11. kabut pagi dan rahasia jalan pulang

7 0 0
                                        

Kabut pagi menyelimuti hutan lebih pekat dari semalam. Udara dingin menembus jaket tipis yang mereka pakai, dan embun membasahi tanah di sekitar mereka.

Ellora membuka matanya perlahan. Punggungnya pegal karena tidur di atas tanah keras, hanya beralaskan dedaunan. Ia menoleh ke samping. Alden masih bersandar di batang pohon, napasnya tenang meski matanya tampak lelah.

"Den," bisik Ellora sambil menyentuh bahunya.

Alden terbangun. Ia langsung menatap sekeliling, seolah berharap kabut pagi membawa petunjuk arah pulang. "Pagi," gumamnya lirih.

"Kita masih di sini ya?" tanya Ellora dengan suara lemah.

Alden mengangguk. "Tapi pagi ini kita cari jalan pulang. Harusnya gak jauh dari area perkemahan. Kemarin kita cuma muter-muter doang."

Setelah membersihkan diri seadanya dan minum sedikit air dari botol yang tersisa, mereka berjalan lagi. Kali ini lebih hati-hati, mengikuti jejak tanah yang agak terbuka-mungkin bekas jalur main anak-anak dari perkemahan.

Tak lama, Alden menunjuk ke sebuah pohon besar. "Tuh, itu bukan tanda kita bikin pas pasang tenda cadangan?"

Ellora memperhatikan. Di pohon itu, ada tali kecil berwarna kuning tersangkut di ranting. Ia menganga, ingat betul itu tali dari tenda tambahan yang sempat dibawa teman-teman mereka.

"Berarti kita gak jauh dari lokasi kemah!" serunya pelan.

Namun sebelum semangat itu tumbuh penuh, KRAKKK!

Sebuah ranting patah di belakang mereka. Lalu sunyi. Lalu suara langkah-pelan, berat, dan tidak beraturan.

"Den... itu apa?" bisik Ellora. Tubuhnya menegang.

Alden mengatupkan rahangnya. "Gak tahu. Tapi kita harus cari tempat lebih terbuka. Sekarang!"

Mereka berlari pelan, menyibak kabut. Dan saat itulah, di kejauhan, terlihat sebuah lampu kecil berkedip-entah dari senter, atau... tenda yang mulai terlihat dari sela pepohonan.

Namun suara langkah itu belum hilang.

"Jangan berhenti, Lor. Sedikit lagi..." desis Alden, menggenggam tangan Ellora erat-erat.

Tiba-tiba langkah di belakang mereka berhenti. Sunyi. Tidak ada suara ranting, tidak ada daun yang terinjak.

Hanya degup jantung Ellora yang begitu keras hingga ia merasa seluruh hutan bisa mendengarnya.

"Alden..." bisiknya, "Lo yakin itu cuma binatang?"

Alden menggeleng pelan. "Nggak yakin. Tapi gue juga nggak yakin itu manusia."

Mereka berdiri mematung sejenak. Kemudian terdengar suara...
"Tolong..."
Suara itu lirih. Seperti milik anak kecil. Datang dari arah belakang. Terjebak di kabut.

Ellora sontak menoleh. Matanya membesar.

"Alden. Lo denger?!"

Alden menarik napas cepat. "Iya."

"Tolong aku..."

Kini suara itu terdengar lebih dekat. Lebih jelas. Tapi aneh. Datar. Tanpa rasa takut atau panik seperti biasanya orang minta tolong.

"Aku takut sendiri di sini..."

Ellora menggigil. "Gue gak suka ini, Den."

Alden menarik Ellora pelan menjauh. "Kita balik arah. Jangan jawab. Jangan lihat ke belakang."

Tapi baru dua langkah mereka mundur, dari sela kabut muncul bayangan kecil-seperti tubuh anak-anak. Berdiri. Diam.

Matanya tidak terlihat. Tapi tubuhnya kaku. Tidak bergerak meski kabut terus bergerak pelan melewatinya.

"Temani aku..." katanya pelan.

Ellora berteriak. "ALDEN!!"

Mereka berlari sekencangnya, tak peduli ke arah mana. Daun-daun menampar wajah, ranting mencakar lengan, tapi mereka tidak berhenti.

Hingga akhirnya, dari kejauhan, suara samar terdengar...

"ALDEN! ELLORA!!"

Itu suara manusia. Teman mereka! Muncul dari sisi kanan!

Mereka menoleh, dan benar-lampu senter terang benderang mengarah ke mereka, menyorot wajah dua orang dari tim perkemahan!

Ellora terisak saat seorang kakak pembina berlari menghampiri. "Kami nyari kalian dari tadi malam!"

Tapi ketika ia menoleh ke belakang, ke tempat suara anak itu tadi muncul...
Tidak ada siapa-siapa.

Hanya kabut. Dan sehelai pita kuning yang tergantung diam di ranting... yang bukan berasal dari tenda mereka.


icaeska0 Instagram

ALDEN ALDEBARAN Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang