Babu Nakula

79 11 3
                                        

Doa Geora agar Nakula tidak muncul selama sebulan tidak terwujud sama sekali. Nyatanya pagi-pagi besoknya Nakula sudah berdiri di depan kelas menunggu kehadiran Geora, tanpa menunggu waktu lama lagi dia langsung menarik Geora pergi dari sana. Geora merasa kesulitan menyeimbangkan langkah lebar Nakula, tetapi dia sama sekali tak berani membuka suara.

Nakula membawanya ke gudang belakang sekolah, Geora berusaha menghentikan langkahnya tetapi berakhir sia-sia. Tanpa perasaan Nakula mendorong tubuh Geora hingga tersungkur di lantai yang kotor dipenuni debu, dalam sekejab seragam Geora benar-benar kotor.

"Aduh!" Geora mengaduh kesakitan saat sebuah buku melayang di kepalanya tepat mengenai dahinya.

"Kerjain tugas gue, sebentar lagi masuk. Gue taunya selesai!" Geora mengangguk paham, dia memungut buku Nakula dan langsung mengerjakan tugas Nakula tanpa mengeluh atau menyela perintah pemuda yang saat ini duduk di atas meja sambil memperhatikannya dengan tajam.

"Gimana, enak kemarin hidup tenang?" Nakula bangkit, dia berjalan mendekati Geora. Geora berusaha tak peduli, tetapi langkah kaki Nakula seakan membuat jantungnya akan lompat dari tempatnya.

"Heh!" Tanpa perasaan Nakula menendang tangn Geora yang sebagai tumpuan hingga hidung gadis itu menyentuh lantai. Geora meringis kesakitan, dia mengelus hidungnya yang seakan patah.

"Gue nanya, jawab!" Geora menggeleng, dia masih terus menunduk tak berani menatap Nakula.

Nakula menyamai tingginya dengan Geora, dia mengelus kepala Geora pelan. Bukannya baper atau senang, Geora merinding dibuatnya. Karena siapa pun sudah tau jika Nakula itu gila, dia tak pernah bertingkah benar.

"Harus nurut, ngerti?!" Geora lagi-lagi mengangguk patuh. Nakula tersenyum senang, lalu berdiri dengan gaya angkuh bersedekap dada.

"Kerjain, nanti gue ke sini harus udah selesai!"

"I—ya," balas Geora gugup.

Nakula pergi dari sana meninggalkan Geora sendirian di dalam gudang yang pengap dan lembab. Beberapa kali Geora mengelap hidungnya yang terasa kesulitan bernapas, tetapi dia harus tahan untuk menyelesaikan tugas Nakula.

Lagi-lagi nyatanya Geora tak pernah bisa mengendalikan hidupnya sendiri. Bahkan sekadar menjawab pertanyaan Nakula saja dia masih tak mampu, dia sering berpikir apakah selamanya dia akan terjebak disituasi seperti ini, apakah sampai mati dia akan terus menderita?

Tanpa sadar air matanya jatuh mengenai buku Nakula, Geora menunduk dalam, tanpa bisa dicegah dia menangis terisak. Berhenti sejenak, Geora memeluk tubuhnya sendiri dan terisak dalam diam di gudang yang sepi itu.

"Kenapa aku harus terlahir begini, ya Tuhan?"Mati-matian dia berusaha menahan isakan, tetapi hatinya begitu sakit dan dadanya sesak. Dia merasa hancur sekaligus lelah.

Disaat semua orang bisa berteman dengan mudah, jalan-jalan, melakukan apa yang mereka suka, tetapi mengapa Geora tidak begitu? Boro-boro untuk bahagia, merasakan tenang saja dia tak bisa.

"Aku enggak boleh nangis, nanti Nakula marah." Geora menghapus air matanya, dia langsung kembali melanjutkan tugas Nakula. Sedikit meruntuki dirinya, buku Nakula bisa rusak jika terkena air matanya.

Beberapa menit kemudian tugas Nakula selesai, cowok itu belum datang ke gudang lagi, mungkin sedang bersama teman-temannya. Geora menekuk kakinya, memeluk lututnya sendiri sambil memperhatikan sekitar gudang.

"Sayang banget ya, barangnya masih bagus-bagus." Dia bisa melihat banyak bola, meja, kursi dan barang-barang yang tak terpakai di sana, tetapi masih layak pakai.

"Udah selesai?" Geora menoleh, Nakula datang dengan langkah lebar lalu mengambil bukunya.

"Oke, berguna juga lo." Geora tidak bergeming, hanya menunduk mendengarkan ucapan Nakula.

"Siang ke kantin, langsung anterin makan gue ke kelas." Geora mengangguk.

"Denger enggak!" Gadis itu tersentak kaget mendengar bentakan Nakula.

"De—nger," balas Geora terbata.

"Dah, lo bisa pergi." Geora cepat-cepat bangkit lalu pergi dari gudang. Dia tak mau mengulur waktu lagi, di luar akhirnya Geora bisa bernapas lega. Namun melihat seragamnya yang tak berbentuk membuatnya mendesah kecewa.

"Pasti mereka makin ngeledekin aku." Geora berusaha menghilangkan noda debu di seragamnya, tetapi sia-sia sama sekali tak hilang.

"Enggak apa-apa deh, bentar lagi telat." Geora berlari kecil dari sana menuju kelas. Tanpa dia sadar Nakula berdiri tepat di belakangnya, memperhatikan tingkah Geora.

"Kampungan," ejek Nakula.

***

Seperti ucapan Nakula di gudang pagi tadi, Geora langsung ke kantin dan ke kelas Nakula untuk mengantar makanan pemuda itu. Tidak bukan hanya satu, tetapi beberapa makanan untuk teman-teman Nakula juga. Yang membuat Geora bertambah sedih adalah, semua itu menggunakan uang jajannya. Nakula sama sekali tak membuka suara tentang uang, mau meminta pasti dia akan terkena amukan lagi.

"Lo belum boleh pergi," ucap Nakula ketika melihat Geora sudah memutar tubuhnya siap pergi dari sana.

"Aku mau makan juga," ucap Geora pelan, sejak pagi dia belum sarapan dan sekarang perutnya terasa perih.

"Derita lo," balas Nakula. Semua teman pemuda itu tertawa, bahkan ada yang terang-terangan menghina Geora.

Geora diam, walau hatinya merasa terluka. Dia menunduk, lalu duduk tak jauh dari kursi tempat Nakula dan teman-temannya duduk. Geora menekan perutnya yang berbunyi, dalam hati dia berucap sabar untuk dirinya sendiri.

Di kelas Nakula hanya terisi Nakula dan teman-temannya, murid lain sudah ke luar karena di usir oleh Nakula. Geora menggeleng tak habis pikir, bukan dia saja semua orang juga takut pada Nakula.

"Geora?" Geora terkejut saat Batara masuk ke dalam kelas. Pemuda itu langsung mendekat ke arah Geora.

"Kak," sapa Geora.

"Ngapain lo ke sini?" Salah satu teman Nakula langsung membuka suara.

"Nyari Geora," balasnya santai.

"Ada urusan apa lo sama babu gue?" Geora menghela napas panjang mendengar ucapan Nakula yang sukses menusuk hatinya.

"Bukan urusan lo," balas Batara.

"Eits, urusan gue dong!" Nakula bangkit, mendekat ke arah Batara dan Geora.

"Ada perlu apa lo sama cewek kampung ini?" Nakula menunjuk Geora.

"Gue ada urusan masalah sekolah Geora. Jadi gue harus bawa dia ke kantor guru." Nakula berdecih sinis mendengar ucapan Batara.

"Bacot," balasnya sambil tertawa mengejek.

"Udahlah biarin aja, lagian gue enggak nafsu makan karena ada cewek kampung itu!" Nakula menoleh, melihat pada salah satu temannya yang berucap.

"Yoi, Bro!" Yang lain langsung menanggapi setuju.

"Yaudah bawa aja nih sampah, gue juga belum butuh." Nakula mendorong tubuh Geora, tetapi Batara dengan sigap menangkapnya.

"Maaf," ucap Geora merasa tak enak, dia langsung menjaga jarak.

"Hus, pergi sana!" Tanpa banyak bicara Batara menarik pelan tangan Geora pergi dari sana.

"Munafik," ucap Nakula sinis. Dia merasa tak peduli, lalu duduk kembali dan makan dengan tenang. Sepertinya mood Nakula hari ini cukup baik, jika tidak pasti dia sudah mengamuk karena mainannya diganggu orang lain.

TBC

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PancaronaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang