"Selamat ya, Ra. Ibu bangga sama kamu." Pelukan hangat serta ucapan selamat dari sang ibu membuat bulir bening tak dapat lagi Ara bendung.
Sudah sejauh ini dirinya melangkah hingga salah satu impiannya terwujud. Dua tahun lebih yang telah ia lalui bukanlah akhir dari perjalanannya. Pernah hampir menyerah, Ara seakan memperoleh kekuatan kembali ketika ia mendapatkan bantuan biaya pendidikan atas prestasi yang mampu dipertahankannya selama ini.
Bertahan dan berjuang tanpa bayangan Wira dalam hidupnya, membuat Ara semakin yakin jika memang hidupnya tidak banyak terpengaruh oleh pria itu.
Tidak ada orang lain yang turut hadir dalam acara wisudanya selain sang ibu. Ara tidak merasakan sedih maupun kecewa, kehadiran ibu baginya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa bahagia.
"Ra, ini titipan buat kamu." Seorang teman tiba-tiba mendekat mengulurkan sebuah buket bunga mawar putih beserta ucapan selamatnya.
Ara tak serta merta menerima,"ini ... dari siapa?"
Lawan bicaranya berusaha mencari siluet si pemberi, namun ternyata sosok yang ditemui telah menghilang diantara banyak kerumunan.
"Ada mas-mas tadi yang titip di sana. Tapi nggak tau sekarang kemana. Dia titip bilang selamat buat wisuda kamu. Kayaknya wajahnya nggak asing, tapi aku nggak ingat siapa. Eh, cepet terima ini, aku mau buru-buru ke toilet soalnya." Setelah menunjuk tempat yang dimaksud, temannya memaksa Ara menerima buket yang sedari tadi ia ulurkan kemudian segera pergi meninggalkan gadis yang masih berdiri dengan wajah bingungnya.
Ara menatap lekat buket mawar putih di tangannya. Satu-satunya bunga pemberian orang lain selain dari sang ibu.
"Dari siapa, Ra?" Sang ibu bertanya ketika tidak menemukan nama si pengirim dalam kartu ucapan. Siapa yang mengirim buket bunga ini untuknya?
***
Dua bulan berlalu semenjak acara wisuda berakhir. Tanpa diduga Ara langsung mendapatkan tawaran pekerjaan atas rekomendasi dari salah seorang dosen pembimbing semasa ia kuliah.
Selamat bergabung dengan tim kami. Anda bisa mulai bekerja esok. Silahkan persiapkan diri anda.
Akhir kalimat yang mampu mengukir sebuah senyuman di bibir Ara. Gadis itu sangat bersyukur ketika apa yang ia jalani sekarang hampir selalu saja mendapatkan kemudahan, mungkin ini adalah bagian dari rentetan doa ibunya yang Tuhan kabulkan.
Jenjang pendidikan yang ia tempuh akhirnya selesai meski sempat tertatih di awal perjalanan setelah dirinya memutuskan pergi dari segala hal yang berhubungan dengan Wira, lalu kini pun ia mendapatkan pekerjaan dengan posisi yang lumayan bagus di sebuah perusahaan swasta yang diidamkan banyak orang.
***
"Ra, selamat buat wisuda kamu. Sori, telat banget ngucapinnya, kerjaan kantor bikin aku nggak bisa kemana-mana." Sebuah bingkisan berpita merah terulur untuknya dari wanita yang kini terlihat lebih tenang dari yang dulu sering ia temui.
Hubungannya dengan wanita di hadapannya mulai membaik meski tak dipungkiri komunikasi mereka tidak lagi seluwes dulu. Ara kini hanya berusaha mengesampingkan masa lalu yang kurang baik di antara mereka setelah apa yang terjadi karena bagaimanapun hubungan keduanya, Laras tetaplah bagian keluarga dari pihak ayahnya.
"Mbak Laras nggak perlu repot-repot gini. Aku paham kok kalo Mbak lagi sibuk-sibuknya ngurus kerjaan." Ara menerima pemberian wanita itu lalu memindahkan ke sisi lain.
"Gimana kerjaan kamu, Ra? Bosnya galak nggak?" tanya Laras setelah menyeruput secangkir kopi pesanannya.
Ara tersenyum seraya sedikit menjauhkan segelas es matcha latte yang telah ia cicipi, "Sejauh ini semua lancar, Mbak. Atasan aku juga baik kok. Bersyukur banget dapet kerjaan ini."
Ara benar-benar bersyukur setelah ia bekerja sang ibu tidak perlu lagi banting tulang untuk biaya hidup mereka. Gajinya saja sudah cukup untuk hidup berdua.
***
Selepas pertemuannya dengan Laras, Ara kembali ke kantor yang telah menjadi tempat kerjanya hampir tiga bulan ini. Tangannya menenteng hadiah pemberian Laras, bibirnya tersenyum kecil menyapa sekuriti yang mulai ia kenal, lalu kemudian langkahnya berbelok menuju lift untuk mencapai tempat kerjanya berada.
Sembari menunggu pintu lift terbuka, Ara sempatkan memeriksa beberapa pesan singkat di ponsel yang belum sempat ia lihat. Fokusnya pada layar membuat dirinya sedikit terkejut ketika pintu lift tiba-tiba terbuka hingga belum juga sempat dirinya bergeser dari depan pintu, beberapa orang kemudian bergegas keluar membuat ponsel di tangannya terlepas ketika bahunya tak sengaja terdorong ke belakang oleh seseorang di antaranya.
Saat ingin berbalik mengambil, sebuah tangan telah terlebih dulu terulur dengan memegang ponsel miliknya. Ara menerimanya seraya menunduk mengucapkan terima kasih atas bantuan orang tersebut tanpa melihat wajah orang tersebut.
"Kamu masih sama." Sebuah ucapan singkat serta suara langkah menjauh membuat Ara langsung mengangkat wajahnya mencari si pemilik suara yang lebih dulu menghilang di antara lalu lalang para karyawan di lobi gedung. Entah apa maksud orang itu, namun sepertinya Ara merasa tidak asing dengan suara itu.
Sementara itu sebuah senyum simpul terlihat dari pria yang baru saja berjalan melewati pintu keluar. Awalnya ia terkejut, namun sejurus kemudian sebuah rasa lega ia rasakan setelah mendapat kejutan pertemuan yang tidak pernah ia rencanakan.
"Mas, kok lama sih?" Pertanyaan manja disertai lilitan tangan wanita itu pada lengannya membuat senyum simpul yang sebelumnya terukir lenyap berganti dengan sebuah ekspresi datar.
...
Hai! Apa kabar kalian? Sehat semua kan?
Maaf karena hiatusnya kebablasan.
Lemesin jari dulu, lama nggak nulis soalnya.😁😁😁
Selamat membaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Cadangan
RomansaMutiara Anandya yang hampir bertunangan dengan Ares harus menelan kekecewaan serta patah hatinya ketika sang kekasih memilih membatalkan pertunangan tepat pada hari pertunangan mereka. Tak cukup sampai di sana, sebulan kemudian Ares kembali datang...
