XVII

118 18 5
                                        

Gue ngambil beberapa baju yang ada di lantai bekas tadi dipilah-pilih dan dimasukin ke lemari lagi.

Yuyur, kalo gue pikir lebih jauh, kayaknya sih om masih ada perasaan sama mata istrinya deh?

Kalo misalnya engga, harusnya bisa bertemen aja kan tanpa ngelibatin perasaan?

Apalagi mereka udah ada anak.

"Yaudahlah, bukan urusan gue"

Gue matiin lampu dan lanjut rebahan. Natap langit-langit kamar yang sekarang ada motif bintang bergerak. Sih om yang masang, katanya biar gue gak kangen temen gue(?)

Yuyur, maksudnya, gue itu bintang atau bulan?

"EH???"

Gue syok karena tiba-tiba ranjang bergerak, nengok ke samping dan mendapati

Gue syok karena tiba-tiba ranjang bergerak, nengok ke samping dan mendapati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Kenapa?"

Dia nanya kayak gitu ke gue, di tengah remang-remang, gue nanya balik, "kenapa apanya?"

"Ya kamu kenapa? Rumah ini kan punya saya, mau saya tidur di manapun, hak saya. Kalo kamu mau punya hak juga, nikahin saya"

"Kok nikahin om? Harusnya kan om yang nikahin saya"

BIP

Gue ngeliat hp yang ada ditangan dia, sialan di rekam.

"Omongan yang udah masuk ke hp saya, gak akan bisa kamu tarik lagi. Setelah saya kelarin urusan di pengadilan, saya langsung nikahin kamu"

"Siapa yang mau—"

"Ststts"

Omongan gue di potong, dan berakhir dia meluk gue. Posisi awalnya hadap-hadapan. Kebayang kan, semua aset gue kesentuh.

"Ternyata, kamu gak setol itu, lebih ke aspal yang ada polisi tidur"

APA SIH

HARGA DIRI GUE.

Gue dorong badan dia, "lepasin ga!!!"

"Engga"

"Lepasin!!!"

"Sutttsss" bisik nya sambil ngelus punggung gue, "apa yang kamu khawatirin sekarang?"

Yang awalnya ngebrontak, gue diem karena mikir. Cukup lama tuh gue diem, seiring dengan usapan tangan dia yang makin intens.

Karena baju tidur gue yang lumayan tipis, jadinya bisa merasakan jari jemari—

"Kamu gak usah khawatir soal apapun, saya udah gak ada perasaan sama sekali ke dia, saya lebih ke menghargai dia karena dia itu ibu dari anak-anak saya"

Ibu dari anak-anak?

Ya walaupun faktanya memang itu, tapi tetep aja bikin hati gue menciut dikit.

"Nantinya, status kamu gak cuma jadi ibu dari anak-anak saya, tapi jadi istri saya juga, oke?"

Tau ga, tanpa sadar gue ngangguk. Dih? Keliatan banget maunya, ya?

"Sebutannya jadi irts dong?"

Alis gue mengerut dan agak sedikit mendanga untuk ngeliat wajah dia di tengah kegelapan, karena awalnya yang bisa gue tatap cuma dada bidang dia yang terbalut kaus hitam.

"Iya, istri rumah tangga saya"

CUP

Om ; Park SunghoonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang