BAB 20 HIDUP ATAU MATI

23 3 0
                                        

"Tintung!!..."
Notifikasi pesan.

Berlin meminum secangkir teh hangat di pagi hari. Ia duduk di sebuah sofa. Jendelanya terbuka. Gemericik suara hujan mulai terdengar. Ia tengah menikmat suara alunan Hujan ringan yang mulai membasahi bumi. Sehingga Ia mengabaikan sebuah pesan.

Ponselnya berdering
"Kriingg!!!.... Kring!!.... "

"Akhhhh... Apa lagi sii!!, susah sekali ingin bersantai."
Ucap berlin dengan nada kesal. Ia menaruh teh nya di meja.

Ia mengangkat telepon tanpa melihat nama kontak.
"Halooo!!..."
Nada kesal.

"Apa kau menghindariku?...."
Suara arhan terdengar lemas.

Berlin terkejut. Ia tidak tahu jika arhan tengah menghubunginya.

"Maaf aku tidak tahu jika kau menghubungiku."
Tiba-tiba bernada lembut.

"Akhirnya suaramu terdengar pelan. Hehe..."
Arhan tertawa kecil. Berlin tersenyum dengan memainkan sebuah rambut di jari tangannya.

"Ngomong-ngomong ada apa?..."
Tanya berlin bernada tegas.

Arhan terlihat kaku. Tiba-tiba suasana hening dengan cukup lama.

"Halo!!..."
Berlin menyapa.

"Ah maaf aku terlalu takut."
Ujar arhan.

"Hah!!..."

"Maukah kau jalan denganku nanti malam, aku akan menjemputmu jika kau mengatakan YA."
Arhan mengucapnya dengan lantang.

"Ya... Aku mau. Kebetulan aku harus membeli sebuah buku."
Berlin menggigit bibirnya.

"Baiklah aku akan menjemputmu pukul 7 malam."

"Yaa baiklah..., sampai jumpa nanti malam."

"Yah baiklah. Sampai jumpa."
Arhan terdengar gugup.

Telefon terputus.

"Aaaaaakkkkhhhhh......!!" Berlin berteriak.
Nafasnya tak beraturan. Pipinya memerah. Jantungnya berdebar kencang.

"Apakah ini akan menjadi sebuah kencan??..."
Berlin menarik rambutnya.

"Akhirnya hal ini akan terjadi kepadaku."
Ucapnya dengan senang.

Berlin tersenyum riang. Ia mulai membuka lemari untuk melihat pakaian yang layak untuk berkencan.

"Apakah ini, apa ini, yang itu, aahh bagaimana ini aku tidak bisa mengendalikan diriku?."
Berlin mengoceh tak beraturan.

Beberapa jam tlah berlalu. Waktu menunjukan pukul 4 sore.

Rehan mencoba menghubungi semua rekannya untuk makan malam di rumahnya. Namun arhan dan berlin tidak bisa menghadiri acara makan malam itu. Mereka berdua memiliki sebuah janji.

"Hemm mencurigakan, apakah arhan mengajak berlin berkencan. Ahh pasti kecurigaanku benar, Baiklah aku akan memberi waktu luang untuk mereka."
Rehan tersenyum kecil.

Waktu menunjukan pukul 07.00 malam.
Sindi, erland, romi dan bernarld datang dengan bersamaan.
"Ting... Tung!!..." Sindi menekan bel.

"Cekrek!!!..."
Rehan membuka pintu. Dengan mempersilahkan masuk.

"Wahh luar biasa, apakah yohan membelikan rumah untukmu?..."
Bernald bertanya.

"Ahahaa tidak, ini memang rumahku yang tidak kalian ketahui?."
Rehan tersenyum lebar.

"Apa itu, raut wajahmu berubah?"
Sindi mengamati.

"Sudahlah ayo duduk, aku sudah menyediakannya."
Semua orang duduk dengan nyaman.

TOPENG (TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang