•••

•••
• ××××《◇》×××× •
Esok hari, Gempa seperti biasa ingin membantu Kakeknya untuk memasak. Kali ini Taufan juga ikut, kebetulan saja, Taufan sedang ingin katanya. "Tok, ini apa?" Tanya Gempa. Tadinya hendak mencari wadah untuk jahe atas permintaan Tok Aba.
"Oh, kotak kakak kalian. Itu buat dia bikin ramuan atau apalah, minuman? Herbal.."
Gempa berohria, kemudian menurunkan kotak dengan sandi rumit itu. Mengambil toples, lalu kembali menjalankan hari dengan tenang walau masih ada kehebohan dari Trio Trouble Maker.
Ya, Itu yang seharusnya terjadi.
***
"NGGAK!! BOHONG!!! NGGAK MUNGKIN !!BOHONG!! NGGAK MUNGKIN!!!"
"Blaze, ini nggak bohong!"
"PLEASE FANG!! JANGAN KAYAK GINI!!! KAK ALVARA NGGAK MUNGKIN-" Tubuh Blaze oleng, tiba-tiba jatuh, beruntung di belakangnya ada sofa.
"Blaze?!" Serunya khawatir, namun tanganya langsung di tepis keras oleh Blaze. Bahkan tangan kanannya sedikit meleleh. Blaze juga tampak tidak tenang.
Baru beberapa waktu lalu Fang datang, iya, datang dengan mata yang sudah bengkak. Setelahnya bertamu, mengetuk pintu.
Tak beberapa lama, suasana yang awalnya tampak tenang seperti biasa berubah menjadi seperti ini. Tok Aba sudah menangis sejak tadi, Gempa dan Taufan yang bersama Ton Aba di dapur tadinya mencoba menenangkan, Blaze yang tak terima, beberapa orang masih saja tidak faham dengan semua ucapan Fang.
"Da-dari mana... kau tau?" Tanya Thorn dengan badan gemetar.
"Sebulan lalu, Kapten Eita dinyatakan hilang ketika sedang menjalankan misi-"
"HANYA HILANGKAN?!!" Teriak Thorn menyela cepat. Solar menepuk pundak Thorn pelan, di elusnya berharap Thorn bisa lebih tenang.
"Komender mengirim tim pelacak. Lalu menghubungi Kapten Zan dan Kapten Aisen, Katanya Kapten Eita mengorbankan diri agar kelompoknya selamat ketika-"
"NGGAK!! BOHONG!!! KAK ALVARA, KAKAK ALVARA NGGAK MUNGKIN TEWAS !!! KAKAK NGGAK SELEMAH ITU!!!" Thorn berteriak, menangis kencang tak terima.
"Thorn, udah Thorn." Ucap Solar berusaha menenangkan. Walaupun dirinya sendiri sedang menahan diri. Tubuhnya tiba-tiba panas dingin.
"Misi apa?" Tanya Halilintar, tentu itu sangat aneh jika di tanyakan saat ini, namun Fang berusaha menjawab dengan sabar.
"Menghalang sekelompok Alien yang hendak menyerang Planet tempat Power sphera di lindungi."
"Kita juga di sanakan ketika misi itu?"
"Pencegahan, menghalangi pasukan dengan berbagai kelebihan dalam perebutan dan menguasai planet sengaja di lakukan dengan jarak yang sangat jauh."
Tentu saja, jarak itu sama seperti jarak matahari ke saturnus. Dan mungkin bisa jadi lebih. Jika terlalu dekat dengan lokasi, akan sulit juga untuk melindungi semua yang berada di sana.
"Jadi, karena itu waktu kita kesana semua Powers sphera langsung di efakuasi? Dan tempat itu benar-benar hendak di kosongkan?"
"Sekarang tempat itu sudah aman. Setelah Kapten Eita melakukan tindakan tersebut, dua hari setelahnya pasukan lawan mundur. Lebih cepat di banding perkiraan."
Entah apa yang di fikirkan Halilintar sampai bertanya seperti itu di keadaan seperti ini, namun setidaknya karena itu semua orang di sana mengetahui cerita di balik itu semua.
Setelahnya, Fang mengatakan TAPOPS mengadakan upacara penghormatan untuk anggota TAPOPS yang telah gugur. Tentu salah satunya adalah Alvara.
Terserah mereka jika mengikuti hal tersebut atau tidak. Tentunya, upacara itu sedikit tertutup karena anggota penting TAPOPS akan menghadiri ini langsung.
"Jika kalian ikut, katakan padaku. Akan ada kursi khusus untuk kalian."
Mungkin itu adalah ucapan terakhir sebelum akhirnya Fang pergi. Kemana? Ia akan langsung kembali ke TAPOPS. Kapal angkasa Kapten Kaizo langsung membawanya pergi dengan kecepatan cahaya, menjauh dari Bumi.
Kaizo menepuk pundak Fang, adiknya itu membalas dengan tatapan yang masih saja bengkak. "Kapten..."
"Mereka hanya perlu waktu, sama sepertimu."
Apa ini sudah selesai? Sungguh sudah selesai?
Jika itu benar, Harusnya aku bisa tenang sekarang.
Tapi kenapa begitu banyak yang ku fikirkan? Bagaimana dengan ketujuh Boboiboy? Apa mereka akan menerima ini? Bagaimana dengan mereka berenam? Apa mereka akan baik-baik saja tanpa diriku? Oh- aku harap mereka memiliki kontrol emosi baik sekarang. Bagaimana dengan Zi-fire? Apa dirinya akan baik-baik saja? Tok Aba apa kabar ya? Lagi ngapain?
Kakiku sakit, sepertinyap darah ku banyak keluar. Tempat ini sangat gelap sekarang.
Reruntuhan ini terlalu berat.
Aku bahkan masih belum bertemu Papa, belum juga membalaskan dendam Mama, belum juga membebaskan Kakek, apakah kerajaan itu akan baik-baik saja? Aku mulai khawatir, sungguh.
Kenapa? Kenapa Engkau begitu jahat padaku Tuhan? Memberikan semua fikiran ini ketika diriku akan menemui-Mu? Memberi tau betapa banyak hal yang masih belum ku tuntaskan ketika hendak berjumpa dengan-Mu?
Ah, aku bisa merasakan sesuatu, apa itu malaikat yang hendak menjemputku?
End?
KAMU SEDANG MEMBACA
Kakak Kami yang Berbeda 2
AdventureHei, masih ingat dengan Kakak BoEl? Yup. Kali ini mereka kembali lagi dengan kelanjutan cerita baru. Mereka adalah sosok pahlawan, Setelah beberapa waktu 'berlibur', tentu mereka harus kembali menjalankan kewajiban yang sudah menunggu. Tak hanya B...
