30. Bertengkar

2 1 0
                                        

Gimana kabarnya?
Semoga baik saja
Jangan lupa vote dan komen
Happy Reading

888

888

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

30. Bertengkar


***

"Apapun itu, tetap semangat yah!"

***



"LANGKIR!" teriak Kai membanting pintu kamar Bulat. "Lo di mana?!"

Bulat yang jadi empunya merasa tersinggung pintu berharganya diperlakukan kasar. Selain itu, semua orang di dalam terlonjak jantungan. "Woy, Kai! Kasihan pintu gue main lo banting gitu aja. Rusak ganti rugi, lo!"

Kai kepalang kesal. "MURAH INI! GUE TF HABIS INI."

Bulat tercengang. "Mau makasih tapi udah kebelet sebel gue."

"Lo kenapa, Kai?" Valas maju ke depan.

Semua orang masih belum tahu pertikaian antara Langkir dan Kai. Langkir menganggap itu bukan masalah yang serius untuk didiskusikan bersama.

"Gue mau bicara dua mata sama, Langkir." pinta Kai menautkan alis.

Melihat gestur Kai yang tidak biasa membuat Galih menelan salvilanya keras. Ada yang tidak beres. "Sebentar, kalian berdua berantem? Kenapa suasananya jadi tegang gini."

"Ngapain lo mau ngomong berdua sama Langkir? Nanti yang ketiga setan, loh!" timbal Sena menakuti.

"Lo nggak usah bercanda dulu, Sen." senggol Bulat memakan keripik kentangnya. "Nggak tahu tempat lo!"

"Galih bilang tegang, gue cairin ini."

"Nggak usah banyak omong kalian!" seru Kai. Ia sama sekali tidak ada waktu untuk bersabar. Amarahnya meluap. "KELUAR!"

"Keluar dulu," lembut Langkir mendorong mereka semua keluar dari kamar Bulat. "Nanti kalo udah selesai kalian boleh masuk."

Valas merasa was-was, sembari dia didorong Langkir keluar, Valas memperingatkan. "Nggak ada yang namanya berantem. Jangan sok jagoan kalian di dalam. Selesaikan masalah dengan baik."

"Gue ngrasa aneh," bingung Bulat, merasa ada sesuatu yang janggal. "Perasaan ini kamar gue alias rumah gue, kenapa gue diusir, yah?"

Langkir mendorong mereka keluar. "Ada sesuatu yang harus gue bahas sama, Kai."

"Sesuatu apa-" tanya Galih.

Belum juga selesai, Langkir sudah membalikan badan tidak menghiraukan. Sengaja menutup pintu agar tidak ada satu pun yang ikut campur.

"Kenapa, Kai?" tanya Langkir berada persis di depan Kai. Ia sebisa mungkin mengontrol emosinya dengan baik, kalian lebih tahu! Langkir dengan emosinya tidaklah seimbang.

LANGKIR (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang