Sang surya tengah menapaki jalan pulang
Perlahan sudut sudutnya tertelan gelap malam
Pada ujung senja ini aku menorehkan sebuah fiksi baru
Kutuliskan dalam catatan maya di palung hatiku terdalam
Kubisikkan dawai dawai merdu nan getir pada ujung senja
Kukumpulkan perca sketsa wajahmu yang tersisa
Kujadikan satu lalu kukatupkan dalam genggamku
Membisikan padamu seolah kau ada di dekapku
Malam mulai membayang
Temaramnya tak dapat ku hindar
Sketsa akan dirimu pun tergambar sempurna pada langit malam
Kutengadahkan kepalaku mencoba mencari sudut netramu dalam luasnya binar bertebaran
Genggamanku terulur begitu saja padamu
Bukan untuk meraihmu
Namun untuk memberikan sketsa yang telah kubuat ini padamu
Terpaan angin menabrak genggamku padamu
Membawa sketsa yang dulu pernah terlukis indah di memoriku
Menerbangkannya jauh melampaui batas akalku
Pada ujung senja ini aku bercerita
Bahwa pada detik ini aku menghapus dirimu dari bagianku
Memberi kesempatan pada jarak agar dapat mendistorsikan dirimu
Pada ujung senja ini aku menangis
Bahwa aku tahu diriku sedang memainkan sandiwara atas hatiku sendiri
Menahan setiap bulir air mata yang seharusnya sudah tumpah beberapa detik lalu
Dan pada ujung senja ini aku telah berjanji
Bahwa venus tak seharusnya berada pada lintasan mars
Aku akan mengitari lintasanku begitu pun denganmu
Jika suatu saat kita terhenti pada suatu titik yang sama,
maka ingatlah bahwa kita memang pernah bersama
Namun alam menakdirkan kita berada pada epilog yang berbeda
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku, Senja dan Dia
Poesíasenja mendekapku begitu erat. kulihat sudut matanya berair. akankah senja pergi dariku? akankah ia menghilang bersama harapanku padanya?
