"papa?!"
~§~
Kini di ruang tamu rumah Nachia terdapat 4 orang yang sedang merasa terintimidasi. Harusnya sore itu menjadi sore dimana ke empat sejoli itu bermersaan, memadu kasih. Namun sirna dalam angan semata, seperti debu yang tertiup angin.
"huft... ternyata bener rumornya selama ini." Ucap satu satunya pria yang ada di ruangan itu. Satu satunya oranh yang membuat ke empat gadis di hadapannya merasa kaku dengan nafas yang tercekat. "selama ini papa pikir kalian hidup aman dengan normal... ternyata papa salah ya?"
"pa.. m-maafin aku... a-aku aku beneran-"
"diam nina! papa ga minta penjelasan."
Nachia belum sempat menyelesaikan omongannya, namun papanya sudah lebih dulu memotong dengan nada yang sedikit tinggi.
Terlihat di sofa paling kiri terdapat gadis tinggi yang sudah banjir keringat. Dan di sofa paling kanan sudah diam mati kutu merutuki dirinya sendiri. Bahkan untuk bernafas saja sulit mereka berempat.
"regi dan angkasa ya..." pria itu menjeda kalimatnya. Ia memijat pelipisnya sedikit. "papa ga nyangka kalian bakal bohongin papa. kamu anin, kamu bahkan rela berbohong pada papa?!"
"kami ga bohong pa, memang nama mereka itu. papa kal-"
"pak aran maaf kalau saya lancang tapi izinkan saya menjelaskan. teman saya ini bernama Regina wiliam candra. dan memang nama panggilannya Regie. dan angkasa nama tengah saya sendiri." Jelas Nala. Ia memotong ucapan Anin sebelumnya. Dengan semua keberaniannya dia mencoba untuk bersuara, membela cintanya.
"t-tunggu... dari mana kamu tau nama depan saya?" tanya Aran syok. Selama ini orang orang hanya akan memanggilnya dengan marga keluarganya yaitu Khaulah. Namun kali ini, untuk pertama kalinya ada orang asing yang memanggilnya dengan nama itu.
"saya, Naila Angakasa Vadela. mungkin anda mengenal alm. papa saya, Ravadela Adel?" Tunggu apa ini. Apakah sebelumnya Nala sudah mengenal Aran?
"a-adel?!" "apa maksudmu almarhum?!" tanya Aran kaget.
"om belum dapat kabar kah? papa saya meninggal beberapa waktu lalu. om teman sma papa saya kan."
"ga ga, ga mungkin. k-kamu anak adel dan ashel?"
Nala tersenyum. Dibandingkan tadi ekspresinya jauh lebih tenang sekarang. Berbeda dengan Nachia, Anin, Regie; mereka malah memasang wajah bingung sekarang. "maksudnya apa ini pa? papa kok bisa kenal sama om ravadel?" tanya Nachia.
"j-jadi benar kamu anak adel? huh dunia itu sempit ya... anak-anak papa udah besar. kalian ga salah, disini papa yang salah. harusnya papa berada di sisi kalian bukan mengawasi kalian hanya dari jauh." Aran sudah tak lagi memasang tatapan tajamnya lagi. Namun wajahnya kini nampak sendu tapi tetap ada aura ketegasan terpancar di sana.
"regi? angkasa? kalian bantu anin dan nina masak ya... malam ini kita makan malam bersama. papa mau ke atas buat bersih bersih dulu." Aran bangkit dari single sofa yang tadi ia duduki. Kemudian berjalan perlahan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Kini ada tiga pasang mata yang menatap kearah Nala. Sebuah tatapan menuntut kejelasan, penjelasan. Dan kini Nala tampak kembali gugup. "a-apa? kenapa pada natap gue kaya gitu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA ANGKASA
Random⚠️END⚠️ Top tagar 11 Juli 2025 🥇#na2 "ga semua orang paham perasaan kami" ujar nala "tapi ga harus berantemkan? ga harus main pukul kan? kamu udah janji sama aku nal" tanya nachia "kamu mah enak chia keluarga harmonis, pinter, cantik, baik, banyak...
