23. CHAPTER 23

28 2 0
                                        


aku kembaliiii
maaf sudah buat kalian nunggu
dan makasih buat yang masih menunggu

HAPPY READING



Setelah perawatan hampir tiga bulan, keadaan Gio sudah lebih membaik. Dokter mengatakan bahwa Gio sudah diperbolehkan untuk pulang sore ini. Papa Erlan meminta Gio untuk pulang ke mansion utama agar ada yang mengawasinya karena bagaimanapun Gio masih masa pemulihan dan pasti membutuhkan bantuan.

Gio mengalami koma hampir tiga minggu lamanya yang pada akhirnya membuat semua orang sangat khawatir. Namun, Mereka tidak menyerah untuk Gio apalagi sang adik. Janna dengan sabar menunggu sang kakak dan meyakinkan yang lainnya bahwa sang kakak akan bangun dan akan sembuh kembali.

Hana kini juga sudah tidak lagi duduk di kursi roda. Selama tiga bulan ini ia rajin untuk terapi sehingga membuatnya cepat pulih dan bisa berjalan normal lagi. Bahkan hari ini ia sudah ikut dengan sang kakak Revan untuk menjemput Gio pulang dari rumah sakit.

"Janna,"

"Hai Hana."

Panggil Hana pada Janna. Kini mereka semua sedang berjalan di lorong rumah sakit untuk pulang. Gio duduk di kursi roda yang didorong oleh Revan. Diikuti Kava yang menenteng tas berisi pakaian Gio sewaktu dirawat. Kemudian ada Hana dan Janna di belakangnya. Hanya mereka saja yang menjemput Gio karena yang lain sudah menunggu di mansion.

Dan juga Alam yang sudah menunggu di meja resepsionis untuk membayar biaya rumah sakit Gio.

"Bang Alam," panggil Kava yang melihat alam masih berdiri di depan meja resepsionis.

Alam menoleh mengembangkan senyum teduhnya melihat adik-adiknya terutama Gio yang akhirnya sudah pulih setelah kejadian mengerikan satu bulan yang lalu. Dalam hati ia sangat bersyukur, Hana dan Gio masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dengan mereka sampai sekarang.

"Udah semua? Nggak ada barang yang ketinggalan lagi?" tanya Alam.

"Nggak ada bang, udah semuanya." jawab Kava.

Alam mengangguk."Gio gimana udah siap pulang?"

"Siap banget, bang. Gue udah kangen sama yang lain pengen cepet-cepet ngumpul bareng lagi." Jawab Gio dengan semangat membuat yang lainnya tertawa kecil.

"Iyadeh si paling kangen." Celetuk Hana dengan wajah tengilnya.

"Iya iya iya ngerti banget abang kalau itu. Yaudah yuk itu mobil udah nunggu kita."

Kava berjalan lebih dulu disusul Revan dengan mendorong kursi roda Gio. Kemudian Hana dan Janna berjalan bersama. Namun baru beberapa langkah Suar menginterupsi keduanya.

"Bentar," Janna menatap Alam sebentar sebelum teralihkan karena Alam meminta tas yang sedang ia bawa.

"Sini biar aku yang bawa." Dengan lembut Alam mengambil alih tas yang lumayan berat dari tangan Janna.

"Oh ini, terimakasih kak." Jawab Janna dengan pelan karena terkesima dengan sikap Alam.

Hana yang menjadi saksi kejadian tersebut menatap tengil kakaknya. Pasalnya Alam sedari tadi tidak berhenti tersenyum bahkan saat berbicara dengan Janna. Hana menatap Alam dan Janna bergantian dengan menaik turunkan alisnya. Janna pun tersenyum kikuk karena sikap Hana.

Alam menghela nafas lelah karena adiknya satu ini. Tangannya terangkat lalu meraup wajah Hana dengan telapak tangannya yang besar itu.

"Mukamu loh ngemot banget, dek." Setelah mengatakan itu Alam berlari kecil sebelum mendengar semprotan dari Hana.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 16 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

RAVANKGAS || [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang