Aku nggak edit lagi karena udah ngantuk berat, juga kelupaan sih. 😅🙏
Happy reading 💜
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Aku menggeliat sambil mengerang pelan karena tidurku nyenyak banget. Bisa dibilang ini adalah tidur paling nyenyak yang aku dapatkan. Membuka mata sambil melihat sekeliling, aku segera terbangun dan baru sadar kalau aku tidur di ruang tengah di sofa panjang yang kutiduri bersama Zozo.
Zozo? Ya Tuhan, aku menutup wajah sambil memekik pelan karena urusan semalam. Zozo marah sama aku dan main tinggalin aku ke atas. Harusnya aku takut tapi karena ngantuk, aku tidur disini sampai sekarang. Aku juga bingung kenapa Zozo bisa marah padahal kan dia minta kiss dan aku mau kasih.
Segera beranjak, aku melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas. Kesiangan banget dan aku harus buru-buru karena nggak tahu jam berapa harus balik ke Jakarta. Suasana sunyi di villa menandakan aku disitu sendirian. Nggak mungkin kan Zozo tinggalin aku disini dan balik Jakarta sendirian?
Nggak suka dengan pikiranku, aku segera naik ke lantai atas menuju kamar Zozo untuk memastikan kalau dia masih ada dan... deg! Kok ada cewek bule keluar dari kamar Zozo pake kaos kebesaran dan nggak pake bra? Itu putingnya keliatan banget dari sini loh.
Dari belakang, Zozo ikutan keluar dari kamar dengan muka yang baru abis bangun tidur. Aku Cuma bisa bengong melihat mereka berdua yang juga liatin aku dengan varian ekspresi. Cewek bule dengan ekspresi bingung, dan Zozo dengan ekspresi judesnya.
Cewek bule itu bertanya sama Zozo tentang siapa aku, dan Zozo membalas bukan siapa-siapa sambil narik cewek itu berjalan melewati aku. Berbalik, aku menatap Zozo nggak percaya. Kok bisa-bisanya dia kayak anggap aku nggak ada?
"Zozo!" seruku sambil menahan langkahnya dengan mencengkeram satu tangannya yang langsung ditepis olehnya.
"Apa sih?" decaknya sebal.
"Kenapa bisa ada cewek bule disini?" tanyaku spontan.
"Emangnya kenapa? Ini kan vila gue! Suka-suka gue mau bawa siapa aja!" balas Zozo sambil mengangkat alis tinggi-tinggi.
"Tapi..."
Tapi kan semalam masih bareng sama aku? Dan kenapa bisa ada cewek lain saat aku ditinggal sendirian di bawah? Aku nggak bisa sampaikan itu karena cuma bisa ngomong dalam hati dengan perasaan yang membingungkan.
"Tapi apa?" lanjut Zozo galak.
"Nggak apa-apa," cicitku lemah.
Zozo berdecak dan hendak melanjutkan Langkah lalu mendesis kesal saat aku kembali menahannya. "Apaan lagi sih?"
"Kita kapan balik ke Jakarta?" tanyaku.
Zozo mendengus dan menoleh pada cewek bulenya untuk mengatakan agar segera turun ke dapur dan nanti dia akan menyusul. Cewek itu tersenyum dan mencium pipi Zozo, lalu turun dengan riang disana. Kok aku nggak suka ya caranya kayak gitu?
"Soal pulang ke Jakarta..." suara Zozo membuatku kembali menatapnya dan mendapati Zozo yang terlihat menyebalkan. Mukanya busuk banget, aku nggak suka. "Lu pulang duluan. Gue masih ada urusan disini."
"Apa?" seruku kaget.
"Nggak usah lebay." Sahut Zozo ketus.
"Kenapa sendiri?" tanyaku langsung.
"Kenapa nggak?" balas Zozo nyolot.
"Lu kan tahu kalau gue nggak berani sendirian," sahutku.
"Itu urusan lu! Pokoknya gue akan stay disini sampe akhir minggu. Lu balik ke Jakarta sore ini dan tiket udah gue pesenin. Nanti bakalan ada supir yang jemput lu buat ke bandara," ucap Zozo tengil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Benching Chad
RomanceIn Collaboration with @CH-Zone The peanut to my butter. Glaze on my donut. Cherry to my sundae. Milk to my cookie. Cheese to my macaroni. But... Never an option. Just on benching Chad. WARNING: MATURE CONTENT (21+) Ini adalah cerita kolaborasi dan a...
