[26] Lentera Harapan

180 13 0
                                        

Desa Ruha kini benar-benar berbeda.
Ladang-ladang yang dulu kering dan muram kini membentang hijau. Tanaman padi menguning, jagung berdiri tegak, dan kebun anggur yang dulu liar kini tersusun rapi dengan para petani yang bekerja penuh semangat. Keranjang-keranjang besar berisi anggur ungu berkilau di bawah matahari dikirim ke pasar kota-bahkan sebagian dikirim langsung ke istana.

Tak hanya itu, cherry merah kesukaan Aluna menjadi buah paling diburu.

Dan tentu saja... Darian tidak main-main.

Ia benar-benar memindahkan satu pohon cherry terbaik ke halaman belakang istana. Para tukang kebun bekerja hati-hati, memindahkan tanah beserta akarnya agar tetap hidup. Biji-bijinya dikumpulkan, disemai, dan kini beberapa tunas kecil sudah tumbuh-daun mungil berwarna hijau segar.

Aluna hampir melompat kegirangan saat melihatnya.

"Ini benar-benar buat aku?" tanyanya dengan mata berbinar.

Darian hanya tersenyum tipis, berusaha tetap terlihat tenang. "Untuk calon ratu yang rakus cherry? Tentu saja."

"Aku tidak rakus!" protes Aluna, lalu langsung memetik satu buah dan memakannya.

Darian terkekeh pelan.

***
Keesokan harinya, kota berubah menjadi lautan warna.
Spanduk kain berwarna emas dan merah menggantung di sepanjang jalan utama. Tenda-tenda pasar berdiri rapat, kainnya dihiasi sulaman khas kerajaan. Aroma makanan bercampur di udara-manis, gurih, pedas-membuat siapa pun yang lewat sulit menahan lapar.

Aluna berdiri di pintu gerbang pasar dengan mata membulat takjub.
"Darian... ini... ini seperti festival besar!"

Darian berdiri di sampingnya, jubah hitam kebesarannya berkibar pelan tertiup angin. Ia tampak tenang, elegan, penuh wibawa. Beberapa pengawal berdiri cukup jauh di belakang mereka, menjaga tanpa mengganggu suasana.

"Ini pertama kalinya panen sebanyak ini sejak bertahun-tahun," jelas Darian pelan. "Mereka merayakan kehidupan."

Aluna sudah tidak mendengarkan.
Ia berlari kecil ke salah satu stan makanan.

"Ada apa ini?!" tanyanya antusias.

"Roti madu panggang, Nona!" jawab pedagang dengan senyum lebar.

Aluna langsung membeli dua. Lalu pindah ke stan berikutnya.

"Ikan bakar saus rempah! Wahhh baunya enak banget!"

Tak sampai lima belas menit, tangannya sudah penuh-roti madu, ikan bakar tusuk, manisan buah, kue wijen, bahkan semangkuk sup jagung hangat.

Darian berjalan di belakangnya dengan santai, satu tangan dimasukkan ke saku jubah, memperhatikan dengan senyum geli.

"Kau berencana menghabiskan seluruh pasar?"

Aluna menggigit roti madu, pipinya mengembang. "Festival cuma setahun sekali!"

Beberapa anak kecil berlarian melewati mereka sambil membawa balon kain kecil. Musik tradisional mulai dimainkan-gendang dan seruling mengalun riang.

Aluna berputar kecil di tengah jalan, tertawa ringan.

"Ini menyenangkan sekali..."

Darian menghentikan langkahnya sejenak, menatap gadis itu.
Di tengah keramaian, di antara aroma makanan dan tawa warga, Aluna tampak seperti cahaya kecil yang hidup-bukan Kaisar Fox, bukan legenda, bukan makhluk spiritual... hanya seorang gadis yang menikmati kebahagiaan sederhana.

Dan itu membuat dada Darian terasa hangat.

Darian dan Aluna terus berjalan melewati ramainya pasar, warna lampu gemerlap, mewarnai kerajaan.

Tatapan Aluna dan Darian tertuju pada Duke Ratore yang berdiri di ujung pasar dengan beberapa orang di sekelilingnya membuat rasa penasaran Aluna menjadi-jadi.

Di sisi lain pasar, para nelayan memamerkan hasil tangkapan besar mereka-ikan sungai berkilau segar. Para petani memajang karung padi. Bahkan para pemahat dan pekerja tambang menunjukkan bongkahan emas hasil tambang kerajaan.

"Jika dijual ke kota seberang, hasilnya bisa berkali lipat," jelas Duke Ratore yang tiba-tiba mendekat untuk melapor.

Darian mengangguk. "Pastikan perdagangan berjalan adil."

Aluna yang baru mendekat dan mendengar itu tersenyum bangga. Desa kecil yang dulu hampir hancur kini berdiri makmur.

Malam akhirnya turun.
Langit bersih tanpa awan. Ribuan lentera dibagikan kepada warga. Api kecil dinyalakan di dalamnya.
Aluna berdiri di tengah lapangan bersama Darian, memegang satu lentera bersama-sama.

Angin malam lembut menyentuh rambut mereka.

"Biasanya orang berdoa disaat situasi seperti ini," bisik Darian.

Aluna justru mengangkat lentera itu tinggi-tinggi.

Dengan suara lantang dan penuh semangat, ia berkata,
"Aku berharap semua orang di sini hidupnya sejahtera! Punya banyak uang! Selalu cukup makan! Dan selalu bisa berguna untuk siapa saja!".

Semua orang tersenyum, tapi bukan mengejek-melainkan terharu.

Darian membeku sesaat.

Harapannya bukan tentang kekuasaan.

Bukan tentang kejayaan.

Bukan tentang dirinya sendiri.

Ia hanya berharap orang lain hidup baik.

Darian menatap Aluna dengan lembut. Tangannya terangkat, mengusap surai rambut gadis itu perlahan.

"Kau selalu memikirkan orang lain dulu," gumamnya.

Aluna menoleh dan tersenyum cerah.
"Karena kalau semua orang bahagia, dunia juga jadi lebih ringan, kan?"

Darian tersenyum. Bukan senyum raja. Bukan senyum dingin penuh wibawa.

Tapi senyum seorang pria... yang jatuh cinta.

"Kau tahu harapanku apa?" tanyanya pelan.

"Apa?"

"Aku berharap... kau selalu tetap seperti ini."

Aluna tertawa kecil. "Seperti apa?"

"Seperti Aluna yang sekarang. Yang cerewet. Yang rakus cherry. Yang memikirkan semua orang."

Pipi Aluna memerah lembut.
Mereka lalu melepaskan lentera bersama-sama.

Lentera itu terbang perlahan... naik... naik... menyatu dengan ribuan cahaya lain di langit.

Aluna tanpa sadar menggenggam tangan Darian lebih erat.

Dan Darian membalas genggaman itu.

Di bawah langit penuh cahaya, di tengah kota yang kini makmur, dua hati berdiri berdampingan-bukan sebagai raja dan legenda...

Tapi sebagai dua manusia yang menemukan rumah... satu sama lain.

****
Hlo Pembaca setia, author sudah masuk fase fase kuliah semester akhir, sudah pusing sekali dan melupakan yang namanya give away yang author bilang ke kalian bulan bulan lalu... Author rencananya akan melanjutkan rencana itu sampai bulan Agustus kedepan dengan berbagai bab yang sudah author draft...

Maaf kan author yang lama sekali updatenya, di tunggu kelanjutan babnya yahh

I'AM A BABY WHITE WOLFCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang