aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisahku. aku tak tahu apakah pada akhirnya ibu akan mencintaiku?...
terkadang aku berfikir, mengapa aku di lahirkan?... apakah kau sangat membenciku karna mencintai ayah yang tidak pernah mencintaimu?,... lalu bagaimana denganku yang mencintaimu begitu tulus. tidak kah aku berada di hatimu sedikitpun bu?... pada akhirnya aku menyadari, bahwa kau tidak pernah mencintaiku. meski saat dalam keadaan sekarat pun kau tetap ingin membunuhku. tetapi aku terlalu membenci ayah. pada akhirnya pria yang sangat aku benci adalah yang paling menyayangiku. mengapa aku begitu buta?... aku merasa kehilangan arah. aku merasa terpuruk.... tapi, apakah meski waktu telah berjalan, akankah perasaan hancur ini akan segera berlalu bagaikan sebuah daun yang rapuh terhempas angin. dan apakah aku layak untuk hidup?... apakah aku masih layak menjadi Andre Fahrov. aku hanyalah anak haram yang telah ibu buat.
Andre termenung di sebuah kamar rumah sakit, ia terbaring lemah dengan inpusan yang menempel pada tangan kirinya. lengan kanannya penuh dengan perban akibat luka hebat sebuah tembakan peluru. sungguh tragedi yang sangat sadis dan menyakitkan. ia terus menangis bagai tanpa sebuah harapan. tatapannya terlihat kosong. ia tak mengerti perasaannya. pikirannya terasa kacau. rasanya ia semakin kehilangan arah.
yohan dan rehan berdiri di sebuah pintu kamar pasien. pintu itu terdapat sebuah kaca yang menembus ke dalam sehingga mereka menatap andre yang terlihat sayu. rehan menepuk pundak yohan. ia memberi isyarat agar yohan segera menenangkan suadaranya itu. ia terlihat kesakitan. yohan pun bergegas masuk sendirian. tetapi andre tak meresponnya. ia hanya terus meneteskan air matanya sambil menatap sebuah jendela. lalu yohan datang dan duduk di sampingnya. yohan memainkan bola matanya. dengan kakinya yang terus bergoyang. ia terlihat bingung. yohan tidak pernah mengerti cara menenangkan saudaranya itu.
"pergilah!!!.." ucap andre
"tidak... aku takkan pergi." ujar yohan.
"dasar keras kepala..." andre terlihat kesal.
"aku turut berduka cita atas apa yang terjadi dengan ibumu."
yohan menatap andre dengan iba.
"terimakasih." andre menunduk.
"beginikah perasaanmu ketika nyonya alika terbunuh?..."
tiba-tiba andre melontarkan pertanyaan itu. bola mata yohan sedikit terbuka. ia menatap andre sedikit hawatir.
"ya seperti itu kurang lebih." ujar yohan.
"Maafkan aku yohan."
"sudahlah itu semua sudah berlalu, aku sudah memaafkanmu sejak awal. aku mohon jangan seperti ini."
yohan sedikit memegang pundaknya. namun andre menunjukan penolakan.
"aku tidak tahu apakah aku layak untuk hidup. aku adalah luka untukmu dan ayah" ucapnya.
"hentikan omong kosongmu!!!!.... aku mohon kepadamu, cukup untuk pulang. ia selalu menunggumu sepanjang waktu. bahkan ia selalu bertanya tentangmu padaku. dan memohon untuk membawamu pulang."
andre tiba-tiba menatap yohan dengan tajam.
"aku tidak layak menjadi keluarga fahrov." ucap andre.
"Apa kau bodoh???.... lihatlah segala usahaku dan ayah untuk menjemputmu. tidakkah kau sadar atas segala perbuatan kami, agar kau kembali. dan berhentilah merasa bersalah. itu semua bukan salahmu."
tanpa di sadari. sang ayah yang ingin membuka pintu. tiba-tiba menahannya. ia memutuskan untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"tapi aku membunuh ibumu."
andre mulai meneteskan air matanya. dan kini air matanya semakin deras.
"aku mohon jangan begini, semua ini tidak benar!!!..."
"ya itu tidak benar!!!..."
ayah tiba-tiba datang membuka pintu dengan air matanya yang mengalir.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOPENG (TAMAT)
General Fictionmengapa pria bertopeng itu membunuh? apakah benar ia seorang pembunuh?
