Written by. Sheliu.
Aku kayak nggak punya kaki. Kayak mati rasa gitu. Nggak tahu karena udara yang masih dingin di musim semi ini, atau aku masih galau sejak mendarat tadi pagi. Ini pertama kalinya aku liat negeri orang yang waktu kecil aku pikir itu Jepang bakalan kayak di film anime. Diliat langsung kayak gini, bayanganku bubar semua. Beda banget.
Tokyo itu...sibuk. Kotanya tertata, padat, dan teratur. Meski rame, tapi orang-orang tuh jalan bener-bener kayak robot gitu, cepet banget jalannya, trus tatapan bener-bener ke depan. Intinya sih, Jepang itu nggak selow friendly. Kalau kamu lelet, bisa ketabrak orang jadinya.
Selagi aku masih bingung dengan suasana sekitar dan perasaan sendiri yang masih galau, Zozo malah keliatan santai dan mukanya datar banget. Earbuds dipasang di salah satu telinga, Zozo terlihat kayak warlock yang keliatan cuek seolah-olah apa yang ada disekelillingnya itu hal yang biasa. Meski begitu, Zozo sempet tersenyum waktu ada nenek tua yang lewat, sambil membungkuk sedikit, dan aku ikutin caranya untuk memberi salam yang sama ke nenek itu.
"Laper?" tanyanya santai waktu kami udah menyebrang ke sebrang jalan.
Aku cuma bisa mengangguk sambil ngikutin Zozo yang jalannya cepet banget. Orang-orang disekitaran aku juga sama, jalannya nggak bisa santai. Kita berjalan melewati lorong yang berkelok-kelok, aku sampai nggak berani jauh-jauh dari Zozo karena nggak mau nyasar.
"Kalau disini kita nggak bisa kayak di Indo, jadi pelan-pelan belajar buat ngerti, oke?" ujar Zozo sambil merangkul bahuku untuk tetap mendekat padanya.
Aku cuma bisa mengangguk lagi.
"Capek, ya? Sabar, bentar lagi sampe," cetus Zozo lagi.
"Emangnya lu udah pernah kesini?" tanyaku spontan.
Zozo berdecak pelan sambil melirik judes padaku. "Lu mikir dong sebelum nanya. Emang mungkin gue mutusin lanjut studi di sini sebelum gue cari tau? Ya pernah lah! Gue udah survey dari kapan tau, jauh sebelum kenal sama lu."
Aku sebenarnya tahu kalau Zozo itu adalah orang yang cerdas dan nggak sembarangan ambil keputusan dalam hal apapun sejak aku kerja bareng sama dia. Tapi karena aku masih galau, aku jadi nggak tahu mau ngomong apa. Kayak ada yang ketahan, kalau nggak dikeluarin tuh jadinya mumet di dalem gitu. Ugh, sebel kalau kayak gini deh.
Kita berhenti tepat di sebuah kedai ramen kecil yang kayaknya udah lama banget. Bangunannya nggak instragammable, nggak ada menu dalam bahasa inggris di etalase, cuma ada uap di atas panci besar dan aroma kaldu yang sukses bikin aku lapar karena belum makan sejak dari bandara.
Tempatnya kecil, cuma ada beberapa bilik dan satu bar yang dipenuhi bangku. Di temboknya ada foto-foto polaroid yang sudah pudar dan coret-coretan kayak mading, mungkin itu semacam spot buat para tamu yang pernah makan disitu dan kasih coretan kenangan.
Zozo suruh aku duduk di bangku pojok dan aku nurut aja. Sambil duduk di sebelahku, Zozo memesan makanan dalam bahasa jepang yang terdengar fasih. Kaget, juga kagum, aku liatin dia dengan tertegun, seolah dia keren banget. Aduh, gawat, suara Zozo dalam bahasa jepang kenapa terdengar... seksi dan keren sekali?
"Lu baik-baik aja?" tanya Zozo sambil menoleh padaku dengan ekspresi tengil.
Aku mengerjap, mikir bentar, trus mengangguk pelan walau masih galau. "Baik, kok."
Zozo cuma nyengir dan mengangkat bahu. "Kebawa suasana? Nggak usah mikir yang nggak-nggak deh. Capek."
Aku cuma diem aja karena mikir apakah aku emang suka mikir yang nggak-nggak? Tapi kalau emang nggak-nggak, kenapa malah jadi merasa ada yang menjanggal dalam hati?
KAMU SEDANG MEMBACA
Benching Chad
RomanceIn Collaboration with @CH-Zone The peanut to my butter. Glaze on my donut. Cherry to my sundae. Milk to my cookie. Cheese to my macaroni. But... Never an option. Just on benching Chad. WARNING: MATURE CONTENT (21+) Ini adalah cerita kolaborasi dan a...
