🤸🏻🤸🏻🤸🏻
Kenzie menatap terbelalak kepada seorang pria di seberang.
"ITU KAN CALON BAPAK GANTENG GUE? NGAPAIN DI SINI? Wah, pasti mau temuin emak bohay nih. Samperin ah~"
Kenzie berjalan mendekat, membiarkan Lia yang lengah terhadap dirinya.
"Eh, om ini kan yang waktu itu di kantor mommy, kan?"
SKSD sekali anak ini🗿.
"Kek pernah ketemuan. Tapi kapan? Ini aja gue ngaku-ngaku dia bapak gue. Tapi, kek pernah ketemuan, tapi dimana cok?!"
Ting, Tong! Ingatlah bahwa sebelumnya Kenzie pernah bermimpi <( ̄︶ ̄)>
Pria di depannya menatap Kenzie dengan datar, tetapi bingung. Kapan anak ini bertemu dengannya? Ini adalah pertama kalinya dia datang ke sini karena urusan bisnis.
Dari belakang, Lia segera membungkuk hormat, "Maafkan kami karena tidak menjamu anda dengan baik, Tuan Simon. Nyonya Monica sudah menunggu anda di ruangannya."
Kenzie menatap wajah pria itu dengan raut berpikir keras. "Saimen? Tulisannya Simon, kan? Atau salmon?"
Pria itu mengangguk, "Pimpinan jalan."
Lia mengangguk, laku berbisik kepada Kenzie, "Tuan Muda, sebaiknya kita kembali."
Kenzie mengangguk setuju tanpa berpikir, dia sungguh sangat ingin melihat pria itu lebih lama.
"Bapak baru~ CIHUY!!!"
...
Huft....
"Tau gini mending ke kafe aja tadi, ah elah!"
Ingin sekali dia meneriaki ibunya karena menyuruhnya menunggu di ruang kerja, sedangkan Monica dan Simon menuju ruang rapat.
"Awas aja ntar, gue marahin tuh wanita bohay."
Dia sangat kesal sekarang. Padahal dia ingin sekali melihat bagaimana ibu dan calon bapaknya berbicara, kalau bisa dia ingin ikut berbicara.
Lia yang di suruh menemani Kenzie hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Tuan Muda, beliau adalah ibu anda."
Kenzie menatap tajam pada Lia, "Biarin! Serah gue dong, emak, emak gue!"
"Huu... Saya ketakutan..." Batin Lia menatap datar wajah Kenzie
"Ngapain natap begitu?"
Lia menggelengkan kepalanya, "Tidak, saya hanya merasa takut dengan tatapan anda."
Kenzie berdiri lalu berdiri tepat di depan Lia, "Ngejek gue?"
Menggelengkan kepalanya, "Saya tidak berani." Lalu tersenyum tipis.
Kenzie mencubit punggung tangan Lia, "Uuunngg!!!! Rasain tuh!" Dia berbalik lalu duduk kembali di sofa.
Lia, "Aaa... sakitnya _-"
"Tsk! Serah! Mending gua tidur."
Kenzie berbaring di sofa, memakai bantal sofa tang tersedia, lalu memejamkan matanya. Hanya dalam waktu dua menit, dia sudah tertidur pulas dengan mulutnya yang sedikit terbuka.
Lia menggelengkan kepalanya, mengambil selimut di laci meja depan sofa, lalu menyelimuti Kenzie. Tak lupa untuk melepaskan sepatu anak itu terlebih dahulu.
Berpikir sejenak, dia lalu tersenyum senang. Lia merogoh jas untuk mengambil ponselnya, berniat untuk memotret Kenzie.
"Susah kalo mau motret Tuan Muda Kenzie, apalagi dia orangnya susah diem."
Lia ini adalah orang yang sangat disiplin waktu dan keadaan. Ketika jam kerja, dia akan sangat formal. Namun, dia akan berbicara santai ketika sedang sendiri, atau di luar jam kerja.
...
Dua jam berlalu, Monica dan Simon kembali ke ruang kerja Monica. Lia membungkuk hormat, lalu mempersilakan Simon untuk duduk di sofa, berhadapan dengan Kenzie yang sedang tidur.
Pose anak itu, kedua tangannya mengepal berada di sisi kepalanya, jari kaki yang bergerak lucu di balik kaos kaki biru lautnya, sesekali mulutnya akan mengecap seolah sedang makan permen.
Simon, "..."
"Sial! Mengapa imut sekali?!"
Monica menghampiri anaknya, lalu memasukkan pacifier di mulut Kenzie. Pipinya mengembung sekarang.
Simon menatap ke samping sambil menutupi setengah wajahnya.
"Sial!"
Monica berbalik, menyadari tingkah laku Simon. Dalam hatinya, "Santai Tuan, karena saya selalu seperti itu setiap kali melihat bocah manis ini."
"Uhuk... Ini dia tuan Simon, berkas yang anda inginkan." Monica memecahkan keheningan.
Simon mengambilnya dan membacanya.
Selang beberapa saat, Kenzie mengerang dari tidurnya.
"Ungh..."
Monica mencabut pacifier dari mulut anaknya, lalu meletakkan di atas meja.
Mata anak itu perlahan terbuka, melihat siluet ibunya yang cantik rupawan. Anjay~
"Mommy...?"
"Ini mommy, sayang." Monica membawa Kenzie ke dalam gendongan koala nya, kemudian menimangnya.
Setelah matanya terbuka lebar, Kenzie termenung.
Simon melihat sedikit dari samping wajah anak itu, terlihat sangat menggemaskan. Ingin sekali Simon menggigit pipinya yang tergencet itu.
Setelah sadar sepenuhnya, Kenzie menatao sekitar. Dia melihat Simon yang duduk dengan tegas di sofa.
"Wut?! Ada calon bokap nih!"
Kenzie meminta kepada ibunya untuk menurunkan dirinya. Dia lalu berjalan dan berdiri di samping Simon yang menatapnya bingung.
Kenzie menjulurkan tangannya, "Halo om! Kenalin saya Kenzie Al Larsson, anak nya ono noh, bunda Monica yang cantik jelita, aduhay, mak oy, cihuy bohay."
Monica menepuk jidat, bisa-bisanya Kenzie menyebut dirinya seperti itu.
Simon dapat menahan tawa nya, dia menjabat tangan Kenzie, "Sebastian Ace Simon."
Kenzie mengerutkan keningnya, "Itu nama om? Serius?"
Simon melepaskan jabat tangan itu perlahan lalu bertanya, "Tentu saja. Ada apa?"
"Perasaan gak gitu deh."
Sok tau lu Ken 🗿
Simon bertanya, "Baiklah, bagaimana yang kamu ketahui?"
"Nih yah, harusnya tuh, Sebastian Ace Simon suami dari mommy Monica yang cantik jelita, aduhay, mak oy, cihuy bohay!"
Monica mendekat, lalu mencubit pantat anak itu.
Kenzie meringis, "Akhss... Sakit tau! Apaan sih mom?"
Monica menatapnya tajam, membuat Kenzie merasa cukup ketakutan.
Entah mengapa, Simon merasa kasihan. Dia menarik tangan Kenzie, membawa anak itu untuk duduk di sampingnya.
"It's ok, boy. Kamu bisa memanggil saya Daddy."
TBC
Segitu dulu yak, lagi sibuk banget ini. Ini aja di sempat-sempat in buat ngetik.
Do'akan cepat kelar kerjaan ku ges!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Baby Ken
Ficción General⚠️NOT BL⚠️ Jika beberapa kisah hidup, baik itu nyata atau hanya karangan cerita, banyak sekali kisah anak laki-laki yang sangat disayangi, dilindungi, dan sangat dimanja oleh keluarganya. Bahkan, ada kisah seorang anak laki-laki yang hidup hanya ber...
