Nikotin di Bibir Cantikmu

17 5 2
                                        


Mereka sampai di rumah Mentari, memang sunyi dan sepi, resiko tinggal di perumahan atas bukit ya begini. Pantas saja gadis itu minta di temani, suara yang dominan di lingkungannya malah suara jangkrik bukan manusia.

Raya turun dari motor Laut dengan tenang, syukur-syukur di jalan Laut tidak banyak bicara, lebih tepatnya karna Raya sendiri yang tidak terlalu meresponnya. Raya ingin menghindar, makanya ia langsung lari ke samping Bentala ketika gadis itu baru saja di lepaskan helmnya oleh Cakrawala.

"Buset... nabrak nanti Yaaa!"

Raya hanya memperlihatkan deretan giginya yang rapih, lalu langsung menggandeng tangan Bentala dan menyusul Mentari yang sudah membuka pintu rumahnya.

"Anggap aja rumah sendiri ya guys. Kamar tamu kosong, yang cowo tidur situ aja gapapa, atau tidur depan tv sambil nonton juga boleh, yang cewe tidur di kamar bareng gue, gue takut!" kata Mentari panjang lebar.

Semuanya langsung menurut dan membaur dengan cepat di rumah ini. Mentari berjalan ke dapur, menyiapkan teman-temannya suguhan berupa mie instan sesuai request mereka, Rehan tentu saja membantunya. Cakrawala lagi sudah menguasai area depan TV, duduk di sofa dan paha-nya menjadi bantalan untuk Bentala yang sudah merebahkan diri dan menutup mata, entah lelah entah mengantuk. Laut duduk di teras rumah, menikmati satu puntung rokok yang entah sudah 'satu' ke berapa hari ini.

Sementara Raya, saat baru saja memasuki ruang tamu, ia langsung terpaku pada lemari buku, berdiri penasaran menatap tiap judulnya. Ia bahkan tidak tahu Mentari tadi bicara apa.

"Cantik Itu Luka, omaygat udah lama pengen baca!" Ia kegirangan hingga menjerit pelan. "Harus baca sih!"

Raya dengan semakin masuk lebih dalam ke rumah Mentari, mendapati pemandangan Cakrawala dan Bentala di depan tv, Raya tidak hiraukan hingga ia terus saja berjalan hingga tiba di dapur, Mentari sudah selesai merebus air.

"Riii, boleh baca buku Cantik itu Luka punya lo nggak???" tanya Raya segera.

Mentari menoleh sebentar, "Ya ampun, baca aja Aya, gue udah bilang tadi anggap rumah sendiri."

"Omaygat makasih cantik!"

Raya semakin girang, ia berjalan cepat menuju ruang tamu. "Akhirnya bisa baca juga setelah lama nyari yang free!"

Kegirangannya tidak bertahan lama, sebab saat tiba di ruang tamu, langkahnya terhenti dan langsung terpaku di tempat.

Laut duduk di sana, dan memegang novel incarannya.

Merasa ada yang datang, Laut mengangkat kepala, dan melihat Raya juga.

Mereka bertatapan lama, ada perasaan aneh di dada Raya juga Laut. Rasanya campur aduk, hingga bingung harus di deskripsikan dengan kata apa.

"E-eh, mau baca juga, Ray?" tanya Laut yang sudah tersadar duluan.

Raya juga tersadar dan mengangguk pelan. Laut berjalan dua langkah, menyodorkan buku bersampul merah tua itu kepada Raya. Setelahnya, ia mundur dan duduk di kursi seberang Raya. Jaraknya tidak banyak, 5 langkah-pun tidak, tapi rasanya ada tembok besar, tinggi dan dingin diantara mereka.

Satu lembar selesai Raya baca, tapi tidak ada yang tersimpan di otaknya. Rasanya Raya hanya membaca kosong dan hilang, sementara otaknya memutar kegelisahan. Gelisah ketika berada di dekat Laut, ada banyak perasaan yang tercampur aduk.

Laut sendiri tidak beda jauh, ia tidak berani mengalihkan fokusnya pada buku-buku tidak bersalah itu, yang Laut lakukan hanya menatap ujung kaki Raya dan kemudian bergelut dengan pikirannya.

Maaf. Satu kata yang terus berputar di pikiran Laut.

Tentang bagaimana cara yang layak untuk memohon maaf pada Raya, bagaimana cara agar ia tidak tersinggung dengan permintaan maaf tersebut, dan sedikit harapan maaf itu bisa mengembalikan mereka.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 4 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Lautan RayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang