Bab 19

4.5K 201 14
                                        

🤸🏻🤸🏻🤸🏻

💤... 💤... 💤

Mengelus dan mengelus, Monica senantiasa memeluk Kenzie yang sedang tertidur pulas, menjadikan dada ibunya sebagai bantal.

Seperti biasa ya ges, bantal favorit🗿

Sesekali, kepala Kenzie akan bergerak kecil, mencari posisi yang nyaman.

Tobrut gitu, mana ada istilah posisi gk enak, kocak!🗿👊🏻

Simon, menatap Kenzie yang sedang tertidur dengan mulut kecilnya yang sedikit terbuka. Lama menatap, Simon berpikiran sedikit random.

"Apakah rasanya sangat nyaman, hingga kau tertidur begitu nyenyak? Aku jadi penasaran, selembut apa bantal itu."

Jika bertanya, "Di mana pacifier nya?"

Monica sudah membuangnya, dengan alasan yang aneh.

"Karena benda itu, anakku tidak mau memelukku."

Di depan, Lia menyetir mobil dengan tenang, sesekali mengintip melalui kaca spion. Perutnya sedikit tergelitik.

"Ya tuhan~ Aku menantikan acara pernikahan Nyonya Monica."

Sampainya di perusahaan AMK, mereka keluar dari mobil. Monica menatap Simon yang berjalan menghampiri dirinya.

"Terima kasih Tuan Simon, atas bantuan anda." Kedua tangannya menggendong Kenzie seperti koala, memeluknya dengan erat seolah takut kehilangan.

Simon melangkah maju, semakin mengikis jarak antara dia dan Monica. Monica mundur sedikit, namun tertahan oleh lengan Simon. Pria itu memeluk pinggangnya.

Para karyawan yang melihat dari luar dan dalam perusahaan, termasuk juga Lia. [WOW!!!!!]

Sedangkan Monica, wanita itu menatap tajam pada kedua mata elang Simon. Namun, pria itu sama sekali tidak gentar, dia semakin mendekatkan dirinya pada Monica.

"Tuan Simon, harap jaga batasan anda." Ucap Monica dengan nada mengancam.

Simon yang berwajah datar, menundukkan kepalanya, berbisik tepat dj telinga Monica, "Aku akan kembali besok dengan membawa lamaran."

Monica merasa tergelitik, dia sedikit menggerakkan kepalanya, karena telinga terasa geli. Nafas hangat Simon membuatnya merona.

Kenzie merasa panas, dia terbangun dari tidurnya. "Ungh... Udah nyampe, kah?"

Simon perlahan menjauhkan dirinya, Monica berusaha keras untuk menetralkan detak jantungnya.

"Sial!" Umpat Monica di dalam hati. Telinganya memerah, sangat unik karena Monica tidak pernah merona pada pipinya.

Kenzie termenung sebentar, membuat keduanya gemas. Simon justru betah menunggu anak itu sadar sepenuhnya.

Dua menit, Kenzie menatap Simon, "Om udah mau pulang?"

Simon mengangguk singkat, membuat Kenzie mendatarkan wajahnya. "Ini mah sama aja kek emak bohay aing, ngangguk doang."

Simon mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali mengatakan, "Apakah kamu ingin saya gendong?" Namun, dia harus menahannya.

"Yah... Kirain om bakalan lama di sini."

Simon mengelus kepala Kenzie, "Saya sudah sangat lama meninggalkan pekerjaan saya, karena waktu istirahat saya terpakai saat mengejar seorang anak."

Kenzie tersindir, wajahnya cemberut, "Iya, iya, mangap."

Pria itu menggelengkan kepalanya, lalu berpindah tangan. "Aku pergi." Ucapannya menatap pada Monica, sambil mengelus singkat pucuk kepala Monica, membuat telinga wanita itu semaki memerah.

My Little Baby KenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang