Hesa mengetuk pintu kamar ia dan Ricky keras, cemburunya yang sudah kelewatan membuat ia ingin menyakiti Ricky, lebih dari ini.
Ricky yang berada di dalamnya berusaha menahan pintunya, ya walaupun nanti pasti Hesa berhasil membukanya.
Ricky melihat sekeliling agar ia segera mendapatkan ide, binggo! Ide yang harus ia lakukan hanya menunggu suara ketikannya lalu menahannya menggunakan sofa yang ada di dalam kamar.
Lima menit sepuluh menit, menunggu agak lama akhirnya suara ketukan pintu tersebut tak terdengar lagi, Ricky segera menggeser sofa yang paling dekat dengan pintu ia letakkan di belakang pintu, agar lebih susah Ricky menambahkan satu sofa lagi.
Dan sekarang, Ricky hanya perlu sembunyi ia berlari sana sini untuk menemukan tempat persembunyian yang aman, yap! Ia bersembunyi di kardus bekas ia dan Hesa membeli hiasan kamar beberapa hari lalu. Dengan susah payah ia sembunyi di kardus bawah dan meletakkan kardus kedua di atasnya pelan.
// Brakk!!
Pintu berhasil Hesa dobrak hanya dengan menggunakan kaki dan tangan, dengan nafas yang terengah engah Hesa melihat sekeliling, masih rapih, wangi.
"DIMANA LO RICKY?! GAK PUAS PUAS LO YA BIKIN EMOSI GUE SELALU NAIK?!!"
Ricky menutup mulutnya dengan tangannya berusaha tak mengeluarkan suara, sialnya handphone Ricky menyala ada telpon masuk dari Jungwon.
Hesa membalikkan badannya menghadap kardus, ia sudah tau pasti ini Ricky, nada dering nya sangat ia kenali, shout out.
Hesa bersiul pura pura tidak mendengar suara dengan tersebut, kardus tersebut bergerak gelisah membuat kardus kosong yang mennindih kardusnya akhirnya jatuh.
Hesa berjalan mendekati tempat persembunyian Ricky.
// Srett!!
Hesa menarik rambut Ricky sampai pemuda di dalamnya meringis.
"Ahkk! Sakith! Lepas kak!"
"Ketemu! Udah gue bilangkan? Jangan deket deket sama si Jung Jung itu!"
"Lo dapet hukuman sekarang, anak kecil kalo ngebuat kesalahan pasti harus di hukumkan?"
"Gue bakal hukum lo lebih dari ini!"
Ricky ketakutan setengah mati, hukumannya lebih dari yang biasanya ia dapatkan? Gak! Gak akan terjadi! Ricky memberontak saat Hesa menarik rambutnya menuju kasur.
"Lo bisa diem gak!"
// plak!
// Plakk!!
Tamparan kedua membuat ujung bibir Ricky mengeluarkan darah, Ricky meringis tapi Hesa tak mempedulikannya dirinya lanjut menarik rambut orang yang akan ia hukum ke kasur.
Tubuh Ricky ia lempar layaknya boneka, Ricky menatap Hesa ketakutan. Hesa maju dan terus maju sampai ia menindih tubuh Ricky.
"Kenapa lo bohong? Emang gue pernah ngajarin lo ngebohong?" Tanya Hesa dengan nada pelan tapi menurut Ricky itu menyeramkan.
Ricky menggelengkan kepala sebagai jawaban ia sendiri takut mengeluarkan suara jadi sebagai jawaban ia menggelengkan kepala.
"Punya mulutkan?"
// Plakk!
"JAWAB!" Hesa menampar Ricky untuk ketiga kalinya.
"E-enggak.."
"Yaudah, kenapa lo bohong ke gue?" Tanya Hesa sambil mengelus paha dan perut Ricky, Ricky hanya memakai celana di atas lutut dan baju oversize putih.
"Janganh dulu.. Rickyhh belum siaph.."
Hesa mengabaikan mohonan Ricky. Ricky terus memohon agar hukumannya tak dilakukan, Hesa tetaplah Hesa mau bagaimanapun pasti ia lakukan, jika sudah terangsang pasti bodo amatan.
"Yaudah!" Hesa menggigit pundak Ricky sama seperti beberapa hari yang lalu, Ricky meringis menahan sakit sekaligus menahan suara lantam yang akan keluar dari mulutnya.
Nada dering dari Handphone Ricky bunyi ada telfon masuk dari Jungwon lagi, Ricky sambil menahan segala suaranya hanya untuk mengangkat telfon tersebut.
"Halo?"
"I-iyah? K-kenapahk?"
"Rik? Lo gapapakan?"
"Ap-a? Iyah gua gapapa.."
"Lo abis ngapain anjir? Suara lo ambigu.."
"Abis bangunh hngh..tidurhh"
"Oh, yaudah deh gue tutup ya, dahh!"
"Iy-iyaa"
Telpon sudah selesai dan ini waktu emas bagi Hesa.
"Maunya kasar or lebih kasar?"
Ricky yang di kasih pilihan tersebut tambah takut, ia harus memilih kasar or lebih kasar? Ricky berfikir lima menit berpikir akhirnya ia mendapatkan jawaban.
"Kasar.." Jawabnya ragu dan pelan, tapi tetap terdengar sama Hesa.
"Apa? Lebih kasar? Okay, let's start."
Ricky panik sangat panik ia tahu apa yang akan terjadi apa dirinya..
***
"Ahh.. Ahh.. Ngnhh.. Hess-sahh..! Sakithh.. Janganhh tulish Ricky.. Nghh.. Mohonh.. Nghh.." Ricky memohon terus menerus pada Hesa yang memegang sebuah cutter agak besar.
".... "
Suara cutter yang di naikkan membuat Ricky semakin takut.. Tanpa basa basi Hesa menulis kalimat Is mine pada pipi dan pundak Ricky. Rasa sakit dan nikmat membuat Ricky terangsang dengan sendirinya.
"Ubah posisi dog style sekarang, gue mau nulis di punggung lo" Bilang pada Ricky yang terengah engah, ia membalikkan tubuh Ricky menjadi tengkurap.
"Engghh... Sakithh.. Sakithh.. Pelanhh kak Hesshh.." Ricky meremas sprei kuat ia luapkan seluruh kenikmatan dan kesakitan yang ia terima.
Hesa menggerakkan tangannya yang memegang cutter pada pinggang rampung Ricky, pinggang kecil, sexy itu membuat Hesa ingin menyakiti Ricky setiap jam.
Hesa melihat hasil karyanya begitu banyak tulisan is mine is mine itu sekitar sepuluh tulisan Is mine.
Beruntung Ricky dapat menahan semua itu, yaa pernah ia pingsan karna kelelahan tapi Hesa membangunkannya dengan cara di jambak dan menjilat, menggigit, dan menghisap leher Ricky.
Ricky tumbang saat Hesa akan membuat kalimat is mine di kaki dan paha Ricky. Hesa membiarkan Ricky tidur karna ia juga kelelahan, baring di samping Ricky lalu memeluknya, soal ia akan membuat kalimat is mine di kaki dan paha Ricky besok saat ia bangun..
TBC
Makin sepi nihh, vote dungg 🤭🆙🆙
KAMU SEDANG MEMBACA
IS MINE! || [ HEEKI ]
Historia Cortabukan hal aneh dalam hidupnya ketika hesa menyiksanya secara tiba-tiba atau berbasa basi dahulu.
![IS MINE! || [ HEEKI ]](https://img.wattpad.com/cover/377880600-64-k856958.jpg)