[21] Cakaran

1.9K 164 0
                                        

Angin malam di desa Ruha berhembus pelan. Aroma tanah yang lembap dan wangi dedaunan hutan menciptakan ketenangan yang sejenak meluruhkan ketegangan perjalanan mereka. Penginapan tempat Darian dan rombongannya beristirahat cukup sederhana, namun hangat. Di tengah ruang makan yang diterangi cahaya lentera kuning keemasan, meja kayu panjang itu menjadi saksi bisu dari diskusi penting malam itu.

Zulfan datang membawa baki besar berisi makanan desa—sup akar gunung yang hangat, daging panggang, dan nasi herbal yang dibungkus daun hutan. Duke Ratore menyusul di belakangnya dengan dua teko besar berisi teh rempah dan air buah.

Darian duduk di ujung meja, Aluna di sebelahnya. Di hadapan mereka, Zulfan dan Duke duduk berseberangan. Aluna terlihat menggemaskan dalam balutan baju hangat desa yang sedikit kebesaran, membuat pipinya makin terlihat tembam.

Zulfan memulai diskusi, mengunyah pelan sebelum bicara, "Yang Mulia... saat kita lewat gerbang tadi, aku lihat bekas cakaran besar. Panjang dan dalam... sekitar tinggi tubuh orang dewasa. Bukan cakaran biasa."

Duke mengernyit, "Mungkinkah makhluk yang sama seperti singa berkepala ganda yang menyerang kita kemarin?"

Darian memutar cangkir tehnya perlahan. "Kalau itu, aku rasa tidak. Cakaran ini... terlalu besar, dan tidak ada jejak kaki singa disana. Mungkin... monster lain." Suaranya merendah, matanya menyipit.

Sementara itu, Aluna tampak fokus pada satu hal: ayam panggang berukuran besar yang menggiurkan di piringnya. Dengan ekspresi bahagia, ia memotong daging itu perlahan dan melahapnya penuh kenikmatan. Matanya berbinar, bahkan sesekali mengangguk puas sendiri.

Zulfan nyengir melihatnya, lalu berbisik pada Duke, "Lucunya, dia seperti anak kecil pertama kali lihat ayam panggang"

Duke menahan tawa, "Manisnya, aku bahkan lupa kita membahas apa tadi."

Darian menggeleng perlahan, bibirnya membentuk senyum tipis. "Sudah sudah, mari kita lanjutkan diskusi ini takut semakin malam."

Tak lama setelah itu, Aluna menguap kecil. Ia bersandar di bahu Darian sambil memegang tulang ayam, kemudian... tertidur. Kepalanya jatuh pelan di dada Darian, napasnya teratur.

Zulfan dan Duke sontak terdiam.

Darian mengangkat telunjuknya ke depan bibir, memberi isyarat untuk tidak bersuara. "Jangan ganggu dia. Biar kupindahkan dia ke tempat tidur."

Dengan gerakan lembut, Darian menggeser kursinya, lalu menyelipkan satu lengan ke belakang punggung Aluna, satu lagi di bawah lututnya. Dengan perlahan ia mengangkat tubuh mungil Aluna, seolah tak ingin membangunkan gadis yang kini tertidur pulas itu. Aroma lembut rambut Aluna tercium hingga ke dadanya. Degup jantung Darian seketika berkejaran.

Aluna bergumam kecil dalam tidurnya. “Darian…”

Hati Darian mencelos. Ia tersenyum kecil, lalu mencium pelan kening Aluna sebelum membawanya ke ranjang yang ada di kamar sebelah. Ia meletakkan tubuh Aluna di atas kasur dengan hati-hati, lalu menarik selimut hingga menutupi bahu gadis itu. Tangannya menyentuh pipi Aluna yang halus.

Duke dan Zulfan sudah berdiri, bersiap keluar.

"Silakan istirahat," ucap Darian lirih. "Kita lanjutkan strategi besok. Pastikan semua pasukan bersiaga."

Mereka berdua mengangguk dan keluar, menyisakan Darian di kamar yang hanya diterangi lampu minyak kecil.

Darian duduk di sisi ranjang, memandang Aluna dengan mata yang tak bisa menyembunyikan cinta dan kekhawatirannya. “Aku harus menjagamu… Apa pun yang terjadi.”

Di luar jendela, bayangan besar melintas sekilas. Sebuah suara berat seperti geraman terdengar sangat pelan, namun cukup untuk membuat burung-burung malam berhenti berkicau.

Namun Darian tak menyadari itu.

**

Keesokan harinya, saat fajar baru menyentuh desa Ruha, Zulfan sudah sibuk mencatat beberapa tanda yang ia temukan dekat pagar desa. “Yang Mulia,” ucapnya saat Darian mendekat. “Cakaran itu semakin banyak. Dan anehnya, pagar itu dikelilingi kristal tipis... semacam aura sihir.”

Darian memandang pagar itu. Ada semacam kabut lembut menggantung di udara. Aura sihir?

"Apakah ini efek dari monster... atau justru sesuatu yang lain?" gumam Darian.

Zulfan menambahkan, “Bisa jadi... ini bukan hanya monster biasa, tapi makhluk hutan yang dulunya pernah dikunci dalam segel. Tapi karena intensitas kekuatan roh Aluna... kemungkinan besar segel itu terbuka perlahan.”

Darian langsung terdiam. Matanya menatap kabut itu dengan sorot baru: cemas.

“Jadi... aura Aluna bisa menjadi pemicu... atau pemanggil?” tanyanya.

Zulfan mengangguk. “Ya, dan kalau benar monster itu adalah roh jahat kelas atas… bisa jadi kita bukan hanya menghadapi kehancuran desa. Tapi seluruh wilayah kekuasaan Anda, Yang Mulia.”

**

Dan di puncak bukit paling tinggi desa Ruha… sesosok bayangan berjubah gelap berdiri membelakangi cahaya fajar. Wajahnya tersembunyi, namun matanya bersinar... ungu pekat.

Ia menatap ke arah penginapan tempat Aluna tidur. Tangannya terangkat, dan sebuah gulungan roh spiritual tua melayang keluar dari balik jubahnya.

“Jadi… roh kaisar itu sudah bangkit...”

Suara tawa lembut keluar dari bibirnya, dingin… dan penuh ancaman.












"Ini semakin menarik."

*******

Heh .... Lanjut scroll aja deh... Tinggalin jejak dulu jangan lupa...

I'AM A BABY WHITE WOLFTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang