"Daddy cepatlah, kak Will sudah menunggu di bawah."
Vander masih tetap tenang memakai dasinya, tak terpengaruh dengan rengekan si kecil.
"Daddy cepatlah loh. Ael sudah selesai ini, masa daddy belum selesai."
"Nanti dulu Ael, bersabarlah atau kita tidak keluar sama sekali." Ajaib, mulut itu terkatup rapat namun tidak bola matanya yang semakin membesar memandang marah pada sosok besar Vander.
"Ini apa? Lepas dulu kaki Dad." Namun anak itu menggelengkan kepalanya. Tetap pada tempatnya yang bergelantungan, memeluk erat kaki Vander.
"Kau yakin kakakmu itu akan ikut?"
Surai coklat pirang itu terangguk dengan penuh semangat kemudian menggandeng tangan yang jauh lebih besar darinya itu. "Um! Kak Will bilang dia akan menemani Ael pas daddy berangkat ke kantor nanti."
Seperti biasa, Vander hanya berdehem singkat. Sedikit terkejut pula jika putra sulungnya itu rela keluar rumah demi menemani si kecil. Berniat ingin langsung membawa si bungsu ke kantornya setelah selesai membeli keperluan Ael namun melihat pergerakan si sulung membuat Vander mengurungkan niatnya. Karena bukan hanya kantornya yang akan dia kunjungi hari ini, melainkan markas Balckmoon juga harus dia urus.
"Kemarilah." Ael menggelengkan kepalanya saat Vander hendak meraihnya ke dalam gendongan.
"Mau jalan sendiri." Si kecil berkomentar sembari menunjuk kedua kakinya yang terbalut sepasang sepatu sneakers branded.
Baiklah-baiklah Vander angkat tangan dia hanya menggandeng tangan si kecil menuntun anak itu turun ke lantai bawah. Kaki kecil itu menapak semangat di lantai marmer, memamerkan pada para anggota Blackmoon yang berjaga di setiap sudut mansion mengenai sepatunya pemberian dari sang Ayah.
"Paman liat, ini sepatu kesayangan Ael. Daddy aku yang beliin, bagus kan?" Langkah kaki kecilnya terhenti membuat langkah Vander juga ikut berhenti, menatap bungsunya yang kini mendongak untuk melihat wajah salah satu anak buahnya.
"Ael ayo--"
"Paman bilang dulu kalau sepatu Ael bagus. Jangan cuma diem, nangis ni aku." Bibirnya mencebik kebawah merasa tindakannya masih tidak mempengaruhi pergerakan dari sosok pria tegap berwana datar itu.
Vander menghela nafasnya pening dengan kelakuan si bungsu yang benar-benar aktif tak bisa sehari saja tidak bicara. "Ael tidak boleh memaksa seseorang, ayo kamu bilang kakakmu sudah menunggu--"
"Bentar, aku mau nangis dulu!" Si kecil memekik heboh dengan suara halusnya. Sekali lagi Vander memijat pelipisnya pening dengan banyaknya drama yang di lakukan kesayangan Seline itu.
Sepasang mata bulat itu terlihat memerah siap menumpahkan tangisnya yang dengan mudah dia ciptakan. Membuat sosok tegap tanpa ekspresi itu segera menundukkan kepalanya sejenak. Berusaha menarik sudut bibirnya yang terasa sangat kaku itu.
"Iya tuan kecil, sepatu pemberian tuan besar Vander pada anda terlihat sangat bagus. Anda terlihat sangat tampan memakainya." Ujar pria itu tenang. Vander pun melirik anak buahnya sekilas.
Berubah drastis dari yang tadinya ingin menangis kini wajah manis itu terlihat memerah karena malu. "Terimakasih atas pujiannya paman."
Hendak memeluk anak buahnya namun dengan sigap Vander mengangkat anaknya ke gendongannya. Menyembunyikan wajah manis itu di dadanya.
"Sudah cukup dengan semua dramamu sekarang ayo pergi jika tidak ingin William berubah pikiran." Suara berat Vander perlahan lenyap di balik lift, anak buahnya tadi hanya bisa berdehem singkat dalam keheningan sampai ekor matanya tak sengaja melirik rekannya yang juga sedari tadi menonton drama di depannya tadi. Rekannya tersenyum miring tipis. Melihat tingkahnya yang meladeni drama anak tuan besarnya tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Baby Delathore
FanfictionAelky Fael. Bayi 5 tahun yang harus tinggal terombang ambing kadang di jalanan kadang di panti asuhan karena pada dasarnya anak itu sudah dibuang oleh keluarga kandungnya sendiri. bahkan ibu biarawan panti juga tak mau mengurus nya sama sekali. "ug...
