Written by. Sheliu.
Zaman sekarang banyak banget cowok manipulative dengan berbagai macam taktik untuk menarik targetnya masuk ke dalam perangkap. Ada istilah love-bombing, gaslighting, kemudian benching. Benching ini adalah istilah paling kampret dan mewakili apa yang dilakukan Zozo ke aku.
Jadi tuh maksudnya adalah orang yang tertarik sama kamu tapi masih nggak yakin sama perasaannya dan nggak berusaha buat jadiin kamu pacarnya. Itu tuh cerminan Zozo banget. Gimana nggak? Bisa tiba-tiba ngomong ngaco kayak gitu, tapi nggak pernah nunjukkin sikap yang proper, juga terlihat skeptis. Kalau ditanya, bukannya kasih jawaban yang jelas, malah muter-muter kayak merry go round. Nggak jelas banget!
Arrrggghhhh, aku tuh kesel banget deh. Semuanya karena terlalu banyak konsumsi motivasi dan istilah zaman now dengan pengetahuan yang makin bikin overthinking aja. Intinya adalah aku nggak yakin kalau Zozo suka sama aku karena yah aku kayak gini, nggak menarik, nggak cantik, nggak terlihat meyakinkan, dan kayaknya kalau jalan sama dia juga kebanting banget.
Bukan mau merendahkan diri sendiri tapi aku tahu diri banget. Apa lagi, kami bukan berasal dari keluarga yang sama hastanya. Status sosial? Bagai bumi dan langit pokoknya. Dia yang punya segalanya, dan aku yang nggak punya apa-apa, udah gitu pake kabur dari rumah dan nggak dianggap anak pula. Mana ada orang tua yang mau anaknya bergaul sama anak rebel kayak aku?
Astaga, Ra, makin lama otak lu makin perlu dicuci bersih karena makin lu mikir makin nggak bener deh isiannya. Heran.
Sejak diajak quality time waktu itu, aku dan Zozo adu mekanik untuk nggak ngomong satu sama lain. Istilah zaman sekarang? Silent treatment. Entah karena ego tapi aku yakin aku nggak punya ego, cuma aku sanksi aja kalau Zozo itu serius. Pikiran jelekku dia cuma mau mainin aku. Well, kalau boleh jujur, segala sesuatu tentang Zozo nggak ada baiknya.
Trus kenapa waktu bobo bareng sama dia, lu mau aja, Ra? Kan? Semakin menjadi aja isian otakku dengan adanya malaikat dan setan yang saling berargumen. Duh, aku jadi makin ngga jelas. Huhuhuhu, aku nggak tahu harus gimana, ya Lord.
Meski aku perlu akui kalau aku sedih kalau tahu Zozo bakalan pergi dan aku nggak bareng sama dia lagi. Aku juga lagi cari tempat kost baru yang entah kenapa nggak ada pilihan menarik selain rumah rangkap kantor Zozo yang aku tempati sekarang.
Dan aku juga nggak tahu kenapa aku bisa merasa sedih seperti ini. Raraaaaaa, lu bener-bener ya. Kelarin cepetan urusan overthinking ini biar Sheliu nggak perlu tenggelam dalam lautan emosi yang nggak diperlukan, woi. Beban mentalnya baru aja dikuras, trus Rara nambah beban lagi.
"Aduh!" seruku saat merasakan adanya hentakan di kening seperti sebuah gulungan kertas padaku.
"Bengong trus! Kerja yang bener!" Hardik Zozo sambil duduk di depanku.
Aku menatapnya cemberut sambil mengusap keningku. "Nggak bisa panggil nama? Emang perlu banget ketokin jidat orang pake kertas?"
"Biar lu balik ke kenyataan, Sister! Udah nggak zaman buat bengong kalau lu lagi bingung sesuatu!" balas Zozo ketus.
"Mau lu apa?" desisku kesal.
"Ini tiket gue. Jadinya, gue bakalan berangkat Kamis minggu ini," tukas Zozo.
Keningku berkerut bingung sambil menatapnya heran. "Kata lu masih minggu depan."
"Memang, gue akan mulai kelasnya minggu depan tapi gue berencana untuk berangkat minggu ini, sengaja lebih awal buat ke sana," sahut Zozo.
Aku terdiam dan menunduk untuk menatap gulungan kertas yang tadi dipakai Zozo untuk menepuk keningku. Ada rasa sedih yang makin menguar dalam dada hingga napasku terasa berat. Kok dia jadi lebih cepet berangkatnya? Dan kenapa aku merasa kecewa?
KAMU SEDANG MEMBACA
Benching Chad
RomansaIn Collaboration with @CH-Zone The peanut to my butter. Glaze on my donut. Cherry to my sundae. Milk to my cookie. Cheese to my macaroni. But... Never an option. Just on benching Chad. WARNING: MATURE CONTENT (21+) Ini adalah cerita kolaborasi dan a...
