Baby 13

8.1K 712 34
                                        

Deruh nafas kecil itu berhembus tenang, perut bulat kecil yang terekspos itu bergerak naik turun saat si kecil menarik nafasnya perlahan. Netra bulat berair itu mengerjap pelan.

Merasa tidak ada siapapun di dekatnya segera dia turun dari atas kasur. Netranya sudah tidak mengantuk lagi membuatnya reflek mengemut jemari kecilnya.

Kakinya terus melangkah pelan menyusuri koridor lantai bawah Mansion. Masih terlihat sepi karena ini pukul enam pagi. Sudah menjadi kebiasaan Ael bangun pagi. Penglihatan kecilnya melirik beberapa pria tegap berpakaian hitam yang terus berjaga di Koridor, mereka terus memandangnya seolah dia adalah sosok yang begitu di jaga ketat gerak geriknya. Bahkan dia sempat terjerembab ke lantai namun dengan sigap salah satu pria di sana mengangkat tubuhnya.

"Tuan kecil ingin menemui Daddymu?" Kepala bersurai coklat cerah itu terangguk sedikit saat suara itu tertuju padanya. Masih mengemut jemarinya, pria yang menggendongnya itu segera melangkah menyusuri koridor sepi.

Pintu di ketuk oleh pria itu kemudian tak lama sebuah suara dari dalam terdengar. Itu suara Daddynya. Merasakan intuisi ketenangan dari dalam ruangan, Ael bergerak ribut di dalam gendongan pria itu hendak segera turun.

Setelah memandang pintu ruangan Vander yang kembali tertutup rapat kini mata coklat terang itu memandang sosok pria yang tengah duduk tenang di kursi kerjanya. Sepasang netra tajam itu berkilat di tengah redupnya ruangan Vander. Meneliti tiap inci wajah si kecil yang kini mulai melangkah mendekati suami Seline itu.

"Mommy mu baru saja pergi. Selama satu minggu ke depan kamu bisa bertahankan tanpa Seline?" Vander bersuara seraya menggulung lengan kemejanya.

Ael tampak terdiam namun kemudian anak itu mengangguk mengerti. Dia mengerti situasi yang mengharuskannya untuk tidak rewel saat Seline sedang tidak ada. Maka dengan gerakan lesunya dia mendekati Vander.

"Susu," Suaranya masih terdengar parau hampir seperti merengek.

Vander menggeser macbooknya di atas meja kemudian dengan sigap mengangkat si kecil mendudukkan anak itu ke atas mejanya.

"Tunggu disini sebentar." Kepala bersurai coklat pirang itu terangguk singkat mengikuti arah dimana Vander tengah menyeduh susunya di sudut ruangan. Vander risih saat yang bukan perlengkapan kerjanya berada di ruangannya, namun demi kebutuhan bungsunya Vander menyiapkan dapur kecil di sudut ruangan kerjanya khusus agar Ael tidak terlalu lama menunggu di manapun anak itu berada.

"Daddy apa Amy perginya karena kerja?" Ael bertanya pada Vander, situasi terlalu tenang dan tentram membuat si kecil merasa risih jika terus berdiaman.

"Yaa, jadilah anak yang baik untuk satu minggu kedepannya. Dimohon untuk kerja samanya Ael." Vander mendekat kemudian memberikan kecupan kecil pada putra bungsunya itu.

Namun Vander terkekeh rendah saat botol susu di tangannyalah yang di raih oleh Ael bahkan sebelah tangan kecil itu mendorong kuat dada Vander.

"Kamu hanya inginkan susumu tapi tidak memberikan daddy imbalan setelahnya." Mulut anak itu akan terbuka ingin mengatakan sesuatu namun Ael urungkan. Memilih dengan santai menyesap susunya membiarkan saja Vander yang bersedekap dada memandang angkuh anaknya kurang ajarnya itu. Kecil-kecil sudah calak dan pelit.

"Daddy ngerjain apa? Nanti, Ael kalau udah besar mau cari duit banyak-banyak biar bisa beliin Amy Sel, rumah."

"Seline sudah banyak harta dan rumah. Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu, nak ingat. Ibumu adalah Seline Delathore, bahkan tanpa adanya marga di belakang namanya pun, dia tetaplah wanita kaya raya." Vander membalas ucapan Ael. Masih memperhatikan bagaimana saat mata bulat melirik layar macbooknya.

Baby Delathore Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang