[25] Buah Cherry dan Semalam

1.3K 98 4
                                        

Cahaya mentari pagi menari di permukaan sungai yang jernih. Alunan arus yang mengalir deras menciptakan suara alami yang menenangkan. Di tepi aliran sungai itu, Aluna duduk bersila di atas bebatuan datar yang hangat oleh sinar matahari. Di tangannya tergenggam segenggam buah anggur yang dipetik langsung dari pohon liar tak jauh dari situ. Ia mengunyah dengan lahap, pipinya mengembung seperti anak kecil yang menemukan permen kesukaannya.

“Hmm~ ini enak banget,” gumam Aluna sambil mengunyah pelan.

Darian berdiri tak jauh dari sana, menyandarkan diri pada batang pohon tua sambil tersenyum lembut memperhatikan gadis itu. Bagaimana mungkin seseorang bisa tampak begitu polos dan memikat di saat bersamaan?

Tiba-tiba Aluna melompat kecil dari duduknya. “Itu pohon cherry, bukan?”

Darian mengikuti arah jarinya dan mengangguk pelan. “Kelihatannya begitu. Tapi—”

Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Aluna sudah berlari kecil menuju pohon cherry itu, seolah-olah energi gadis itu tak pernah habis. Ia melompat ringan dan memetik beberapa buah cherry merah yang menggoda dari dahan rendah. Lalu, tanpa ragu ia menyuapkannya ke mulut.

“Manis banget! Astaga, ini favoritku!” seru Aluna sambil berputar kecil dengan ceria.

Darian perlahan menghampiri, menahan tawa melihat bibir Aluna yang kini lebih merah daripada biasanya. Sari buah cherry menempel tak rapi di sekitar mulut gadis itu, membuatnya terlihat seperti anak kecil yang keasikan makan permen.

“Kamu tahu nggak,” ucap Darian sambil mengeluarkan sapu tangan putih dari sakunya, “kamu mirip sekali dengan anak kecil barusan.”

“Hah?” Aluna menoleh.

Darian tak menjawab. Ia malah maju perlahan, menundukkan badan, lalu dengan lembut mengusap pinggiran bibir Aluna menggunakan sapu tangannya. Sentuhan itu ringan—nyaris tak terasa, namun membuat napas Aluna tercekat sejenak. Wajah mereka kini hanya berjarak sejengkal.

Aluna bisa mendengar degup jantungnya sendiri saat Darian berhenti mengusap, tapi tetap menatapnya dalam-dalam.

“Ada yang masih tersisa?” tanya Aluna pelan, gugup.

Darian tersenyum tipis. “Ada… sedikit.”

Seketika, ia menunduk dan mengecup singkat bibir Aluna.

Ciuman itu ringan seperti angin yang menyapa bunga—lembut, namun cukup untuk menggetarkan seluruh tubuh Aluna. Darian menatapnya sambil menahan senyum, sementara Aluna hanya bisa terpaku, pipinya memerah semerah buah cherry yang tadi ia makan.

“Ka-kamu…” gumamnya pelan.

“Sshh… jangan bilang apa-apa,” bisik Darian sambil menariknya pelan ke dalam pelukan.

Aluna membenamkan wajahnya di dada Darian, malu bukan main. Pelukan itu hangat… nyaman… dan menenangkan. Jantungnya berdetak tidak karuan, tapi ia tidak ingin melepaskan diri. Rasanya seperti dunia hanya milik mereka berdua, di antara sungai, pepohonan, dan wangi buah segar.

Darian mengelus pelan rambutnya. “Kau tahu? Aku merasa… sangat bersyukur kau ada di sini.”

“Aku juga…” balas Aluna pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam degup jantung Darian.

Setelah beberapa lama dalam keheningan hangat itu, Aluna tiba-tiba mendongak. “Kamu mau cherry?” tanyanya sambil menyodorkan satu buah ke bibir Darian.

Darian menatap buah itu… lalu malah menggigitnya dari jari Aluna. “Aku lebih suka kalau kamu yang menyuapi.”

Aluna mendecak pelan. “Kamu benar-benar nakal ya sekarang, Raja Darian.”

I'AM A BABY WHITE WOLFCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang