Bab 14.05

4.6K 174 22
                                        

(part 2)

🤸🏻🤸🏻🤸🏻

Dokter tersenyum, "Itu justru sangat bagus. Sepertinya, pheromone anda sangat cocok dengan pasien."

Dokter George adalah seorang Beta, adalah hal wajar jika dia bertanya sebelumnya.

Pintu ruangan di ketuk, itu adalah Leo. Dia masuk dan berkata, "Tuan Simon, Tuan Kenzie sudah sadar."

...

Sepanjang perjalanan pulang, Kenzie hanya duduk diam dengan ke-dua kakinya yang rapat. Dia menatap lututnya dengan perasaan canggung.

"Duh, malu banget asli dah! Mesum banget gue grepe-grepe calon bapak gue."

Simon sangat ingin mendengarkan suara Kenzie, jadi dia memutuskan untuk bertanya, "Bagaimana perasaanmu sekarang?"

Kenzie sontak mendongak dengan canggung, "Ah? Oh, baik om. Lebih baik, haha😅" Dengan malu dia kembali menatap lututnya.

"Ngapain lo ketawa tolol! Apanya yang lucu?!"

Leo bertanya, "kemana tujuan kita, Tuan Simon?"

"AMK Company."

"Oh, jadi namanya Simon. Kek gak asing gue denger nya. Apa yah...?"

Kenzie melirik Simon dari sudut matanya.

"Gak salah milih bapak sih gue. Makin kena cahaya matahari makin ganteng aja nih orang."

Kenzie menekankan niatnya, "Harus gue tanya nih!"

Dia menatap Simon dan bertanya dengan wajah polosnya, "Om, nama lengkap om siapa?"

Uhuk! Uhuk!

Simon melirik tajam pada Leo. Sedangkan yang dilirik merasa bahwa dia terancam. Dia tidak sengaja terbatuk.

"Sebastian Ace Simon."

Kenzie mengangguk, lalu memperkenalkan diri, "Nama saya Kenzie Al Larsson, om. Panggil aja Kenzie."

Simon menatap tangan mungil Kenzie yang meminta berjabat tangan. Dia menggapainya dengan wajah santai.

"Om ganteng, sumpah. Mau gak jadi bapaknya Kenzie? Mommy saya cantik lho om, bohay lagi!"

Ckiit!!!

"Leo..."

Simon benar-benar menatap Leo dengan tajam, seorang aura hitam ada di sekelilingnya. Dia justru menekan keras pheromone nya agar tidak mempengaruhi Kenzie.

Leo berkeringat, "M-maaf Tuan. S-saya tidak cekatan. Maafkan saya." Dia kembali menjalankan mobilnya.

"Anak ini terus terang sekali!" Leo berteriak dalam hatinya.

Simon menatap dari samping. Wajah Kenzie tampak memandang dirinya dengan binar cahaya yang terang di mata bulatnya. Senyum penuh makna di bibir mungilnya terlihat sangat tulus, bahkan terdapat rona merah samar di kedua pipinya.

Simon akan menjawab, namun Leo kembali menyela, "Kita sudah sampai, Tuan."

"Tuan Simon, berterima kasihlah! Aku menyelamatkan dirimu dari pertanyaan gila ini!" Leo menyanjung dirinya sendiri.

Simon menatap Leo semakin tajam. Ingin sekali dia menyumpal mulut Leo menggunakan celana dalam oblong.

Leo semakin takut, wajahnya berkeringat, "Kok aku ngerasa ancaman besar, yah?"

Simon merapatkan giginya kesal, lalu berbalik dan langsung menarik Kenzie.

"!!!"

Kenzie terbelalak saat pria itu menciumnya.

"WTF!!!"

Kenzie memejamkan matanya. Dalam sekejap, sekitar berubah. Dia kembali membuka matanya saat sesuatu di bibirnya hilang. Dia semakin membelalakkan matanya saat melihat adegan di depannya.

"... Mommy?"

Di depannya, Monica sedang bercumbu dengan Simon.

[Kembali pada sambungan untuk bab ke 11]

"HAAAH!!!!!"

Seluruh tubuhnya berkeringat, dia mengelap dahinya yang basah, nafasnya tidak teratur dan terengah-engah.

"Anjing gila! Gue kenapa?!"

Kenzie menatap horor pada selimut yang menyelimuti dirinya.

Dia baru saja mimpi buruk.

"Bisa-bisanya gue mimpiin begituan. Gue lupa baca do'a anjir, sebelum tidur. Tai lah!"

BRAK!!!

Kenzie menatap kaget pada arah pintu, sosok Monica membuka pintu dengan kasar, wajahnya kentara sekali khawatirnya.

Tiba-tiba saja Kenzie menangis, matanya menyipit.

"Uh... Mommy..." Dia merentangkan kedua tangannya, seperti ingin digendong.

Monica berlari lalu langsung memeluk Kenzie dengan erat. Dia mengelus kepala hingga punggung Kenzie dengan lembut.

"Sstt, It's okay. Bad dream, hmm?"

Kenzie menganggukkan kepalanya, dia masih menangis yang terdengar kecil. Hidung dan pipinya merah.

"Kenzie... Mi-mimpi aneh, M-mommy... Heuk..." Dia menenggelamkan wajahnya di pundak Monica, ke-dua tangannya meremas kemeja tidur biru navy yang Monica pakai.

Sebenarnya, Monica sedang sarapan. Dia membiarkan Kenzie tertidur karena hari ini adalah hari libur. Dia kaget saat mendengar teriakkan Kenzie yang begitu besar di lantai dua, suaranya hingga mencapai lantai satu. Itu sebabnya, dia panik dan berlari menuju kamar.

Monica mengangkat Kenzie untuk di dudukkan di pangkuannya. Dia bersandar di headboard kasur, lalu kembali mengelus Kenzie. Dia bahkan meninggalkan ponselnya di dapur, kacamata anti radiasi masih bertengger apik di hidung mancungnya.

Monica menepuk-nepuk bokong Kenzie, seperti menimang bayi.

Kenzie baru sadar, jika dia memakai "benda laknat" itu lagi untuk yang kedua kalinya.

.
.
.

TBC

Gak senang betul keknya kalian(⁠╥⁠﹏⁠╥⁠)(⁠╥⁠﹏⁠╥⁠)

Blom juga 100% bener genre tambahan aku tuh yang kalian bincang kan di komentar sebelumnya (⁠╥⁠﹏⁠╥⁠)

Padahal genre tambahan aku tuh bromance (⁠༎ຶ⁠ ⁠෴⁠ ⁠༎ຶ⁠)

Gak boleh suudzon lho😭 jahat kalian.

PUNDUNG AKU! PUNDUUUNG! KALIAN MENISTAKAN AUTHOR 😭😭😭

DH LH! HIATUS AJA LAH AKU! GAK USH LANJUT LAGI😭😭😭🗿🗿

HIATUS AJA HIATUUUUS!!!

My Little Baby KenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang