[17] Desa Ruha

4.3K 304 22
                                        

Darian duduk di kursi kerjanya, tangannya bertumpu pada meja saat mendengarkan laporan Zulfan dengan seksama. Tatapannya tajam, penuh dengan ketegangan yang tersembunyi di balik sikapnya yang terlihat tenang.

"Jadi, kau mengatakan bahwa desa Ruha mengalami kerusakan parah?" Darian mengulang pertanyaan Zulfan, ingin memastikan tidak ada informasi yang terlewat.

Zulfan mengangguk. "Ya, Yang Mulia. Rumah-rumah di sana hampir hancur, para penduduk terserang penyakit aneh, dan beberapa prajurit kerajaan yang dikirim ke sana tidak pernah kembali. Seolah-olah desa itu telah dikutuk."

Darian menyipitkan mata. Sesuatu tentang desa itu mengusiknya. Dahulu, ia memang pernah mendengar desas-desus tentang hutan lebat yang mengelilingi Ruha, tempat makhluk-makhluk aneh berkeliaran. Namun, ia tidak menyangka situasinya akan seburuk ini.

Tanpa ragu, Darian segera memerintahkan seorang pelayan untuk memanggil Aluna. Seperti biasa, ia tidak ingin siapa pun melihat wajah gadis itu. "Beri dia jubah dengan penutup kepala," perintahnya. "Pastikan dia tidak terlihat oleh siapa pun."

Tak lama kemudian, Aluna memasuki ruangan dengan langkah ringan. Darian yang melihat kedatangannya langsung tersenyum lebar, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan di depan orang lain. Sontak, Zulfan yang berada di ruangan itu terheran-heran.

"Siapa perempuan ini...?" tanyanya, bingung melihat perubahan drastis pada ekspresi sang Raja.

Namun, keterkejutan Zulfan belum berakhir. Saat Aluna membuka penutup kepalanya, keindahan wajahnya membuat pria itu terdiam kaku. Matanya melebar, napasnya tercekat, dan dalam hitungan detik...

BLEED!

Hidungnya mengeluarkan darah segar.

Aluna terkejut melihat reaksi itu, sementara Darian hanya mendesah panjang. "Aku sudah memperingatkanmu," katanya santai, sembari menyodorkan sapu tangan ke Zulfan.

Zulfan buru-buru menyeka darah di hidungnya, masih terkejut dengan pemandangan di depannya. "Yang mulia raja D-Darian… Siapa dia...?" tanyanya terbata-bata.

Darian menatap Zulfan, kemudian berkata, "Dia adalah Snow."

Zulfan terbelalak. "Maksudmu… serigala putih spiritual Yang Mulia...?"

Aluna mengangguk kecil, tersenyum manis. "Namaku Aluna Deffalova, ini adalah wujud manusiaku."

Zulfan nyaris kehilangan keseimbangan mendengar itu, dirinya tidak kuat akan senyuman Aluna. Bagaimana mungkin serigala putih spiritual yang begitu legendaris bisa berubah menjadi seorang perempuan yang kecantikannya bisa mengguncang dunia? Bahkan jika ia tidak mengetahui kebenarannya, ia pasti mengira gadis ini adalah dewi yang turun dari langit.

Darian yang melihat ekspresi Zulfan hanya tersenyum tipis. "Aku memberitahumu karena kau adalah tangan kananku, Zulfan. Aku mempercayaimu."

Zulfan menelan ludah, lalu mengangguk mantap. "Aku sangat berterima kasih atas kepercayaan Yang Mulia."

Setelah keadaan kembali terkendali, Darian menjelaskan mengenai situasi desa Ruha dan serangan monster yang telah menghancurkan tempat itu. Ia juga menyebut bahwa dahulu, ia pernah melihat serigala putih berkeliaran di sekitar hutan yang mengelilingi desa itu.

Mendengar itu, Aluna terdiam sejenak, lalu mengangkat wajahnya. "Aku memang dilahirkan di sana," katanya pelan, mengingat kembali masa kecilnya. "Hutan dekat desa Ruha adalah tempat kelahiranku. Ibuku… dia juga seekor serigala putih, tapi ukurannya jauh lebih besar dari kebanyakan serigala lain." Matanya menerawang, seolah mengingat sesuatu yang jauh di masa lalu. "Aku pernah melihat makhluk-makhluk yang ukurannya dua kali lipat dari hewan biasa. Dan jika ada monster yang menyerang desa… maka bisa dipastikan makhluk itu jauh lebih besar dari yang pernah kau hadapi, raja Darian."

Darian menatap Aluna dalam diam. Kata-kata gadis itu menegaskan bahwa situasi di desa Ruha bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.

"Kalau begitu," kata Darian akhirnya, "Kita akan pergi ke sana. Bersiaplah, panggil Duke Ratore."

Aluna menatapnya dengan penuh keyakinan, sementara Zulfan menegakkan tubuhnya, siap menjalankan perintah Raja mereka. Di balik misteri yang menyelimuti desa Ruha, Darian tahu satu hal pasti—ia tidak akan membiarkan apa pun mengancam Aluna lagi.

***

Duke Ratore melangkah masuk ke dalam ruang kerja Raja Darian dengan ekspresi serius. Di depannya, sang Raja tengah duduk santai dengan segelas anggur di tangan, sementara Aluna berdiri di sisi jendela dengan tudungnya yang ia pakai, menatap langit biru dengan tatapan menerawang. Duke tahu betul maksud kedatangannya ini, dan tanpa basa-basi, Darian langsung menyampaikan perintahnya.

"Duke, aku ingin kau ikut serta dalam rencana ini. Kirimkan seratus pasukanmu untuk berjaga-jaga dan memberantas monster di hutan," ucap Darian dengan nada tegas.

Duke Ratore mengangguk dalam. "Baik, Yang Mulia. Aku akan memastikan pasukanku bersiap segera."

"Zulfan akan memimpin pasukan utama. Aku mengirim tiga ratus prajurit," lanjut Darian.

Duke Ratore sedikit terkejut. "Lalu, bagaimana dengan Anda, Yang Mulia? Bukankah seharusnya Anda ikut memimpin perang ini?"

Darian hanya tersenyum tipis sebelum melirik ke arah Aluna yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. "Aku punya tugas lain yang lebih penting."

Duke Ratore tidak membalas, meski hatinya sedikit bertanya-tanya. Namun, ia tahu lebih baik tidak mempertanyakan keputusan Raja Darian.

---

Dalam perjalanan menuju desa Ruha, Darian dan Aluna berada dalam satu kereta kuda yang nyaman. Namun, bukannya membahas strategi perang atau bahaya yang mungkin mereka hadapi, Darian justru sibuk menyandarkan kepalanya ke bahu Aluna dengan ekspresi puas.

Aluna mendesah pelan, merasa heran dengan perubahan drastis dari Raja yang biasanya dingin dan penuh wibawa ini. "Darian, kau ini Raja. Kenapa malah bermanja-manja seperti ini?"

Darian mendongak, tatapannya dalam dan lembut. "Aku Raja, dan aku juga pria. Apa salahnya jika aku ingin memanfaatkan waktu bersamamu?"

Aluna menoleh, wajahnya sedikit memanas. "Tapi ini bukan waktu yang tepat. Kau seharusnya ikut bertarung di medan perang, bukan bersantai di sini bersamaku."

Darian mengangkat alis, lalu tersenyum nakal. "Kau keberatan?"

Aluna menggigit bibir, tidak tahu harus menjawab apa. Ia sebenarnya tidak keberatan. Sebaliknya, ia justru menikmati perhatian Darian. Tapi tetap saja, situasi saat ini tidak mendukung untuk bermalas-malasan.

Di luar kereta, udara mendadak terasa lebih berat. Aluna bisa merasakan hawa dingin yang merayap, dan bulu kuduknya berdiri. Ia menoleh ke luar jendela dan melihat pohon-pohon yang semakin rapat, menciptakan suasana kelam. Udara di dalam kereta seketika menjadi mencekam.

Darian juga menyadari perubahan atmosfer ini. Tatapannya tajam saat ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, matanya menyelidiki sekeliling. "Kita hampir sampai di wilayah yang berbahaya."

Aluna menelan ludah, instingnya sebagai serigala spiritual merasakan ada sesuatu yang mengawasi mereka dari dalam hutan. Nafasnya menjadi lebih berat.

"Darian... ada sesuatu di luar sana."

Darian menatapnya sebentar sebelum mengangguk. "Aku tahu. Tetap di sisiku, Aluna. Aku tidak akan membiarkan apa pun menyentuhmu."

Hatinya berdebar mendengar nada protektif dalam suara Darian. Meskipun ia tahu dirinya kuat, berada di sisi Darian membuatnya merasa lebih aman. Ia memejamkan mata sesaat, berharap perjalanan ini tidak membawa mereka ke dalam kegelapan yang lebih dalam.

Sementara itu, dari dalam kegelapan hutan, sepasang mata merah mengintai mereka, menunggu saat yang tepat untuk menyerang…

*****
Dorrr

Kaget ga... Hahaha canda best... Yokkk divote vote... Bakal ada yang menarik nihhh di bab selanjutnya... Mau di kasih tailer ga xixixi.. ga deh nanti aja waktu lagi tegang.... Selagi masih libur kuliah... Ku sempatin buat double up nihhh...

Dukung author terus yahhh...
Yang mau ngikut giveaway THR jangan lupa.....😘

See u next bab selanjutnya 🤘🥰

Vote dan coment...✌️

I'AM A BABY WHITE WOLFCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang