To the End: 02

32 3 0
                                        

.
.
.

Maka, hari itu tiba. Pasukan yang beranggota tak sampai sepuluh nyawa akhirnya melakukan teleportasi super menuju planet mereka. Wajah serius dengan zirah khas berwarna hitam-ungu tampak mantap melangkah pada pola ungu membentuk lingkaran yang cukup besar.

"Kalian siap?" Tanya Alvara tegas.

"Aku selalu siap, Ra!" Ujar Jay dengan semangat. Ia tampak merenggangkan badan dan sedikit berlompat di tempat. Dia terlalu bersemangat, pikir Ryza dan Agra.

"Aku siap," Ucap Zau dengan bulu-bulu elang dis sekitar tangannya. Sedikit informasi jika Zau adalah perempuan, satu-satunya dari pasukan yang bisa menjadi hewan bayang sepenuhnya.

"Aku siap," Ryza dan Agra berucap bersamaan. Deron di kursi yang agak jauh dari mereka bersiul kecil, Agra mungkin akan memukulnya jika bukan karena mereka sudah berada di lingkaran teleportasi bayang. Sedang Deron justru tertawa kecil seakan menang karena kali ini Agra tak bisa menegurnya.

".... Aku siap, Tuan Putri." Enver menatap Alvara usai menggenggam belati nya yang sangat tajam. Hal yang berarti Enver sudah tak sabar membalaskan dendam kedua orang tuanya.

Shiiing!!

Suara sabit bayang begitu mempesona diayunkan seorang paling muda dari mereka. "Aku siap, Kak Ra," Mata anak itu pun sudah sedikit mengeluarkan asap ungu. Ah, sudahlah. Aku lelah untuk terus mengatakan mereka sudah begitu siap untuk perang demi planet mereka. Planet Amechrys, planet bayang.

"Deron, kau sudah siapkan apa yang aku minta?" Tanya Alvara yang menjadi pertanyaan terakhir sebelum mereka benar-benar pergi.

Deron memutar kursi kerjanya, duduk bersandar dengan nyaman. "Aku sudah menyiapkan ini seeeejak lamaa," Ucap Deron mendapat tatapn tajam Alvara. "Abaikan. Semua sudah siap, termasuk semua rencana cadangan walau aku tak berharap itu akan digunakan, Yang Mulia."

Alvara tak menjawab selain hembusan napas pelan di tempat. Ia mengeluarkan sesuatu, air yang kemudian diteteskan tepat di lingkaran mereka berkumpul. Lingkaran bereaksi, Kristal-kristal kecil transparan yang sedikit mengeluarkan warna ungu pastel perlahan.

"... Aku berharap Kita masih bisa bertemu lagi, Deron."

Deron berdiri dari tempatnya, cahaya membungkus semua yang berada di lingkaran. Dia membungkuk 90° sampai kemudian semua temannya menghilang dari ruangan tersebut. Ia masih membungkuk, hingga kemudian setetes air jatuh entah dari mana. Deron mengusap pipinya sebelum mengambil posisi tegak dan kembali ke alat canggih di depannya.

"Tuhan, Tuhan, Tuhan, jika memang Engkau ada seperti apa yang terus Tuan Putri katakan, jika memang Kau memang benar-benar mengetahui segalanya, bantulah Kami. Selamatkan mereka. Bukankah kebenaran dan kebaikan akan selalu menang? Mereka... mereka bukan makhluk jahat seperti apa yang sejarah mungkin akan tulis... "

■ Kau akhirnya percaya pada Tuhan?

".... Bisakah Kau diam saat aku benar-benar tidak ingin kau jawab, Amet?"

■ Maaf, hanya saja jika Tuan Putri ada disini, mungkin beliaulah yang paling terkejut.

"Kau teknologi yang agak menyebalkan, fokuslah pada mereka. Mereka sekarang sudah ada di Amechrys. Kita harus fokus."

■ Kau selalu saja seperti ini, tidak bisakah kita lebih sering membahas tentang dirimu?

"Hei. Kau ini ciptaan siapa? Turuti saja ucapanku." Deron sedikit menghardik, benar-benar mengubah topik.

■ Kalau mengabaikan perasaanmu yang takut dan cemas seperti ini juga tidak baik lho~ xixixixixi

"DIIAAAAM!!!" Oke, Deron menyesal karena mengkoding sistemnya mirip seperti kakak dan adiknya yang doyan sekali menggodanya. "Suara tawamu menyebalkan!"

■ Kau lebih menyebalkan, Deron.

Deron menekan tombol mute dengan urat yang terlihat menonjol. Dia mengambil minuman dengan es untuk mendinginkan pikiran dan hatinya.

"Hahh, ini lebih baik." Ucapnya setelah meneguk minumannya.

.
.
.

I'm just in the mood to publish, but im so sorry 'cause Boboiboy been absent for some time now.

With love-Deararya aka. Zi-fire07 :))

Kakak Kami yang Berbeda 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang