BAB 26 LUBANG SEBUAH LUKA

11 3 0
                                        

Dua hari kemudian....
Rehan yang terbaring di rumah sakit menatap langit biru yang jernih.
Seekor burung biru tengah mampir di jendelanya yang terbuka.

"Kliuww...kliuwww....kliuuwww."
Sang burung menyapa.

Rehan tersenyum manis menatapnya. Burung biru yang indah itu, lalu terbang bebas. Angin sepoy-sepoy yang berhembus. membuat tirai jendela yang menempel, sedikit terhempas angin. tirai itu mengarah pada sindi yang tertidur pulas di sebuah sofa.
Lagi-lagi rehan tersenyum manis dengan menatap sindi. Rehan memejamkan matanya dengan sinar mentari yang menyoroti wajahnya yang lembut .Tiba-tiba ia mengingat sang gadis yang tertidur itu dengan segala perjuangannya.

"Kau sedang apa rehan?"
Tanya sindi tiba-tiba terbangun. Pria itu membuka matanya. Lalu tersenyum.

"Aku memikirkanmu." Ucapnya.
Sindi tersenyum manis menatap rehan.
Lalu tiba-tiba rehan menunduk mengingat pria bertopeng itu.

"Bagaimana dengan yohan? Apakah ia masih belum ada kabar?..."
Tanya rehan. Sindi menggeleng-gelengkan kepalanya.

"cekrek!!!...." suara pintu.
ke lima rekannya datang menjenguknya dengan membawa parsel buah-buahan.

"hay pria kuat? kau sudah terbangun?..."
ucap salah satu rekannya. mereka bersorak gembira melihat rehan yang semakin membaik keadaannya.

Setelah peristiwa kelam itu. Andre menangis sepanjang waktu. Sang ibu yang tertembak konon dalam keadaan kritis dan koma.
Andre setia menemaninya sepanjang waktu. dan ia berharap waktu akan memberinya kesempatan hidup untuk kedua kalinya.
Ayah selalu datang menjenguk mereka berdua. Meski saat itu ia tertembak oleh ibu. Namun peluru itu tidak mengenai titik vitalnya. Sehingga tidak ada luka yang cukup fatal.

"Sabarlah, ibumu pasti akan siuman."
Ucap ayah menatap Andre yang menunduk dengan tatapan sayu.

Setelah kejadian itu, yohan menghilang bagai serpihan kapas yang terbawa oleh angin yang berhembus. Ayah mencoba mencarinya di rumah tua. Dan terus berjalan menyusuri hutan. Namun yohan tak kunjung di temukan.
Entahlah dimana ia berada?....

Sang mata-mata itu terlihat duduk di sebuah mini market bersama barya di sebelahnya. Mereka tengah menikmati sebuah kopi hangat.

"Bagaimana kabar tegar rahaska?"
Tanya barya.

"Ia akan di jatuhi hukuman seumur hidup. Namun, sidang akan di mulai tiga hari ke depan."
Jawabnya.

"Bagaimana dengan tuan vierza wick?"

"Ia belum juga di temukan. Namun aku yakin pasti ia akan mengunjungi rumah sakit dengan sembunyi-sembunyi. Ia sangat mencintai Rose Herfina."
Ucap sang mata-mata itu menghembuskan asapnya. Lalu putung rokoknya di tekan pada sebuah asbak.

"Cinta sepihak yang menyakitkan."
Ucap barya menunduk.

"Yah.... Kadang cinta menghancurkan segalanya. Cintailah di jalan yang benar."
Ujar Sang mata-mata itu berdiri untuk bergegas pergi.

"Aku pergi dulu, aku masih ada urusan."
Detektif itu menatap handphone genggamnya.

"Baiklah sampai jumpa."
Ucap barya.

berbulan-bulan tlah berlalu setelah ririn bertemu pembunuh bertopeng, untuk terkahir kalinya. ia tidak pernah melihat wajahnya lagi. rasanya seperti sesak yang tidak tahu sampai kapan. ia merasa tidak adil untuk tidak mengetahui keberadaannya. ia terus mengingat senyumannya yang manis.
waktu terus berjalan seperti biasanya. anehnya semua terlihat banyak perubahan. tapi tidak dengannya.

"aku tidak pernah berubah sedikitpun, aku akan selalu menunggumu."
gumamnya menatap hutan lebat.

"rin!!..." ica memanggil
ririn hanya tersenyum.

TOPENG (TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang