Gelora dengan susah payah berusaha menjaga keseimbangannya. Tangannya penuh dengan makanan serta minuman yang Nakula minta, bahkan semua ini di ke luarkan dengan uang gadis malang itu.
Gelora meringis saat mangkuk yang berada di tangannya sedikit bergoyang, dia berjalan dengan hati-hati takut menyenggol orang lain.
Namun, sepertinya memang nasib baik tak pernah berpihak kepadanya. Mati-matian Gelora mencoba menghindari masalah, malah kakinya sendiri yang membuatnya tersandung lalu terjatuh.
Suara pecahan mangkuk dan gelas membuat seluruh manusia yang berada di kantin terdiam, sedangkan sang gadis yang menjadi tersangka memejamkan mata saat suara keras dan rasa sakit menyambut lutut serta telapak tangannya.
"Matilah si cupu!"
"Reka!"
"Kali ini Gelora enggak akan lolos!"
Suara heboh seketika memenuhi kantin. Gelora seketika membuka matanya saat nama seseorang yang berusaha ia hindari disebut oleh hampir seluruh orang yang berada di kantin.
Gelora menggigit bibir bawahnya, beberapa kali dia meruntuki diri saat melihat Reka tak jauh berdiri dari tempatnya terjatuh. Bukan karena itu masalahnya, tetapi baju pemuda itu basah dan meninggalkan noda akibat ulahnya.
Gelora seketika bangkit, dia mendekat ke arah Reka dan meminta maaf berulang kali, walau pemuda itu hanya menatapnya dengan dingin.
"Maaf Reka, aku enggak sengaja," ucap Gelora gugup, dia berusaha menyentuh baju Reka yang kotor, tetapi pemuda itu langsung menepisnya dengan kasar.
"Lo mau mati?" ucapnya penuh penekanan.
"Maaf," Gelora berucap penuh penyesalan. Dia tau jika setelah ini hidupnya tidak akan pernah bisa tenang. Apa lagi saat dia melirik ke pojok kantin, di sana ada Nakula yang sedang menatapnya dengan tatapan mengejek.
"Maaf, aku beneran enggak sengaja." Sayangnya Reka malah pergi setelah menatap Gelora penuh kebencian, seolah matanya berkata jika hidup Gelora tidak akan pernah tenang setelah ini.
"Matilah kamu Gelora!" runtuknya penuh penyesalan.
****
Gelora tidak tau apa yang ada di dalam isi kepala Nakula. Setelah Gelora datang pemuda itu malah tertawa dengan kencang dan penuh kepuasan.
"Cupu-cupu, mangkanya kalau jalan pakai mata!" Gelora hanya bisa menunduk dalam dengan tangan saling meremas. Tetapi dalam hati dia menyumpah serapahi Nakula, karena pemuda itulah nasibnya menjadi seperti ini. Sayangnya Gelora tak pernah bisa mengatakan dengan berani isi pikirannya.
"Kali ini lo bebas, sana pergi!" Tanpa banyak bicara Gelora pergi dari sana, dia langsung pergi dari kantin dan menuju kelas.
Sedikit cerita tentang Reka. Siapa yang tidak tau tentang pemuda itu. Selain tampan, tubuh sempurna, nyatanya kehidupan Reka juga. Benar-benar sempurna, karena dia merupakan salah satu anak seseorang yang cukup terkenal di Indonesia. Ayahnya seorang pengusaha, dan ibunya seorang aktris sekaligus model yang cukup terkenal.
Gelora menghela napas sesak saat berhasil duduk di bangkunya. Dia mencari keberadaan Hanin, tetapi sepertinya Hanin sedang ada urusan organisasi.
Gelora tidak tau, sebenarnya mengapa semua orang sangat membencinya. Apakah karena Gelora bukan orang kaya, atau karena dirinya jelek dan tidak berpenampilan menarik. Entahlah, pastinya kehidupan Gelora memang tidak sempurna seperti orang lain di sekitarnya. Sungguh menyedihkamn bukan.
Gelora merebahkan kepalanya di meja, mencoba menenangkan hati serta pikirannya. Dia merasa sedikit bersyukur karena Nakula melepaskannya, sepertinya pemuda itu sudah puas melihat Gelora membuat masalah baru dengan Reka.
Di sekolah ini ada dua orang yang harus dihindari, siapa lagi jika bukan Reka dan juga Nakula kedua manusia itu bak iblis tampan yang menakutkan di mata murid-murid lainnya, karena itu banyak yang tidak memilih ikut campur.
Dan jika ditanya siapa siswa yang paling sempurna dari sikap, dan yang lainnya. Semua orang akan menjawab dengan tegas jika itu Batara, ketua OSIS yang begitu menarik perhatian siapa pun yang melihatnya. Sayangnya banyak orang juga yang memilih sadar diri, jika Barara bukanlah orang yang bisa dengan mudah digapai.
Sedangkan Gelora, sudah pasti mendapatkan gelar siswi paling menyedihkan. Target bully Nakula serta siswa-siswa berkuasa lainnya, Gelora adalah santapan empuk untuk disiksa dan dibuat menderita di sekolah ini.
Mengingat itu membuat tanpa sadar air mata Gelora menetes, tetapi dengan cepat langsung ia seka. "Kamu kuat, Gelora," ucapnya meyakinkan diri.
Gelora menatap iri pada teman-teman sekelasnya yang begitu asik dengan dunia masing-masing tanpa menghiraukan keberadaannya. Walau begitu Gelora bersyukur, setidaknya dia masih memiliki Hanin yang begitu peduli dengannya.
Hingga mata Gelora bertemu dengan mata gadis yang sedang tersenyum ke arahnya dengan lebar. Tanpa dicegah sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tak kalah lebar.
"Gelora!" Hanin berjalan ke arahnya, duduk di sebelah Gelora dengan antuasias.
"Akhirnya selesai juga, aku males banget dari tadi nunggu di sana." Hanin mengibaskan rambutnya yang tergerai. Sepertinya gadis itu baru saja berlari menuju kelas.
"Makasih Hanin," ucap Gelora tulus.
"Ha?" Hanin menoleh terkejut sekaligus tak paham dengan arah pembicaraan Gelora. Namun Gelora langsung menggeleng mengisyaratkan bukan apa-apa.
Hidup itu berat, dan Gelora akan menjalankannya dengan berbagai keadaan. Gelora yakin akan ada pelangi setelah hujan, ya Gelora begitu yakin dengan kata-kata itu.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Pancarona
FanfictionGeora membenci Nakula yang selalu membullynya dan bersikap kasar. Geora juga harus dihadapkan dengan Reka yang dingin dan tidak jauh sikapnya dengan Nakula. Hanya satu harapan Geora untuk ke luar dari penderitaannya, yaitu mendekati Batara ketua OSI...
