Malam ini, gue benar-benar begadang karna ngejagain nih bayi kembar.
Masyalah...
Mereka kerasukan badarawuhi—nangis terus. Sampai disatu momen, sih bima—maksudnya mereka berdua bengong dan tidur.
"Cel, saya capek"
Om Sunghoon ngeluh pelan sembari nyender di bahu depan gue.
Karna gue udah capek juga, jadinya gue cuma diem. Tanpa sadar, gue ikutan nyender ke kepala dia.
Beginilah pemandangannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Indah, bukan?
—gue maksudnya.
"Lagian anak siapa sih om? Tetangga?"
"Anak saya"
Gue syok. Mundur, dan bikin dia ngusruk jatuh ke—
"Empuk juga, saya kira keras kayak triplek"
"Mon maap, ya" gue mundurin badan, tapi tangan dia ngelingker erat di pinggang gue, jadinya muka nih om-om tetap nempel di dada gue.
"Gak usah minta maaf, saya gak pernah mandang cewek dari fisik kok. Tapi kalau bisa milih, ya maunya yang gede—"
"JANGAN.BEGITU!"
"Lah kenapa? Salah?"
"Menurut om?!" gue masih berusaha buat ngedorong muka dia. Gila aja, bahasnya dada—
"Enggak salah, kan saya bahas yang gede tentang otaknya"
Gue masang muka masam, GAK TAU LAH, MENDING TURU DARIPADA NGELADENIN DIA.
"OEKKKKKKKKKKKK"
Mereka berdua nangis.
"Om"
Gue frutasi. Banget.
"Kayaknya mereka laper, deh"
Kata sih om sembari ngeliat ke arah mereka yang ada di dalam box bayi.
"Yaudah bikinin susu"
"Gak, ah" tolak gue. GUE SAMSEK GAK BISA.
"YANG BENER—ommmm"
Tuh bayi makin kenceng lagi nangisnya. Gara-gara teriakan gue. Alhasil gue pelanin suara.
"Janji dulu sama saya" dia ngeluarin jari telunjuk ke depan gue, "kalau gak mau, saya gak bikinin mereka susu"
"Ckkk, iya" gue menyatukan jari telunjuk gue, saking frustasinya, bahkan gue gak berfikir kalau sih om bisa bikin janji yang aneh-aneh.
Tapi semoga aja engga—
"OKE, pokoknya sehabis dua bayi itu tidur, kamu harus nenenin saya! Soalnya saya iri jantung ngeliat mereka ngedot susu terus dari tadi"
Itu janjinya. Dah dipastikan, gue merinding sampai ngegelinding.
