• Destiny
Memasuki bulan ketujuh, hormon kehamilan Jennie benar-benar membuat seisi rumah gempar. Jika biasanya Jennie adalah wanita mandiri yang elegan, kini ia menjadi sangat manja dan tidak bisa lepas dari Taehyung barang sedetik pun. Fenomena "clinging" ini menjadi tantangan baru bagi Kim Group.
Pagi itu, Taehyung sudah rapi dengan setelan jas hitamnya, siap untuk rapat pemegang saham tahunan. Namun, saat ia hendak melangkah keluar kamar, ujung jasnya ditarik oleh tangan kecil yang gemetar.
"Jangan pergi..." gumam Jennie yang masih terbungkus selimut, matanya berkaca-kaca. "Anak kita bilang merindukan Daddy-nya. Aku juga."
Taehyung berlutut di tepi ranjang, mencium kening Jennie. "Hanya tiga jam, Sayang. Aku janji akan cepat pulang."
"Tiga jam itu seribu tahun bagiku dan anak kita!" Jennie mulai terisak pelan.
Akhirnya, Taehyung tidak punya pilihan. Setengah jam kemudian, seluruh staf di lobi Kim Group ternganga melihat CEO mereka yang dingin berjalan masuk sambil merangkul istrinya yang mengenakan dress hamil longgar dan sandal bulu yang sangat nyaman. Taehyung bahkan membawakan tas jinjing Jennie yang berisi camilan.
Selama rapat berlangsung, Jennie duduk di kursi kebesaran Taehyung di kepala meja, sementara Taehyung rela menarik kursi tambahan di sampingnya hanya untuk menggenggam tangan Jennie di bawah meja. Para investor hanya bisa saling lirik saat melihat sang CEO yang biasanya kejam, tiba-tiba memotongkan buah pir untuk istrinya di tengah presentasi laporan keuangan.
Di bulan kedelapan, Hyunsung datang berkunjung dengan niat baik: membantu merakit boks bayi tercanggih yang baru tiba dari Jerman. Ia ingin membuktikan bahwa ia adalah paman yang bisa diandalkan.
"Kak, biarkan aku yang mengerjakannya. Hyung pasti lelah setelah pulang kantor," ucap Hyunsung penuh percaya diri sambil membuka kotak besar berisi ratusan baut kecil.
Dua jam berlalu. Yeonjun dan Ruby duduk di lantai, menatap paman mereka dengan tatapan sangsi.
"Uncle... kenapa rodanya ada di atas?" tanya Ruby polos sambil menunjuk boks bayi yang nampak miring ke kiri.
"Ini... ini desain futuristik, Ruby-ah," jawab Hyunsung sambil menyeka keringat di dahinya, padahal ia sedang bingung membaca buku instruksi berbahasa Jerman.
Taehyung yang baru pulang langsung memijat pelipisnya melihat hasil kerja adik iparnya. "Hyunsung, kau memasang penyangga kaki sebagai pegangan tangan. Jika ponakanmu tidur di sana, dia akan meluncur keluar."
"Maaf, Hyung! Bautnya terlalu banyak!" Hyunsung akhirnya menyerah, dan malam itu berakhir dengan Taehyung yang harus membongkar ulang semuanya sementara Jennie tertawa terpingkal-pingkal sambil menyuapi Ruby es krim.
--- Ruby memiliki ritual baru setiap sore. Ia akan mengatur pesta teh mini di karpet ruang tengah, lengkap dengan cangkir plastik dan kue-kue kecil.
"Ini untuk Kakak Ruby, ini untuk Mommy, dan ini untuk Adik." ucap Ruby sambil menempelkan cangkir plastik kosong ke perut Jennie. "Ayo diminum, Adik! Rasanya seperti stroberi awan!"
Tiba-tiba perut Jennie bergejolak hebat, membentuk gelombang kecil. Seonghyeon nampak sangat antusias merespons suara kakaknya.
"Mommy! Dia minum tehnya! Lihat, dia menari!" teriak Ruby girang.
Yeonjun yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya diam-diam mendekat, membawa sebuah buku ensiklopedia. "Ruby, teh plastik itu tidak sehat. Biarkan aku membacakannya tentang tata surya saja agar dia tumbuh menjadi astronot."
"Tidak! Dia mau jadi penari!" balas Ruby tak mau kalah.
Jennie hanya bisa bersandar lemas namun bahagia. "Taehyung, anak-anakmu sudah mulai memperebutkan masa depan adik mereka, padahal dia bahkan belum melihat lampu kamar ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Destiny | VJ
RomanceOne-night stand dengan seorang pria misterius membuatnya terusir dari keluarganya sendiri dan melarikan diri saat hamil ke amerika. Bertahun-tahun kemudian, dia kembali dengan seorang anak laki-laki menggemaskan yang impian utama anak nya adalah men...
