Bagian 29

446 73 17
                                        

Hari ini terik matahari yang terasa lebih panas dari biasanya membuat Ara memilih untuk makan siang di kafetaria gedung setelah menolak halus ajakan temannya untuk makan di luar. Setelah pesanannya selesai, sambil membawa nampan pesanan makanannya, Ara melihat ke sekeliling mencari tempat duduk yang  ternyata hampir semua terisi. Terlihat beberapa orang telah selesai menyantap makan siang mereka namun masih asik mengobrol dengan rekan semeja, akan terlalu lama untuk dirinya menunggu sampai mereka beranjak. Meneliti kembali, pandangannya terhenti pada satu tempat duduk kosong di ujung belakang, perutnya sudah lapar dan tangannya mulai terasa pegal tetapi jika dia duduk di sana maka akan terasa canggung saat dia makan di depan pria yang tidak dikenalnya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Ara memilih melangkahkan kakinya menuju kursi incarannya sambil berharap dalam hati agar tidak ada yang tiba-tiba datang menempati. Rasa laparnya lebih penting untuk dituntaskan sekarang terlebih tadi pagi dirinya melewatkan sarapan buatan ibu.

"Permisi, bangku di depan anda ada yang pakai tidak ya, Pak? Boleh saya duduk di sini?" Dirasa tidak sopan jika dirinya langsung meletakkan nampan dan makan di sana, Ara bertanya terlebih dahulu pada pria berkemeja navi yang masih terlihat fokus menggulir layar tabletnya. Hanya ada sebuah cangkir kopi di atas meja.

"Silahkan." Hanya jawaban singkat, namun pria itu tetap fokus pada layar tanpa sedetikpun terusik dengan  kehadiran Ara.

Mendengar persetujuan dari pria itu, Ara meletakkan nampan perlahan  kemudian duduk sedikit canggung dan berkata, "Maaf, saya duduk di sini ya, Pak. Cuma tersisa tempat duduk ini." Sesaat kemudian Ara mulai menyantap makanannya setelah berdoa.

Tanpa Ara ketahui sebuah senyum tipis muncul dari pria itu. Gadis ini ternyata tidak mengenali suaranya. Rasa tenang semakin terasa nyata saat sekilas melihat gadis yang diam-diam ia cintai terlihat baik-baik saja. Cinta? Apakah dia boleh memilikinya? Bahkan mereka sudah sangat lama tidak bertegur sapa hingga beberapa bulan lalu dirinya tidak sengaja mengetahui Ara bekerja di gedung yang sama dengannya.

Selesai menghabiskan makan siangnya, Ara beranjak setelah mengucapkan terima kasih pada pria yang sedari tadi masih fokus menggerakkan stylus pen dalam hening. Pria itu sepertinya tidak sedikitpun terganggu dengan kehadirannya. Langkah Ara semakin menjauh seiring pena serta tablet yang kemudian diletakkan di atas meja, jemari yang kini saling terpaut dengan pandangan yang teralih pada punggung Ara yang kian menjauh berbaur di antara lalu lalang pengunjung.

"Bim!" Tepukan ringan di pundaknya membuat pandangan Abimana Wistara teralihkan.

"Macet?" Bima memicingkan mata seraya bertanya pada pria yang hanya  tertawa sembari mendudukkan diri di depan Bima.

"Jangan terlalu serius begitu sama sodara. Biasa, ketemu klien dulu tadi." Ares menepuk pundak Bima.

Keduanya kemudian larut dalam urusan pekerjaan.

***

"Mbak, besok malem ada undangan pesta ulang tahun anaknya si Bos. Semua suruh pada dateng katanya. Mbak siap-siap aja, besok kita ke sana barengan." Mela -seorang teman kerja datang ke tempat di mana Ara duduk seraya menyodorkan sebuah undangan.

Ulang tahun? Ara mengernyitkan dahi, dia tidak tahu kalau sang bos yang terlihat tidak lagi muda masih punya anak kecil yang perlu dirayakan ulang tahunnya. Dirinya hanya memastikan sekilas namanya tertera di sana kemudian langsung memasukkan undangan tersebut dalam tas dan kembali bekerja.

***

Suasana ramai mulai terasa dari parkir hotel tempat pesta malam ini digelar. Deretan karangan bunga  ucapan selamat terlihat seakan menyambut tamu hingga lobi. Belum sempat Ara melihat lebih jelas nama yang tertera di setiap karangan bunga, tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh Mela untuk merapat pada rekan rombongan divisi mereka yang telah berkumpul di dalam lobi.

Menggunakan lift, rombongan mereka menuju ballroom hotel yang terletak di lantai lima dimana tempat acara akan digelar. Keluar lift, nampak dekorasi bernuansa emerald menyapa penglihatan berpadu dengan rangkaian bermacam bunga dominan putih yang terkesan sangat  elegan.

Semua berjalan dengan lancar, hingga tiba saatnya sang pemilik perusahaan tampil memberikan sambutan sekaligus pengumuman. Ara benar-benar tidak menyadari ternyata sebelumnya dia pernah dua kali bertemu dengan pria baya tersebut dan istrinya. Tidak lama kemudian sepasang matanya terpaku pada pria bertubuh tegap dengan  setelan jas yang masih dapat ia kenali dengan jarak yang tidak terlalu dekat dari tempatnya duduk. Pria tanpa senyuman itu kini bersanding dengan gadis anggun yang tak asing pula dalam ingatannya, mantan bos serta mantan rekan kerjanya dulu. Keduanya nampak serasi seperti yang tengah dibicarakan oleh si pembawa acara setelah pengumuman resmi rencana pernikahan keduanya. Ara hanya bisa tersenyum di tengah riuhnya tepuk tangan semua undangan.

Dalam sorak sorai tamu undangan, sepasang mata yang sedari pertama hadir telah menyadari keberadaan Ara, tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Lagi, dia memilih mengamati dari kejauhan.

***

Di sinilah Ara kini berada, balkon kaca terbuka yang tak sengaja ia lihat di ujung lorong menarik perhatiannya. Menikmati sepoi angin sembari melihat hiruk pikuk serta gemerlap lampu perkotaan dari ketinggian membuat Ara merasakan sedikit ketenangan. Dirinya diam-diam meninggalkan acara yang belum usai. Bukan karena dia tidak suka berada di sana, namun lebih pada rasa yang tidak ingin lagi ia ungkit ketika kembali melihat Wira setelah sekian lama.

Terlalu hanyut pada suasana hingga Ara tidak menyadari keberadaan seorang lainnya yang kini ikut berdiri menatap pemandangan seraya menyimpan ponsel dalam saku celana. Entah keberuntungan apa yang membawanya sampai di sini. Niatnya tadi hanya ingin menjauh dari keramaian untuk menjawab panggilan, namun siluet tak asing membuat sepasang kakinya tanpa aba-aba terus berjalan lebih dekat pada gadis itu tanpa berniat mengeluarkan suara meski pada akhirnya tetap membuat jarak.

Dering lembut ponsel Ara memecah kesunyian hingga membuat gadis itu terburu mengambilnya. Nada dering yang khusus ia gunakan untuk menandai panggilan dari sang ibu, membuat Ara tak ragu sedikitpun untuk menerimanya.

"Ya, Bu ...," jawab Ara pada panggilan sang ibu dari seberang kemudian gadis itu larut dalam obrolan singkat tanpa melepaskan pandangan dari kerlipan lampu-lampu kendaraan sibuk berlalu lalang yang sedari tadi ia lihat, hingga akhirnya ia menyadari jika hari sudah semakin larut ketika ia menatap layar ponsel yang perlahan meredup setelah panggilan dari sang ibu usai. Bergegas menyimpan ponselnya lalu hendak berbalik meninggalkan balkon, langkahnya terhenti ketika sepasang mata tertangkap sedang menatapnya lekat. Perlahan dahinya sedikit berkerut, antara kaget dan bingung dengan keberadaan pria itu.

"Lama nggak ketemu ... Mbak?" Pria itu tersenyum lembut, menegakkan badannya dan kini sepenuhnya menghadap pada gadis yang telah mencuri perhatiannya sedari awal mereka bertemu.

Ara terdiam, mencerna kejadian malam ini bersama orang-orang yang baginya terkesan tiba-tiba kembali muncul dari masa lalunya, namun pemikiran itu tidak berlaku bagi Bima.

...

Menjelang akhir tahun, mari kita akhiri kisah ini pula.

Sehat-sehat kalian dimanapun berada. ♥️♥️♥️

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 19, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Gadis CadanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang