Ricky terbangun di jam delapan pagi, badannya sangat pegal, Ricky sedikit melirik hesa yang masih terlelap. Bibir tipisnya sedikit bergerak, gemas.
Ricky bangun dari ranjang dan pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Di dapur Ricky mengambil stok sosis dan nugget yang akan menjadi menu sarapan hari ini.
"Oh?"
"Minyaknya abis"
Ricky sedikit berjinjit karena seseorang memeluknya dari belakang, siapa lagi kalo bukan si biang keroknya.
Hesa mengendus, mencium leher Ricky dengan sensual. Tangannya tak tinggal diam, perlahan tangannya masuk ke dalam kaos Ricky kemudian mengelusnya perlahan.
"Apasih kak, geli tau ih!"
Seakan tuli hesa tetap mengelus perut rata Ricky. Ricky berdecak sebal karena hesa dan juga minyaknya.
"Anterin aku ke supermarket yuk, minyaknya abis" Ucap Ricky dan mencium pipi hesa sekilas.
"Ayo, tapi abis itu jatah ya"
Plak!
Pipi hesa di tampar kuat oleh Ricky, di saat kondisi seperti ini tetap saja meminta jatah? Memang bekik ni satu.
"Gak! Udah ayo anterin aku."
Ricky melepas paksa pelukannya jalan ke kamar sedikit menghentak hentakan kakinya, hesa terkekeh kemudian menyusul ke kamar.
Vroom!
Vroom!
Hesa sedikit ngebut di jalan dan menyelip kendaraan dijalan, ada hampir tertabrak untung reflek hesa kuat.
Mereka berhenti di salah satu supermarket di tengah kota, cukup sepi jadi kesempatan emas untuk hesa mengelus diam diam perut Ricky.
"Sekalian beli bahan yang lain ya, udah mau abis soalnya"
"Iya"
Ricky mengambil troli dan mulai memilih bahan makanan tak lupa ice cream ikan favoritnya.
Beberapa menit memilih belanjaan Ricky dan hesa jalan menuju kasir dan membayar belanjaan.
Di luar supermarket hesa tengah mencari kunci motornya sambil menunggu Ricky celingak celinguk kek orang dongo- eh?
"Eh? Apa tuh? Anak kucing..?"
Ricky lari ke tengah jalan guna mengambil anak kucing tersebut, setelah menemukan kuncinya hesa menoleh ke arah Ricky yang berada di tengah jalan, tanpa sadar sebuah truk melaju cepat ke tempat Ricky berada.
"Ricky?"
"RICKY AWAS TRUK!!"
Ricky menoleh ke arah sumber suara, hesa menghampiri nya sambil panik.
Tin tin!
Ricky menoleh ke arah kanan terlihat truk yang melaju dengan kecepatan tinggi. Hesa mempercepat larinya untuk menyelamatkan Ricky.
"RICKYYY!!!!"
BRUKK!!
KRAACKK!!
Bunyi tubuh yang terlempar tinggi ke udara diikuti dengan suara jatuh yang keras, suara ricuh dan paniknya orang menggelar jalanan yang sepi itu. Semua orang menghampiri tempat orang kecelakaan itu. Cipratan darah mengenai pagar dan trotoar jalanan termasuk seseorang yang berdiri tak percaya bahwa orang yang ia cintai kecelakaan di depan matanya sendiri.
"Ricky...?"
Tangannya memegang wajahnya gemetar, ia mengusap darah yang mengenai wajahnya itu.
"Gak mungkin... RICKYY!!"
Hesa lari menuju keramaian dan menyelak nyelak kerumunan orang itu. Tubuhnya jatuh seketika melihat tubuh Ricky yang di penuhi dengan darah. Posisi yang meringkuk, di dalamnya terdapat anak kucing yang Ricky selamatkan tadi, anak kucing itu diam tidak bersuara namun dadanya naik turun membuktikan bahwa kucing itu masih hidup.
Hesa memeluk tubuh Ricky sangat erat, tangisnya pecah begitu saja, ia mengubah posisi Ricky menjadi bersandar di pahanya. Tangan kanannya mengelus rambut Ricky.
"Ricky bangun.. Jangan tinggalin kakak! Ricky...!" Ucapnya sambil menangis.
"Siapa yang nabrak.?"
"Apa?"
"Siapa yang nabrak."
Salah satu orang menarik supir truk itu. Supir truk itu menatap hesa dan hesa yang menatapnya penuh dendam.
Matanya memerah akibat menangis, tangannya meremat jaket yang Ricky gunakan untuk menyalurkan amarahnya yang sudah diujung tanduk.
Tak lama suara ambulance datang serta mobil polisi. Semua orang mundur, namun hesa masih memeluk kuat tubuh Ricky.
"Mas, boleh mundur dulu? Tubuh ini akan segera di evakuasi"
Hesa tak menjawab namun menatap polisi itu tajam.
"Hesa udah hesa!! Ayo mundur!"
Seseorang menarik paksa hesa untuk mundur.
Di trotoar jalan, Jay memeluk hesa, mengelus punggungnya untuk meredakan emosinya.
"Sabar ya, gua yakin Ricky masih bisa selamat"
"Ga bisa."
"Udah cukup, gua tau perasaan lu gimana, tahan dulu hesa jangan gegabah!"
Hesa melepas pelukan itu dan menatap Jay, kemudian menatap tubuh Ricky yang di masukan ke dalam ambulance.
"Gua anter, ayo"
Jay dan hesa mengikuti mobil ambulance itu. Jalanan sangat macet membuat Jay kesusahan mengendara.
Di ambulance suster serta kerabatnya sedang berusaha memberhentikan pendarahan di kepala, kaki, juga lengan Ricky. Pendarahan yang hebat di bagian tangan membuat mereka kehabisan kain kasa.
Beberapa menit kemudian mobil ambulance itu sampai di rumah sakit. Dengan segera suster suster itu membawa Ricky ke ruang emergency room.
Ricky kemudian di pasangkan alat alat yang di butuhkan. Hesa dan Jay sampai di rumah sakit dan menanyakan ruangan Ricky.
"Dok keadaan Ricky gimana?!"
"Masih sangat buruk, benturan yang pasien dapatkan cukup parah, kemungkinan membuatnya lupa ingatan"
"Apa saya boleh masuk?"
"Jika pasien sudah siuman baru kalian boleh masuk"
Dokter itu melanjutkan jalannya menuju ruangan lain. Hesa tak percaya apa yang di katakan oleh dokter itu, lupa ingatan jadi apakah Ricky akan lupa dengan dirinya?
"Tolong jangan lupain kakak, Ricky.."
KAMU SEDANG MEMBACA
IS MINE! || [ HEEKI ]
Historia Cortabukan hal aneh dalam hidupnya ketika hesa menyiksanya secara tiba-tiba atau berbasa basi dahulu.
![IS MINE! || [ HEEKI ]](https://img.wattpad.com/cover/377880600-64-k856958.jpg)