To the End: 01

38 4 0
                                        




"Kita akan lakukan rencana itu bulan depan."

Semua yang ada disana memiliki ekspresi masing-masing. Mereka tak sampai sepuluh orang, tetapi suasana terasa ramai dalam pikiran mereka.

" Deron, pastikan kondisi planet akhir² ini. Pastikan semua yang kita rencanakan tidak memiliki celah. Kau bisa mulai melacak dan meretas informasi sebanyak yang kamu mau." Ucapan Alvara membuat Deron tersenyum lebar setelah sekian lama, rambutnya menjadi lebih ungu. Dia sepertinya merasa tertantang sekaligus senang untuk pertama kalinya.

"Kita semua harus mempersiapkan diri. Ah. Aku tahu kalian sudah menyiapkannya sejak lama. Tapi aku akan tetap mengatakan jika kita harus lebih siap dari apa yang pernah kita siapkan selama ini." Ucapan tegas Alvara yang selama ini mereka tunggu akhirnya mereka dengar. Perintah mutlak untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi hak mereka, sekaligus membebaskan apa yang seharusnya mereka lindungi selama ini.

Alvara tahu semangat pasukannya sangat membara, dia ingin sekali berucap jika mereka tidak boleh terlalu mengebu, semua hal yang berlebihan itu tidak ada yang baik. Tetapi, ada sisi Alvara yang membuatnya justru ikut mengebu hingga aura ungu harus ditahan sekuat mungkin agar tak keluar dari dirinya. Ada sisi Alvara, yang justru membuatnya bergetar, hampir lepas dari kendali.

Agra bisa merasakannya, dan Ia pasti benar; kematian dua adik tiri Alvara pasti yang membuat sepupunya ini hampir kehilangan kendali yang sudah dari dahulu dipertahankan untuk perang yang akan mereka lakukan dengan rencana yang matang.

Perang antara pasukan beranggota tujuh alien dengan planet kelahiran mereka yang direnggut bertahun-tahun silam.

Maka, usai rapat dadakan singkat yang selama ini dinanti, Agra menghampiri Alvara.

"Ra, aku tahu betul Kamu bukan orang yang akan mengambil langkah tanpa pertimbangan, tapi aku khawatir." Alvara memotong Agra, dia tahu betul maksud sepupunya.

"Aku tentu tidak memutuskan untuk mendeklarasikan 'perang' ini karena kematian dua adikku yang Jay katakan seminggu yang lalu, Agra." Ah, Alvara tepat sasaran.

"Aku sudah mati, itulah yang mereka ketahui. Jadi memang sudah seharusnya aku tak lagi memikirkan mereka." Alvara menatap Agra dengan tatapan yang kosong namun sangat siaga.

Agra ragu untuk mengartikan jika sebenarnya Alvara terlanjur peduli dan menyayangi adik-adik manusia nya. Benar jika keputusannya tidak karena kematian Solar dan Ice diakibatkan dari 3 pimpinan yang merupakan sesiapa yang merupakan perebut planet mereka. Tetapi Agra yakin, kejadian itu sangat berhasil memukul telak mental Alvara, hal yang tidak terlihat mata telanjang, tetapi begitu memiliki pengaruh.

"Lagi pula, Sudah seharusnya aku tidak peduli tentang mereka. Kami berbeda. Tak seharusnya bersatu atau terkait."

Agra menatap Alvara sedikit khawatir, "Kamu benar, Kalian berbeda dari sisi manapun." Ah, Agra menyesal mengatakan kalimat itu. Jelas sekali Alvara terpukul dengan kalimat yang keluar dari mulutnya. Bagaimanapun, Alvara memang ... terlanjur peduli dan menyayangi manusia-manusia itu. Agra mengepalkan tangannya.

"Benar, sejak awal mereka terlahir untuk menjadi pahlawan dengan hati lembut nan hangat. Sedangkan aku terlahir untuk membunuh siapapun lawanku."

Alvara, atau siapapun nama aslinya, Ia adalah pewaris sah planet nya. Dia adalah calon terkuat pemimpin planet kelahiran setelah Sang Ibu lebih memilih bumi dan Sang Kakek yang percaya pada kemampuannya dan mengabaikan darah manusia yang ikut mengalir deras di setiap inci bagian tubuhnya.

Dia adalah Sang Putri Mahkota.





.
.
.



Hai Guys, masih adakah yang baca book ini?
Wkwkwk, hehehe.
Im so sorry udah lama banget ng lanjut. Udah lama banget punya rencana lanjutin, udah punya draf² panjang. Tapi aku sering merasa kurang, jadi draf nya aku simpen dan yeah, aku bahkan masih ragu buat lanjut atau tidak.

Sorry buat ketidakpastiannya. But, i wanna know, kalian mau lanjut atau memang udah cukup di part 'pemakaman' terakhir?

Kakak Kami yang Berbeda 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang