28. Sampai Di sini

5 0 0
                                        

Hai!
Selamat datang kembali
Gimana perasaannya?
Jangan lupa vote dan komen, yah
Happy Reading 🫶🏻

888

888

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

27. Sampai Di sini

***
Tidak ada kata terlambat.
***

"Pah," Abang Gegel mengajak Papa Gading untuk mengobrol serius di kamar Papa Gading.

"Kenapa kamu ngajak Papa ngobrol serius di sini?"

"Ini gak boleh sampe didengar oleh orang luar, Pa!"

"Mana ada orang luar." jengah Papa Gading.

Abang Gegel menyipitkan matanya. "Abang mau bahas Langkir."

Yang tadinya Papa Gading menganggap remeh obrolan Abang Gegel jadi menyamankan duduknya agar bisa dibicarakan secara seksama. Apapun urusan tentang Langkir, kali ini Papa Gading tidak akan mengabaikannya. Papa Gading memangut patuh. "Papa kira mau bicarain Mpok Imah."

"Mpok Imah bukan orang luar!" benar Abang Gegel.

"Bukannya dia bukan keluarga kita?"

"DIA KELUARGA." Abang Gegel mengatur napas untuk kembali ke topik awal. "Ya udah, nggak usah berantem, Pa. Ayo langsung bicarain aja."

"Kenapa sama Langkir?" Papa Gading langsung menyiapkan telinga memperhatikan.

"Kemarin Abang di bawah garasi, biasa mau cabut."

"Iya, terus?"

"Di sana Abang ketemu sama teman-teman, Langkir. Dari situ, Abang tahu satu fakta yang bahkan di luar jangkauan Papa."

"Satu fakta apa?" penasaran Papa Gading mengajukan wajahnya.

Abang Gegel mengernyitkan dahi. Ia menyadari ada satu hal yang tidak beres. "Bentar, Papa nggak tahu?"

"Emang apa, Bang?"

"Bukannya Papa selama ini selalu ngawasin, Langkir?"

Papa Gading menelan salvilanya berat. Benar selama ini ia mengawasi Langkir. Tapi setelah Papa Gading sadar bahwa Langkir tidak bersalah, Papa Gading mulai menghentikan aktivitasnya.

"Dia juga punya privasi yang seharusnya Papa nggak tahu. Langkir juga anak Papa, jadi Papa mau kasih kesempatan yang sama kayak kamu."

"Itu lebih baik, Pa."

"Terus tadi kamu mau ngomong apa, Bang?"

Abang Gegel mulai menyiapkan mentalnya. Ia mencoba untuk tidak terlalu mengejutkan Papa Gading. "Sebenarnya, Pa. Selama ini Langkir punya tradisi sebelum berangkat lomba OSN."

Papa Gading menaikan satu alisnya. "Satu tradisi apa, Bang?"

"Langkir selama ini selalu menemui Mama sehari sebelum lomba di mulai."

LANGKIR (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang