Part. 25 - Saturdate.

1.4K 211 27
                                        

Written by. CH-Zone

Nggak berniat buat bersikap cheesy ato menye-menye, tapi gue akui kalo Rara bikin gue nyaman. Doi cukup tegas dalam bersikap ato menyampaikan pendapat, khususnya soal kerjaan, apalagi kalo doi merasa bener. Bah! Tewas. Rara juga bisa bedain waktu buat santai, serius, ato galau cuma gegara es krim yang baru dibuka jatuh karena gak sengaja.

Rara punya kebiasaan lucu. Kalo makan sesuatu yang enak, doi bakalan goyang-goyangin badan dan kepala sambil manggut-manggut gak jelas. Pasang muka bego kalo lagi mikir, suka gigit kuku kalo panik, juga auto risih kalo ada debu dikit dan doi langsung ambil tisu buat ngelap. Hal receh kayak gitu aja bikin gue nyengir gak jelas. Tholol.

Dalam rencana bikin anak orang jatuh hati, gue ajak doi jalan-jalan ke alam. Gue termasuk pecinta alam dan dalam setahun minimal tiga kali harus nanjak. Bukan kepengen dibilang keren ato punya story bagus di sosmed karena fuck with those shit show in digital craps. Gue bahkan lupa akun sosmed sendiri dan bisa jadi udah banyak sarang laba-labanya karena jarang gue liatin. Gue nanjak karena gue butuh.

Kesibukan kerja itu bikin nagih tapi juga bikin gila di saat yang sama. Saat lu bisa mencapai target, lots of money coming into your bank account, and that's it. You can never have enough, you want more, and more, and more, until it haunts you to the core. I won't that shit happens to me, so I need to stay low and grounded. Bonding with nature is the answer.

"Lu bisa?" tanya gue saat kami tiba di titik tertinggi air terjun.

Nggak tanggung-tanggung, gue ajak Rara buat climbing air terjun dari atas sampe ke bawah dengan tali pengaman. Tadinya, gue ragu ajak doi tapi gue yakin doi bisa. Meski perawakannya kecil, tapi nyali boleh diadu sama tukang daging babi yang suka pegang golok buat bacok di pasar lol.

"Udah sampe sini nggak usah nanya kayak gitu. Basa basi!" jawab Rara judes sambil memperhatikan dua orang pemandu yang sedang mempersiapkan beberapa alat untuk kami turun kesana.

Apa gue bilang? Tuh cewek emang nggak bisa diremehin kalo ditantang, pasti punya niat yang nggak bisa diremehin. Kayak sekarang.

"Kita bisa turun bareng dan ini cukup mudah, gue..."

"Nggak usah bareng," sela Rara cepat tanpa mengalihkan tatapannya pada air terjun yang mengalir deras di bawah sana. "Gue mau coba sendiri."

See? Lagi-lagi cewek itu bikin gue kicep. Ngehe banget sih yang nulis dengan bikin timbulnya rasa cuma hal receh kayak beginian. Semacam curhat pribadi yang nggak kesampean buat memiliki trus dijadiin nyata lewat halu. Well done, Pussy.

"Oke," sahut gue bangga.

Kami mendengar beberapa hal dari pemandu dan kemudian memakai alat pengaman yang disiapkan. Gue nggak berenti nyengir kayak orang tolol ngeliatin Rara yang keliatan mulai takut tapi semangat. Cewek ini punya bakat terpendam bikin bucin mendekati jijik buat gue. Ancuk.

Gue kasih Rara untuk turun lebih dulu dan mengambil beberapa potret candid. Gerakan pertamanya cukup lambat karena dia mencoba mencari keseimbangan dengan meyakinkan pijakan kakinya dan menyesuaikan pegangan tangan pada tali pengamannya.

Gue menyukai bagaimana Rara tampak fokus, meski nggak balesin apa-apa saat pemandu mengarahkan tapi doi mengikuti semua arahan dengan patuh. Nggak pake lama buat doi bisa turun dalam keseimbangan lewat melompat mundur dan mendarat dalam tapakan singkat. Selama Rara ngelakuin hal itu, selama itulah kamera gue terarah ke doi buat merekam.

Doi udah mau sampe ke titik terbawah, gue pun langsung mengambil alih jalur untuk menyusulnya ke bawah. Karena trek yang gue ambil adalah yang termudah supaya pemula kayak Rara bisa lakuin jadi gue bisa menyusul Rara dalam hitungan detik.

Benching ChadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang