Hesa menjambak rambut Ricky dan membawanya ke tempat persembunyiannya. Ricky terus mengucapkan kata maaf dan ampun agar di lepaskan dari jambakan maut hesa.
BRUK!
Hesa melempar tubuh Ricky dengan kasar sehingga Ricky meringis kesakitan. Hesa menyalakan taser nya lalu mendekatkan ke leher Ricky.
"Ampun kak, maaf..!"
"Lain kali kalo mau kabur rapihin dulu ya penyamaran nya" Ujar hesa sambil menyetrum leher Ricky.
"Aaahhh! Sakit!"
Ricky berusaha menjauhkan tangan hesa yang tengah menyetrum lehernya. Bulir bening jatuh perlahan juga mulut yang bergetar kesakitan.
Namun tangan yang beda ukuran tentu beda kekuatan, Ricky tak bisa menjauhkan tangan hesa dari lehernya.
Ricky hanya bisa menangis dan pasrah sambil memegang tangan hesa untuk menyalurkan kesakitan nya itu.
Hesa menyetrum bagian paha tangan juga dada Ricky. Tanpa ampun di setiap area yang di setrum ia menekan sangat kuat hingga Ricky teriak memohon untuk berhenti.
"Udah.. Sakit.." Ujar Ricky dan memegang lehernya yang mengeluarkan bercak ke unguan.
"Belum seberapa sama plot twist yang lo bikin."
Hesa menarik pergelangan tangan Ricky lalu mengikatnya di dinding yang ia pasang besi panjang berbentuk tabung.
Ricky menggeleng panik, ia tidak bisa apa apa lagi karena kedua tangannya di ikat kuat oleh hesa.
Hesa berjongkok di hadapan Ricky dengan tatapan remeh, ia memasukkan tangannya ke dalam celana jeans Ricky lalu mengusapnya perlahan.
Ricky sedikit melenguh, kemudian hesa mencubit kuat paha Ricky.
"Pilih satu atau dua?"
"Enghh! Sa-satu..!"
"Yakin satu? Gak mau dua?"
Ricky hanya menggeleng tak mau meladeni orang bejat di depannya ini.
Hesa melepas ikatan pada tangan Ricky lalu menggendongnya menuju mobil.
Di mobil hampir tak ada percakapan antara mereka berdua. Ricky hanya menjawab seadanya atas pertanyaan dari hesa.
"Kenapa kakak bisa bebas? Kan harusnya di penjara"
"Tiba-tiba banget, kenapa tuh?"
Hesa memberhentikan mobilnya di pinggiran jalan, ia menghadap Ricky dan menatap wajahnya dengan tatapan seperti ingin di interogasi.
"Siniin handphone lo, gua tau lo lagi ngerekam sebagai bukti kan"
Ricky menggeleng pelan sambil menggenggam handphone nya erat.
Hesa menghela nafasnya lalu melajukan mobilnya ke rumah yang baru ia beli. Rumah itu cukup besar, mewah juga banyak ruangan yang kedap suara.
Hesa memarkirkan mobilnya di garasi yang luas, muat untuk enam mobil dan delapan motor sekaligus. Ia keluar lebih dulu untuk membukakan pintu untuk Ricky.
Ricky keluar dengan kepala yang masih menunduk juga tangan yang menggenggam handphone nya erat.
"Sini handphone nya"
Ricky menggeleng pelan.
"Punya hak apa kakak ambil handphone aku?"
"Udah berani ngelawan ya.."
"Iya kenapa gak suka?!!".
Ricky membentak hesa tepat di depan dirinya, hesa yang di bentak tentu tidak terima, ia sudah menahan amarahnya untuk tidak menyiksa kesayangannya ini.
"Nantangin?".
"hng...! nghh! ugh! hnggh! ah.. aah...! ahn.. ungh mmh! heuung...! S-stop~!! Uhnmhh"
Ricky mencengkram kuat sprai dan bantal yang di gunakan. Hentakan yang hesa berikan lebih kasar dan dalam, titik manisnya di tumbuk berkali-kali sehingga Ricky dengan cepat mengeluarkan pelepasannya.
"hng...! nghh! ugh! hnggh ah.. aah...!"
Ricky menggeleng tak karuan ingin pelepasan. Hesa yang tahu Ricky ingin pelepasan untuk ke tiga kalinya menutup ujung kejantanan Ricky.
"Bareng"
"aah! gak kuathh..! lepas~! nghh!"
Hesa mempercepat hentakan untuk pelepasan juga, di hentakan ke enam akhirnya mereka pelepasan bersama. Hesa mengeluarkan spermanya di dalam kecuali Ricky yang lega setelah beberapa menit pelepasannya di tahan.
Hesa meraup rakus bibir tebal itu, hesa melumat pelan dan di balas oleh Ricky dengan perlahan. Ia mengigit kuat bibir Ricky hingga mengeluarkan darah sedikit, Ricky membuka mulutnya dan kesempatan itu tak hesa sia siakan, ia melesatkan lidahnya ke dalam mulut ricky, mengabsen semua yang ada di dalam mulut itu.
Lumat saling lumat itu di akhiri oleh Ricky yang menepuk pundak hesa. Ricky mengatur nafasnya sementara hesa sibuk mengotak atik handphone Ricky.
Cekrek!
Hesa memotret Ricky yang masih dalam keadaan yang masih menetralkan nafasnya.
"Sexy, gua kirim ke jungwon sunoo lah"
"Jangan! nghh..! balikin!"
Ricky berusaha menggapai handphone nya, namun hesa malah meninggikan agar Ricky tak bisa mengambil handphone miliknya.
"Oh? Punya grup juga toh"
Hesa membaca chatan di grup itu, ntah grup apa itu hesa tak memastikannya. Hesa berdecak berkali-kali melihat salah satu pesan di grup itu, mereka membahas tentang Ricky yang menyukai sunoo.
"Jadi lo naksir sama sunoo? Pantesan waktu itu sunoo peluk lo, lo malah senyum gak ada beban."
"Jangan di kirim fotonya, kak.."
"Janji sama gua lo harus jauhin sunoo sama jungwon."
Ricky tentu menggeleng, jungwon dan sunoo adalah teman masa kecilnya, jika ia menjauh dari mereka berdua pasti ia akan merasa kehilangan.
"T-tapi mereka temen masa kecil aku.."
"Oke gua kirim"
"Jangan!!"
Hesa menekan tombol pesawat di whatsapp itu, lalu melihat satu orang tengah mengetik.
"Yah kekirim, gimana dong?"
"HAPUS!! hapus kak! hapus.. hiks!"
"Janji dulu"
"Iya! Iya! Aku jauhin mereka asalkan hapus fotonya..."
Hesa menghapus foto yang ia kirim untuk semua orang. Ricky lega, ia panik setengah mati.
"Kak.."
Ricky menggenggam tangan kiri hesa, mengemut perlahan juga menjilatnya sensual. Ricky mengeluarkan jari telunjuk dan jari tengah hesa yang sudah terbalur dengan air liur miliknya.
"Maaf.."
"Jangan di ulangin lagi."
Ricky mengangguk lalu menarik tubuh hesa untuk memeluknya kemudian terlelap bersama.
'Buna.. Papa.. Aku gagal ikut kalian, maaf...'
cape ngetik 😃
KAMU SEDANG MEMBACA
IS MINE! || [ HEEKI ]
Cerita Pendekbukan hal aneh dalam hidupnya ketika hesa menyiksanya secara tiba-tiba atau berbasa basi dahulu.
![IS MINE! || [ HEEKI ]](https://img.wattpad.com/cover/377880600-64-k856958.jpg)