Bab 16

381 38 8
                                        

Ceklek

Pintu terbuka, menampilkan dokter yang keluar dengan wajah terlihat lesu. Nala langsung bergegas mendatangi dokter tersebut. "gimana dok, papa saya baik baik aja kan?" tanyanya penuh harap.

Namun dokter tersebut tanpak meragukan. Dengan berat hati ia mengatakan.

"maaf, saya sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi tuhan berkehendak lain. Saya harap kalian menerimanya dengan lapang dada ya" ucap dokter tersebut.

Runtuh sudah pertahanan yang dibangun Ella. Air mata mulai membanjiri wajah cantiknya. Ia kelabu, tak ada lagi harapannya untuk sang adik. "ENGGA dok, dokter becanda kan!" tak terima Nala.

"nal udah nal hiks.. iklas ya dek" ucap Ella. "engga kak... papa masih hidup papa ga akan ninggalin kita! kakak yang bilang begitu kan?" bantahnya lagi.

Ella kelabu, ia kini berusaha untuk menelfon Callie. Sekedar berkabar pada sang kekasih. Sedangkan Nala langsung bergegas mendatangi papanya yang sudah terbujur kaku dengan kain yang menutupi seluruh tubuhnya.

"pah papa kenapa tinggalin aku sama kak ella sih?" ucapnya seakan mahluk didepannya adalah mahluk bernyawa.

"aku ga mungkin bisa tanpa papa, aku tarik ucapanku selama ini. aku ga benci papa, aku sayang papa maafin aku pa" sambungnya.

"dek" Ella berjalan gontai mendatangi adiknya dengan tatapan sedih terpancar dimata indahnya. "kita iklasin papa ya, kamu jangan pergi' lagi aku cuma ada kamu sekarang" jelas Ella. Nala hanya mengangguk patuh.

Berita duka ini menyebar begitu cepat. Bahkan Nachia saat ini begitu khawatir dengan keadaan Nala sekarang. Ia merasa tak becus menjadi kekasihnya karena tak ada di saat terpuruknya Nala. Ia ingin pergi mendatangi Nala namun Anin melarang karena hari sudah cukup larut.

Keesokkan harinya, banyak orang datang berkumpul di pemakaman Vadel, almarhum papanya Nala dan Ella. Banyak orang datang untuk menunjukkan rasa bela sungkawanya.

Guru, teman'nya Nala dan Ella bahkan ada wali murid serta rekan kerja papa mereka dulu. Tak terkecuali Nachia dan teman temannya. Meski tak bisa berada disamping Nala, Nachia tetap berusaha ada untuknya.

"Nachia, Nala minta ketemu besok" Regie mendatangi Nachia yang berada cukup jauh dari jangkauan Nala.

"dimana gie?" tanya Nachia.

"di tempat Caffe xxxx yang di dekat sekolah. aga siangan aja, jangan terlalu pagi" jawabnya, setelah itu ia tersenyum ke arah Anin lalu pergi meninggalkan tempat mereka.

"semua pasti baik baik aja kok chia, ayo semangat!" Erine mencoba menyemangatinya. Sedangkan sang empu hanya mengangguk lemah sebagai responnya.

ayo chia, semua akan baik baik aja!







































"yakin ga mau dianter aja?" Anin bertanya pada Nachia yang kekeh untuk pergi menggunakan taksi.

"pak asep kan izin cuti kak, masa harus dipanggil cuma karna aku sih kak" bujuk Nachia pada Anin. "dek nanti kalau kamu ada apa' gimana??" ucap Anin.

"apasih kak, lebay deh" jawab Nachia. "heii lebay? ga kamu yang lebay, nanti kalau ada apa' nangisss yeuu" ledek Anin.

Perdebatan itu akhirnya berujung ketika taksi pesanan Nachia datang. Akhirnya Anin pasrah melepaskan adiknya itu. Bukan apa ia hanya takut kalau adiknya di buat patah hati dan berakhir menangis nantinya. Tau aja kemarin si bule itu gimana pas udah nangis kan?...

"neng kayanya ada yang ikuti kita dibelakang tu" ucap supir taksi pada sang penumpang, yang tak lain adalah Nachia. "ah masa sih pak" ujar Nachia tak percaya, lalu ia menoleh kebelakang. Benar saja ada 2 motor yang sedang mengikutinya.

CINTA ANGKASA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang