"Kalau masih sakit ijin dulu aja, Ra."
Ratna yang sedari tadi menyiapkan sarapan di dapur, kini duduk di samping Ara yang sedang membereskan isi tasnya meski dengan gerakan yang amat pelan. Walau wajahnya masih tampak sedikit pucat, Ara tetap memaksakan diri bersiap pagi ini.
"Enggak, Bu. Ara berangkat aja, lagian udah lumayan mendingan kok, kalau ijin, nanti malah bingung kalau cuma di rumah aja Bu."
"Yaudah, kalau gitu kita sarapan dulu." Ara yang telah selesai pmembereskan isi tas beranjak mengikuti ibunya.
"Makan yang banyak, biar anak Ibu cepet sehat." Ratna mengusap lembut pucak kepala Ara dengan sayang meski dengan pandangan yang sulit diartikan.
Hanya Ara satu-satunya yang Bu Ratna miliki setelah suaminya meninggal sepuluh tahun lalu. Di usia yang masih tergolong sangat muda, Ara sudah memutuskan bekerja paruh waktu untuk membantu biaya pendidikan serta hidup mereka ke depannya. Pekerjaan Bu Ratna sebagai seorang buruh pabrik hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari mereka. Apalagi dengan keadaan Ara yang sekarang, Bu Ratna semakin khawatir dengan kondisi putrinya, apalagi semenjak dicampakkan Ares begitu saja, wanita paruh baya itu yakin jika putrinya sangatlah rapuh sekarang, namun Ara selalu bisa menutupinya dengan senyuman.
***
"Oh iya, kamu berangkat naik apa ke kampusnya, Ra? Kan motornya di kafe. Bu Hes ... ah, kemarin ibu lupa bilang ke kamu ya. Apa mau ibu antar aja? Nanti ibu pinjam motor bibimu dulu." Ratna segera mengalihkan ucapannya saat akan menyebut nama seseorang.
"Ara naik angkot aja, Bu. Masih keburu kok, lagian Ara jadwal kuliahnya agak siangan cuma dua mata kuliah hari ini, Bu." Ara melirik jam tangannya, sebenarnya masih terlalu pagi untuk dia berangkat.
"Beneran gak apa?" tanya Ratna memastikan.
"Iya, Ara berangkat ya, Bu." Ara mencium punggung tangan ibunya.
Membiarkan sang ibu meminjam kendaraan pada sang bibi bukanlah ide yang bagus. Bibi satu-satunya yang dekat dengan rumahnya hanya ibu Laras, itu artinya akan ada masalah lagi jika sampai sang ibu bersinggungan dengan mereka.
***
"Permisi, Pak. Pak Ares ingin bertemu dengan Bapak." Wira yang tengah membaca sebuah berkas menghentikan aktifitasnya sejenak kemudian menganggukkan kepala sebagai isyarat.
Setelah sekretaris Wira keluar, Ares masuk dan langsung duduk tepat di depan Wira tanpa diminta.
"Mau apa kemari? Aku sedang sibuk." Wira berkata dengan mata yang masih fokus pada berkas yang sedari tadi di tangannya.
"Hei, santai Bro. Ada apa denganmu? Bukankah harusnya kamu senang karena sahabatmu ini akhirnya menikah?" Ares mencondongkan tubuhnya mendekat pada Wira.
"Ya, terserah katamu. Jika sudah selesai, silahkan pergi." Wira menanggapi singkat, namun tetap sibuk menggerakkan tangannya pada bagian bawah berkas.
"Sebenarnya aku kemari untuk minta maaf. Maafkan aku, tapi aku mencintai Laras dan dia juga merasakan hal yang sama sejak dulu. Aku harap, lusa kamu datang dengan membawa pasangan yang bisa menggantikan Laras di hatimu. Aku pergi dulu." Ares beranjak tanpa menunggu jawaban Wira.
Tanpa Ares tahu jika setelah mendengar ucapannya, Wira menggenggam erat bolpoin yang ia gunakan untuk membubuhkan tanda tangan seolah sebagai pelampiasan emosi yang sejak tadi ia tahan.
Wira selama ini tak pernah tahu jika Laras adalah bagian masa lalu Ares yang dipertemukan kembali oleh waktu. Andai saja ia tahu sebelumnya Ares pernah menyimpan rasa pada Laras di masa lalu, ia tak akan menceritakan tentang Laras pada pria itu. Tapi apa daya, mungkin takdir tak berpihak padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Cadangan
RomanceMutiara Anandya yang hampir bertunangan dengan Ares harus menelan kekecewaan serta patah hatinya ketika sang kekasih memilih membatalkan pertunangan tepat pada hari pertunangan mereka. Tak cukup sampai di sana, sebulan kemudian Ares kembali datang...
