Suara dentuman demi dentuman terdengar membelah malam. Tanah bergetar tiap kali kaki monster beruang menghantam tanah. Darian, dengan tubuhnya yang berselimut zirah ringan, melesat ke depan tanpa ragu. Pedangnya berkilau terang, memantulkan cahaya api dari perapian yang kini mulai padam karena kekacauan.
“Zulfan, siapkan serangan pendukung! Aku akan mengalihkan perhatian mereka!” teriak Darian.
Zulfan mengangguk, mengayunkan tongkat kristalnya. “Penerangan berlapis tiga... aktif!”
Sinar keperakan menyebar di sekeliling Darian, memperkuat aura dan kecepatan geraknya. Dengan gerakan kilat, Darian memutari monster beruang pertama, mengincar titik lemahnya. Dengan satu tebasan cepat, mata monster itu tertusuk. Darian melompat, lalu menancapkan pedang ke jantungnya dari atas.
RAWRRRR!!!
Monster itu meraung kesakitan sebelum akhirnya tumbang. Tubuhnya mengejang, dan dari dada berbulu lebat itu, keluar sebuah inti monster berbentuk kristal gelap yang berdenyut lambat—seperti jantung kedua yang baru mati.
Inti itu melayang perlahan ke arah Aluna, seolah tertarik oleh sesuatu dalam dirinya.
“Eh?” Aluna menyambutnya dengan tangan terbuka. Tak ada rasa panas, tak ada rasa nyeri. Inti itu hanya berdiam di telapak tangannya, tenang seperti anak kecil yang tertidur.
Seorang anak kecil tiba-tiba menghampirinya, memeluk kakinya sambil berkata polos, “Raja Darian sangat keren ya, Kakak…”
Aluna tersenyum lembut, membelai kepala si bocah. Tapi tatapannya kembali serius saat raungan monster kembali menggema. Darian dan para prajurit masih bertarung keras melawan monster ular berkepala naga yang kini makin brutal.
Prajurit-prajurit mulai tumbang satu per satu, tubuh mereka terlempar oleh cambukan ekor panjang naga.
“Sudah cukup...” bisik Aluna. “Aku juga harus membantu.”
Dengan niat tulus dan dorongan hati yang kuat, Aluna membuka telapak tangan kirinya—yang tak memegang inti monster. Cahaya merah mulai berkumpul dari tengah telapak tangan, berdenyut... lalu BOOM!
Cahaya merah membakar meluncur deras, menghantam tubuh monster ular naga itu. Suara raungan menyakitkan terdengar, dan bagian tubuh yang terkena serangan langsung terbakar, meleleh dengan asap hitam menggumpal.
Aluna terkejut sendiri. “Apa... itu dariku?”
Para warga yang menyaksikan langsung bersorak. Wajah-wajah mereka yang sebelumnya takut kini bersinar dengan harapan.
“Dia... dia punya kekuatan dari langit...!”
“Itu tanda orang pilihan dewa!”
“Dia penyelamat desa kita...!”
Namun sebelum Aluna bisa menyadari lebih jauh, inti monster yang tadi ada di tangannya menghilang masuk ke tubuhnya.
Dan saat itu terjadi...
Aluna menjerit.
Tubuhnya membungkuk, memegangi dadanya. Matanya berubah—dari cokelat lembut menjadi merah menyala. Aura mengerikan mulai keluar dari tubuhnya. Darian segera berlari mendekat, memeluk Aluna erat.
“Aluna!! Tenang, aku di sini!”
Zulfan ikut mendekat, wajahnya pucat. “Astaga... tidak salah lagi... Ini efek penyerapan inti monster...”
Duke Ratore menatapnya. “Efeknya...?”
Zulfan menjelaskan cepat, “Inti monster bisa diserap oleh satu makhluk spiritual kuno: Kaisar Fox, sang Serigala Spiritual Abadi. Tapi dia bukan serigala... dia Rubah. Rubah berekor sembilan... dan itulah... Aluna!”
KAMU SEDANG MEMBACA
I'AM A BABY WHITE WOLF
FantasySeorang gadis cantik yang meninggal dan menjadi sosok yang lain. Bagaimana jadinya seorang gadis cantik bernama Aluna Deffalova menjadi seekor bayi serigala putih. Tunggu? Apa tadi? Bayi Serigala? Bagiamana si cantik Aluna bisa bertahan hidup menja...
