berubah Pharita. Kakak janji tidak akan mengecewakan kamu lagi, kakak akan tebus semua dosa kakak pada semua orang terutama sama kamu dan Asa."Pharita mengangguk dengan senyum manis, dia percaya Ucapan Ruka dapat di percaya kali ini.
"Kakak pergi ya ri? Kakak takut Sana sudah terlalu jauh membawa Canny pergi."pamit Ruka.
Pharita mengangguk sekali lagi tanpa melunturkan senyuman. "Hati-hati, aku menunggu kepulangan kalian di rumah."
Ruka tersenyum senang melihat Pharita begitu percaya padanya bahkan akan menunggu kepulangan nya nanti.
"Kakak pamit ya Rita? Jangan salahkan diri sendiri jika sesuatu terjadi pada kakak."
"Kakak kok ngomong nya gitu sih? Aku--"belum selesai Pharita berbicara bibirnya di kecup oleh Ruka.
Cup
"Kamu cerewet Pharita."ucap Ruka tanpa merasa bersalah mencium bibir sang adik.
Pharita yang kesal memukul bahu kakaknya yang kini tengah tertawa karena berhasil membuat nya malu.
