45 shadows behind laughter

91 12 0
                                        







Kekejaman Irene meninggalkan luka yang tidak terlihat pada fisik, namun sangat nyata di dalam ingatan Yeonjun dan Ruby. Sebagai orang tua yang pernah melewati berbagai badai, Taehyung dan Jennie sadar bahwa kemewahan tidak bisa menyembuhkan luka batin.

​Satu minggu setelah kembali dari pulau, suasana di kediaman Kim tidak lagi sama. Ruby, yang biasanya ceria dan cerewet, kini sering terbangun tengah malam sambil berteriak histeris, mencari tangan Taehyung. Sementara Yeonjun menjadi sangat pendiam dan menolak untuk keluar dari kamarnya, bahkan untuk sekadar makan bersama.

​Taehyung menemukan Yeonjun sedang duduk di pojok kamar, menatap kosong ke jendela. "Yeonjun-ah, kau tidak ingin mencoba robot baru yang dikirim Paman Hyunsung?"

​Yeonjun menoleh dengan mata berkaca-kaca. "Dad... aku gagal. Aku kakak yang buruk. Aku tidak bisa melawan orang-orang besar itu saat mereka menyeret Ruby."

​Hati Taehyung mencelos. Ia duduk di lantai di samping putranya, merangkul bahu kecil itu yang nampak bergetar. "Kau adalah pahlawan, Yeonjun. Kau bertahan demi adikmu. Itu adalah keberanian terbesar yang pernah Daddy lihat."

​Jennie memutuskan untuk memanggil psikolog anak terbaik, namun ia meminta sesi terapi dilakukan di rumah agar anak-anak merasa aman. Atas saran psikolog, Jennie dan Taehyung menyulap taman belakang menjadi "Taman Ekspresi".

​Di sana, tidak ada aturan. Mereka disediakan kanvas raksasa, tanah liat, dan alat musik. Jisoo dan Umji ikut membantu menciptakan suasana yang menyenangkan.
​"Ruby-ah, lihat! Bibi Jisoo menggambar naga yang sedang memakai kacamata hitam!" seru Jisoo mencoba memancing tawa Ruby.

​Perlahan, Ruby mulai mengambil kuas. Ia tidak menggambar bunga, melainkan coretan hitam yang pekat. Jennie mendekat, memeluk Ruby dari samping. "Ceritakan pada Mommy, apa yang sedang dirasakan naga ini?"

​"Naga ini takut, Mommy. Dia takut air laut karena sangat gelap," bisik Ruby pelan.

​"Kalau begitu, ayo kita beri naga ini lampu senter yang sangat terang," sahut Jennie lembut sambil membantu Ruby menimpakan warna kuning cerah di atas coretan hitam itu. "Lampu ini adalah Daddy, Mommy, dan Kakak Yeonjun. Kami akan selalu ada di kegelapan itu untukmu."

​Untuk Yeonjun, Taehyung mengambil pendekatan yang berbeda. Ia membawa Yeonjun ke sasana bela diri pribadi di rumah. Bukan untuk mengajarinya kekerasan, tapi untuk mengembalikan kepercayaan diri putranya.
​"Kau merasa lemah karena kau tidak tahu cara melindungi dirimu, Yeonjun. Mari kita belajar bagaimana menjadi kuat, bukan untuk menyakiti, tapi untuk memastikan hal ini tidak terjadi lagi," ucap Taehyung tegas namun hangat.

​Taehyung melatih Yeonjun secara perlahan, memberikan pujian pada setiap kemajuan kecil. Di sela latihan, mereka sering duduk bersama, berbicara dari pria ke pria. Taehyung menceritakan masa lalunya yang juga penuh rasa takut, membuat Yeonjun sadar bahwa bahkan pria sehebat Daddy-nya pun pernah merasa rentan.

​Jennie merasa mereka butuh suasana baru yang jauh dari kemewahan Seoul. Mereka pergi ke sebuah desa kecil di pegunungan, menginap di rumah kayu sederhana milik keluarga Tuan park
​Di sana, tidak ada pengawal yang terlihat mencolok. Mereka hanya keluarga biasa. Taeyong dan Mina sesekali berkunjung membawa Leo untuk bermain bersama.

​Melihat Yeonjun mulai tertawa saat mengejar ayam di halaman, dan Ruby yang asyik memetik buah beri bersama Leo, Jennie menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung. "Kita berhasil, Taehyung. Mereka mulai kembali."

​"Trauma tidak hilang dalam semalam, Jennie. Tapi kita akan membangun kenangan baru yang lebih indah untuk menimbun kenangan buruk itu," balas Taehyung.

​Malam terakhir di desa, mereka berlima (termasuk si kecil Seonghyeon) duduk melingkar di bawah pohon ek besar. Taehyung mengeluarkan lima gelang tali sederhana yang ia buat bersama Umji.
​"Ini adalah gelang janji keluarga Kim," ucap Taehyung sambil memakaikannya di pergelangan tangan masing-masing. "Setiap kali kalian merasa takut, lihat gelang ini. Ini adalah tanda bahwa kita saling terikat. Tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi."

Destiny | VJTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang