Cahayaku. apa kabarmu?...
cahayaku, aku mohon jangan meredup. tetaplah bertahan untuk menciptakan cahaya yang begitu indah nan cantik. cahayaku, aku merasa tersesat. bagaimana aku bisa bertahan tanpa ada kabar darimu?.....
aku terus mengurung diri, dan selalu menyalahkan diriku. seorang detektif mengatakan. ia ingin menemuiku segera untuk memberi kesaksian. namun keadaanku tidak kunjung membaik. aku rasa lubang hitamku semakin membesar. aku tidak lagi merasakan masa depan yang indah. hatiku begitu hancur. apa yang harus aku lakukan?.....
pada malam itu. kau terluka hebat. semua orang menunggumu di depan ruang oprasi. aku terus menangis di sudut ruangan. aku tidak sanggup mengunjungimu. aku merasa bodoh, tidak berguna. bagaimana aku tidak tahu apa yang di rencanakan sang iblis itu.
beberapa jam telah berlalu kau mulai mendapatkan perawatan. namun kau belum pulih juga.
ica sahabatmu, mengetahui aku telah mengunjungimu dengan diam. ia terus mengusirku dan terus menangis.
dia benar, aku tidak layak mengunjungimu. saat itu aku memutuskan untuk mengurung diri. aku tidak layak untuk di cintai.
cahayaku, aku mohon sadarlah. aku ingin melihat senyumanmu lagi. meski jika suatu saat nanti kau tidak memilihku. tidak apa-apa. yang terpenting aku ingin melihat Cahaya hidupku kembali.
"tok!!!...tokk!!!...tokk!!.."
Ayah mengetuk pintu. ketika sang ayah ingin membukanya, pintunya masih saja terkunci.
"yohan!!!... aku mohon sampai kapan kau akan begini. buka yohan!!!..."
ucap ayah sambil melihat senampan makanan yang tidak di sentuh sedikitpun. yohan masih saja tak menjawab. ia terus merenung dengan tatapan sayu.
"bagaimana tuan Fahrov? apa yohan masih belum membuka pintunya?..."
tanya Arhan tiba-tiba datang.
"belum, aku tidak tahu harus apa."
ayah menunduk putus asa.
Beberapa saat kemudian Arhan pergi ke rumah sakit, mengunjungi Rehan yang masih terbaring lemas.
"ceklekk!!!,,... permisi pak."
ucap arhan sambil membuka pintu pelan-pelan.
"masuklah arhan."
ujar rehan. arhan berjalan dengan duduk di sebuah sofa. ia terus menunduk kebingungan.
"bagaimana dengan yohan?..."
tanya rehan. arhan menggelengkan kepalanya. lalu terdiam sejenak. rehan tiba-tiba menunduk. arhan melihat tatapan putus asa itu.
"tuan rehan...."
arhan tiba-tiba memanggil. rehan menaikan pandangannya.
"bagaimana jika kau coba berbicara dengan adikmu. aku rasa yohan akan mendengarkannya. beberapa hari yang lalu. adikmu terus mengusir yohan. aku mengerti perasaan adikmu ia telah melihat dirimu terluka, dan sekarang sahabatnya terbaring di rumah sakit yang sama. tapi ingatlah, yohan pun telah banyak berjuang untuk kita. jadi aku rasa, kau harus berbicara dengan adikmu. dan biarkan yohan menjenguknya. aku tak sanggup melihatnya terus berputus asa. ia terus menghukum dirinya sendiri..."
ucap arhan melanjutkan percakapan.
"ya baiklah aku akan bicara dengannya..."
ujar rehan. arhan terus menunduk.
"ya, aku rasa sudah sebaiknya adikmu mengetahui apa yang terjadi."
rehan menatap arhan seakan-akan memberi isyarat. ia akan melakukannya.
beberapa jam kemudian. sindi melihat ica yang masih menunggu sahabat dekatnya itu terbangun.
gadis itu masih terbaring dengan bantuan oksigen yang terpasang di hidungnya. ibu sang gadis itu tertidur pulas di sebuah sofa. ia terlihat kelelahan. ica terus berada di samping sahabatnya. Ia berharap Ririn akan segera bangun.
"cekrek!!!..." Tiba-tiba sindi membuka pintu
"permisi, boleh aku masuk."
sindi sedikit mengintip. ica mengangguk. sindi berjalan perlahan-lahan ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOPENG (TAMAT)
Algemene Fictiemengapa pria bertopeng itu membunuh? apakah benar ia seorang pembunuh?
