Episode 40

1.8K 52 5
                                        

"Kuatkanlah dirimu, aku tahu kau pasti bisa melalui ini"

Leon membuka matanya dan berkali-kali menarik nafasnya, suara tersebut, suara Darion sang mate yang telah pergi meninggalkannya selamanya 3 hari sebelumnya. Selama 3 hari tersebut tidak ada sesaatpun Leon tidak dihantui oleh memori-memori dekatnya dengan Darion seperti bagaimana keduanya pertama bertemu, bagaimana keduanya mulai saling memahami, dan bagaimana keduanya menyadari dan mengindahkan perasaan cinta yang tumbuh karena hubungan mate mereka. Segalanya menjadi seperti serpihan kaca yang terus mengais dinding hati Leon, membuat dirinya sadar bahwa tidak akan ada memori baru yang tercipta tentang keduanya.

"Leon?" Aveny, sang nenek, menengok ke dalam ruangan tersebut sambil membuka pintu.

Omega tua tersebut melihat Leon yang meringkuk di kasurnya sambil terisak membuat hatinya turut merasa sakit. Ia memutuskan untuk masuk dan memeluk sang cucu dan diikuti oleh menantu perempuannya yang juga penasaran akan keadaan omega muda tersebut.

Tiffany yang tidak tahan lagi melihat keadaan Leon langsung mendahului yang mertua dan memeluk anak bungsunya tersebut, ia benar-benar mengharapkan bahwa sang anak dapat tabah untuk menghadapi situasi tersebut. Omega wanita tersebut menoleh kearah yang lebih tua dengan sebuah ekspresi yang susah dijelaskan seakan-akan dirinya memohon untuk diperbolehkan melakukan sesuatu tetapi sang omega yang lebih tua menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kuat membuat dirinya merasa putus asa akan keadaan.

"Ma... kenapa Darion meninggalkan Leon" tanyanya dengan pandangan kosong dan hidung terisak membuat hati Tiffany yang sebelumnya tersayat-sayat seakan hancur berkeping-keping.

Tiffany hanya dapat mengeratkan pelukannya diikuti oleh elusan dari Aveny yang juga berusaha menghibur omega muda tersebut.

"Leon, bersihkanlah dirimu. Siang ini akan datang pelayat untuk upacara kepergian Darion" ucap Aveny dengan perlahan karena tidak ingin membuat perasaan Leon semakin memburuk.

Berbalikan dengan ekspektasinya, Leon hanya menganggukkan kepalanya sambil terus mengeratkan pelukannya kepada sang ibu.

***

"Turut berduka cita kepada anda nyonya"

Beberapa pelayat memberikan salam kepada Nenek Karissa yang tampak sangat lelah akan segala rangkaian kejadian dalam beberapa hari tersebut. Ia tidak menyangka sang cucu akan pergi secepat itu dan tentunya misteri mengenai mengapa rumah yang ditinggali oleh Darion dapat terbakar masih dalam investigasi dan belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.

"Leon, apa kau mau menyapa para pelayat?" tanya Tiffany yang duduk tepat di sebelah sang anak yang saat ini menunjukkan ekspresi kosong dan badan yang bersandar pada ibunya.

Omega muda tersebut hanya menggelengkan kepalanya membuat Tiffany membalasnya dengan sebuah anggukan.

Beberapa orang baik para pemimpin negara-negara, perwakilan keluarga kerajaan, serta fans yang dahulu pernah mengidolakan Darion memenuhi ruang publik yang disewa oleh Keluarga Kerajaan Antario sebagai bentuk penghormatan terakhir serta permintaan maaf kepada Nenek Karissa karena gagal melindungi sang pewaris tanah Kerajaan Farvion.

Masih di tengah acara upacara pelayatan tersebut, suasana dari seisi ruangan tiba-tiba berubah karena beberapa orang berpakaian hitam formal mulai memasuki ruangan dan meminta agar orang-orang lain pergi dari jalur utama ruangan tersebut. Belum sempat Valice ataupun Aveny mengendalikan keadaan, seseorang telah muncul di pintu masuk ruangan sambil membenarkan kacamatanya dan mulai berjalan sambil menikmati pandangan dari semua tamu.

"Lativah" ucap Nenek Karissa dengan geram.

"Oh, ibu aku tidak melihatmu disana" balas alpha wanita tersebut setelah menghentikan langkahnya dan melihat ke arah suara yang memanggil namanya.

[bxb abo] OmegaphobicCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang